Skor PISA Indonesia Rendah, Perlukah Lompatan Teknologi Pendidikan?
Hasil studi internasional terbaru kembali menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang menggembirakan dalam peta pendidikan global. Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dir...
Hasil studi internasional terbaru kembali menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang menggembirakan dalam peta pendidikan global. Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkap bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia hanya mencapai skor 359, matematika 366, dan sains 383. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata OECD yang masing-masing berkisar 487, 489, dan 490. Pencapaian tersebut menegaskan bahwa pandemi dan berbagai tantangan struktural masih membayangi mutu pembelajaran nasional.
Kondisi Kemampuan Dasar yang Mengkhawatirkan
Lebih dari sekadar angka, skor PISA mencerminkan proporsi siswa yang belum memenuhi ambang kompetensi dasar. Berdasarkan indikator studi, lebih dari 70 persen peserta didik Indonesia belum mencapai level 2 untuk literasi membaca—titik minimal yang dianggap mampu berfungsi di masyarakat modern. Pada matematika dan sains, kondisi serupa terjadi: hanya 28 persen dan 33 persen siswa yang mampu melampaui ambang tersebut. Mereka yang berada di bawah level ini umumnya kesulitan memahami teks panjang, menyelesaikan soal kontekstual dengan beberapa langkah, atau merancang penyelidikan sederhana. Imbasnya, generasi muda berisiko kehilangan daya saing di tengah ekonomi berbasis pengetahuan.
Mengapa Skor Ini Sulit Meningkat?
Akar persoalan terbentang luas dan saling terkait. Kesenjangan kualitas guru menjadi yang paling krusial: sebagian besar pendidik di daerah terpencil belum mendapatkan pelatihan pedagogi modern dan masih bertumpu pada metode ceramah. Data balai guru menunjukkan hanya 42 persen guru SD yang lolos uji kompetensi literasi numerasi dasar. Dari sisi infrastruktur, sekitar 60 persen sekolah di kawasan timur Indonesia belum memiliki akses internet stabil, dan 1 dari 5 sekolah tidak punya perpustakaan layak. Perubahan kurikulum yang kerap berganti juga menciptakan ketidakpastian, sementara beban administratif menyita waktu pengembangan inovasi. Pandemi memperburuk keadaan: learning loss diperkirakan setara dengan 0,8–1,2 tahun pembelajaran, terutama bagi keluarga prasejahtera.
Peran Teknologi Digital dalam Pembelajaran
Di tengah krisis tersebut, integrasi teknologi sering disebut sebagai jalan pintas. Papan tulis interaktif, konten adaptif berbasis kecerdasan buatan, serta aplikasi gamifikasi mulai diperkenalkan di sejumlah sekolah percontohan. Di beberapa negara, pendekatan ini terbukti mendongkrak motivasi dan pemahaman konsep abstrak—Vietnam dan Estonia mencatat lonjakan skor PISA setelah berinvestasi pada platform belajar digital yang selaras dengan kompetensi abad ke-21. Namun, efektivitas di Indonesia masih dipertanyakan. Tanpa listrik dan internet yang andal, perangkat canggih hanya menjadi pajangan. Sebuah studi di lima kabupaten menemukan bahwa 73 persen papan interaktif yang dipasang tidak digunakan secara optimal karena guru tidak terlatih dan konten digital minim pelokalan. Pengamat pendidikan, Dr. Rina Wijaya, menyatakan bahwa “teknologi adalah alat, bukan solusi; lompatan hanya terjadi bila ia menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung, bukan sekadar proyek pengadaan.”
Jalan Menuju Perbaikan yang Berkelanjutan
Mendorong kenaikan skor PISA memerlukan strategi berlapis. Pertama, rekrutmen dan pendidikan guru harus dirombak agar menghasilkan pendidik yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kedua, pembangunan infrastruktur dasar—listrik, internet, perpustakaan—harus diprioritaskan di wilayah tertinggal sebelum teknologi tinggi digelontorkan. Ketiga, kurikulum perlu difokuskan pada kompetensi inti yang diukur PISA: literasi mendalam, penalaran matematis, dan inkuiri sains. Intervensi dini melalui program literasi keluarga dan numerasi berbasis komunitas juga tak kalah penting, mengingat fondasi belajar terbentuk sejak usia prasekolah. Keempat, mekanisme penilaian siswa harus bergeser dari hafalan menuju pemecahan masalah autentik. Bila seluruh elemen ini bergerak serentak, teknologi dapat menjadi katalis lompatan—bukan sekadar ilusi kemajuan. Pemerintah pusat dan daerah perlu duduk bersama merancang peta jalan yang terukur, dengan sasaran antara berupa peningkatan skor PISA setidaknya 15–20 poin dalam satu dekade. Tanpa komitmen dan eksekusi yang konsisten, hasil studi berikutnya berpotensi kembali mengulang narasi yang sama.
Baca juga:
Comments (0)