Rupiah Ditutup Menguat 0,35 Persen ke Rp18.065 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah mengakhiri pekan dengan catatan positif, ditutup menguat 0,35 persen pada level Rp18.065 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Jumat (10/7) sore. Penguatan ini membalikka...
Nilai tukar rupiah mengakhiri pekan dengan catatan positif, ditutup menguat 0,35 persen pada level Rp18.065 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Jumat (10/7) sore. Penguatan ini membalikkan tren pelemahan sesi sebelumnya dan menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia hari ini, bahkan menjadi mata uang dengan apresiasi tertinggi kedua setelah rupee India di kawasan, mengungguli baht Thailand dan peso Filipina.
Faktor Eksternal dan Domestik Penopang Rupiah
Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 103,8, terkoreksi 0,15 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan memulai siklus pemangkasan suku bunga lebih awal setelah rilis data inflasi konsumen yang menunjukkan moderasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga turun ke 4,28 persen, meredakan tekanan pada aset-aset berdenominasi rupiah. Indeks saham global pun ikut menghijau, mencerminkan risk appetite yang kian tinggi.
Di dalam negeri, surplus neraca perdagangan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pekan ini menjadi katalis positif. Surplus mencapai US$2,36 miliar pada Juni 2024, melanjutkan rekor surplus beruntun sejak Mei 2020. Aliran devisa dari ekspor komoditas unggulan, terutama batu bara dan produk turunan kelapa sawit, menyediakan pasokan dolar yang cukup di pasar domestik. Bank Indonesia (BI) juga dinilai aktif melakukan intervensi di pasar valas guna meredam volatilitas, sejalan dengan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar.
“Penguatan rupiah hari ini merupakan kombinasi dari perbaikan sentimen global dan fundamental domestik yang solid. Pasar mulai memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih agresif, sementara dari internal, data neraca dagang kita memberikan confidence bahwa aliran dolar tetap terjaga,” ujar Ekonom Senior Bank Mandiri Faisal Rachman dalam keterangannya.
Dua Sisi: Peluang Penguatan vs Risiko Pembalikan
Di satu sisi, lintasan penguatan rupiah membuka peluang bagi penurunan biaya impor, terutama bahan baku dan barang modal yang selama ini memberatkan industri manufaktur. Inflasi impor yang melandai dapat menjadi angin segar bagi daya beli masyarakat dan margin korporasi. Namun di sisi lain, pasar tetap dihantui risiko pembalikan arah (capital outflow) jika data ekonomi AS kembali mengejutkan atau ketegangan geopolitik meningkat. Analis teknis mencatat rupiah kini bergerak mendekati level resisten psikologis di Rp18.000. Jika mampu menembus level tersebut, potensi penguatan lanjutan terbuka lebar. Sebaliknya, jika gagal, aksi ambil untung (profit taking) dari pelaku pasar dapat mendorong kembali ke kisaran Rp18.150–Rp18.200.
Pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir juga dipengaruhi oleh posisi tipis kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN)—data per 8 Juli menunjukkan porsi investor asing di SBN hanya 14,2 persen, terendah dalam enam bulan terakhir. Ini menandakan ruang untuk capital inflow masih besar jika persepsi risiko membaik, tetapi sekaligus mengonfirmasi bahwa aliran dana sangat bergantung pada perbaikan kondisi global.
Prospek Pekan Depan dan Strategi Investor
Untuk pekan depan, pasar akan mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2024 yang diproyeksikan tumbuh sekitar 5,0–5,2 persen secara tahunan. Jika realisasi sesuai ekspektasi, fundamental ekonomi domestik yang kuat dapat menjadi penahan bagi rupiah di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli ini diyakini akan memadai untuk menjaga stabilitas. Pelaku pasar juga akan memantau pergerakan harga minyak mentah dunia—patokan Brent terakhir diperdagangkan di US$85,3 per barel, naik tipis 0,4 persen—yang dapat memengaruhi biaya impor migas nasional.
Dengan konfigurasi tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.950–Rp18.200 pada minggu depan. Investor disarankan untuk mengelola eksposur valas secara hati-hati, mengingat likuiditas domestik akan seret seiring dimulainya periode libur sekolah yang mengurangi aktivitas perdagangan. Kendati demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang didukung surplus transaksi berjalan dan cadangan devisa sebesar US$138,4 miliar per akhir Juni tetap menjadi bantalan kokoh bagi rupiah dari goncangan eksternal jangka pendek.
Dengan demikian, rupiah menutup pekan ini di zona positif, menegaskan ketahanan di tengah turbulensi global.
Baca juga:
Comments (0)