Rial Iran Merosot Tajam: Dilema Ekonomi di Balik Dualitas Mata Uang
Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Sentral Iran per 15 April 2025, nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat di pasar informal telah menembus level 650.000 per dolar, mer...
Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Sentral Iran per 15 April 2025, nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat di pasar informal telah menembus level 650.000 per dolar, merosot lebih dari 60% secara year-on-year dibandingkan posisi 400.000 pada April 2024. Pelemahan ini terjadi di tengah inflasi yang mencapai 42% year-on-year serta ketegangan geopolitik yang kembali meningkat. Di tengah turbulensi ini, perbincangan publik kembali menghangat seputar dua unit moneter yang beredar di masyarakat Iran: rial sebagai mata uang resmi dan toman sebagai satuan hitung tradisional.
Potret Makroekonomi Iran: Inflasi Tinggi dan Depresiasi Tukar
Iran terus bergulat dengan tekanan eksternal dan disfungsi internal. Sanksi ekonomi yang membatasi ekspor minyak—tulang punggung fiskal negara—telah menggerus cadangan devisa. Data Bank Dunia menunjukkan cadangan devisa Iran susut menjadi sekitar 85 miliar dolar AS pada akhir 2024 dari puncaknya yang pernah di atas 120 miliar dolar pada 2018. Akibatnya, kemampuan bank sentral untuk mengintervensi pasar valas sangat terbatas. Kesenjangan antara kurs resmi yang dijaga di 42.000 rial per dolar (untuk impor bahan pokok) dan kurs pasar gelap melebihi 15 kali lipat menciptakan distorsi besar.
Di satu sisi, pemerintah mencoba mempertahankan kurs resmi untuk menahan inflasi impor. Di sisi lain, kebijakan ini justru memicu arbitrase dan kelangkaan valas di pasar resmi, mendorong pelaku ekonomi ke pasar paralel. Imbasnya, indeks harga konsumen—yang dirilis oleh Pusat Statistik Iran—pada Maret 2025 mencatat kenaikan harga pangan hingga 55% year-on-year, terutama bahan pokok seperti daging dan susu.
Pro dan Kontra: Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan?
Pelemahan rial tidak melulu bencana. Dalam perspektif ekonomi makro, terdapat dua sisi yang saling bertolak belakang.
Pro: Eksportir nonmigas menikmati keuntungan kompetitif. Produk-produk seperti karpet, pistachio, dan petrokimia olahan menjadi lebih murah di pasar global. Data Kementerian Perdagangan Iran menunjukkan ekspor nonmigas pada kuartal I-2025 naik 18% secara year-on-year dalam volume, meskipun dalam nilai dolar hanya naik tipis. Bagi sektor swasta yang berorientasi ekspor, depresiasi rial ibarat subsidi nilai tukar yang mendongkrak daya saing.
Kontra: Daya beli masyarakat tergerus, kemiskinan melonjak. Penduduk yang mengandalkan pendapatan dalam rial—terutama pekerja formal dengan gaji tetap—melihat upah riil merosot drastis. Survei Lembaga Statistik Iran mencatat upah minimum hanya naik 35% pada 2025, sementara inflasi sudah melebihi 40%. Akibatnya, garis kemiskinan bertambah. Dari sisi neraca keuangan, capital outflow terus berlangsung karena masyarakat kelas atas mengonversi aset ke dolar atau emas untuk menjaga nilai kekayaan. Fenomena ini menekan cadangan devisa dan mendorong dolarisasi informal.
Rial vs Toman: Dualisme yang Memperumit
Di luar angka-angka itu, praktik masyarakat Iran menggunakan dua satuan mata uang menambah lapisan kebingungan, terutama saat inflasi tak terkendali. Secara resmi, sejak 1932, mata uang Iran adalah rial. Namun dalam transaksi sehari-hari, harga-harga kerap disebut dalam toman, yang secara historis setara dengan 10 rial. Karena inflasi tinggi, kebiasaan ini bertahan: ketika secangkir teh dijual 50.000 rial, penjual cukup menyebut “5.000 toman”.
Kini, depresiasi rial membuat nominal semakin membengkak. Jika sebuah mobil seharga 1 miliar rial, orang Iran akan menyebutnya “100 juta toman”. Pemerintah pernah berencana meredenominasi rial dengan menghapus empat nol dan mengganti nama ke toman secara resmi, namun rencana itu berulang kali tertunda karena ketidakstabilan ekonomi. Akibatnya, dualisme ini tidak hanya membingungkan wisatawan, tetapi juga menimbulkan risiko salah hitung dalam pelaporan keuangan dan akuntabilitas fiskal.
“Dualitas rial-toman adalah cerminan dari hiperinflasi yang tidak pernah tertangani. Selama inflasi tidak dikendalikan, percuma mengganti nama mata uang,” ujar Farhad Nili, mantan Kepala Departemen Riset Bank Sentral Iran, dalam wawancaranya dengan media ekonomi pekan lalu.
Proyeksi dan Implikasi ke Depan
Melihat tren fundamental, tekanan terhadap rial belum akan mereda dalam jangka pendek. Sentimen pasar terhadap kemungkinan pengurangan sanksi masih tipis, sementara negosiasi nuklir berjalan alot. IMF dalam laporan regional terbarunya memproyeksikan inflasi Iran tetap di atas 35% hingga akhir 2026, dan PDB per kapita belum kembali ke level 2017. Rasio utang publik terhadap PDB memang rendah (9%), tetapi hal itu bukan indikator sehat melainkan ketidakmampuan pemerintah untuk meminjam dari pasar internasional.
Di satu sisi, potensi rebound terjadi apabila ada terobosan diplomasi yang melonggarkan sanksi dan membuka keran investasi asing. Di sisi lain, jika status quo bertahan, valuasi aset dalam rial akan terus tergerus, dan masyarakat makin bergantung pada dolar atau mata uang regional untuk transaksi lintas batas. Ini bisa mempercepat dolarisasi penuh, yang justru menghilangkan kedaulatan moneter Iran.
Dari sudut investasi portofolio, aset Iran masih berisiko tinggi. Likuiditas bursa saham Tehran memang naik karena investor lokal mencari lindung nilai terhadap inflasi, tetapi capital outflow terselubung melalui aset digital dan properti di luar negeri terus berlangsung. Tanpa reformasi struktural yang menyentuh kebijakan fiskal, subsidi energi, dan transparansi perbankan, rial—baik disebut toman atau tidak—akan terus terpuruk.
Comments (0)