Pertamina Perkuat Eksplorasi Panas Bumi di IIGCE 2026, Dorong Transisi Energi

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 23,9 gigawatt (GW), sementara kapasitas terpasang yang berhasil dimanfaatkan baru...

Pertamina Perkuat Eksplorasi Panas Bumi di IIGCE 2026, Dorong Transisi Energi

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 23,9 gigawatt (GW), sementara kapasitas terpasang yang berhasil dimanfaatkan baru sekitar 2,4 GW per akhir 2025. Artinya, baru sekitar sepersepuluh dari potensi yang tersedia yang sudah dikonversi menjadi energi listrik. Di tengah kondisi itulah Pertamina mengambil peran lebih besar dalam mendorong pengembangan panas bumi nasional, termasuk melalui partisipasinya di ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026.

Pada gelaran tahunan yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, dan investor energi itu, Pertamina menandatangani kesepakatan strategis yang menyasar pembukaan wilayah eksplorasi baru. Langkah ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan energi nasional yang menempatkan panas bumi sebagai salah satu tulang punggung transisi energi menuju target net zero emission pada 2060.

Kesepakatan Strategis untuk Membuka Wilayah Eksplorasi Baru

Kesepakatan yang diteken di IIGCE 2026 itu berfokus pada pengembangan wilayah kerja baru yang diharapkan memperluas portofolio panas bumi perseroan di luar blok-blok yang sudah beroperasi. Selama ini Pertamina dikenal sebagai pengelola sejumlah wilayah kerja panas bumi utama di dalam negeri, dan penambahan wilayah eksplorasi dinilai akan memperkuat posisinya sebagai pemain kunci di sektor ini. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa penandatanganan kesepakatan hanyalah titik awal. Proses dari eksplorasi hingga komersialisasi biasanya memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan investasi yang tidak kecil, sehingga dampaknya terhadap produksi listrik baru akan terasa pada dekade mendatang.

Di Satu Sisi: Fondasi Transisi Energi yang Solid

Dari sisi optimisme, panas bumi memiliki sejumlah keunggulan fundamental yang sulit ditandingi sumber energi terbarukan lain. Kapasitas pembangkitnya dapat beroperasi sepanjang hari atau baseload, tidak bergantung pada cuaca seperti tenaga surya dan angin, serta menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit fosil. Dengan rasio kapasitas yang tinggi, panas bumi mampu memberi pasokan listrik yang stabil bagi industri, sehingga permintaannya diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi listrik yang naik year-on-year. “Panas bumi adalah aset strategis bagi keandalan sistem kelistrikan nasional, terutama saat permintaan beban puncak melonjak,” ujar seorang analis energi yang dihubungi Beritadua. Dari sisi pembiayaan, proyek panas bumi juga menarik minat investor jangka panjang karena arus pendapatan yang relatif dapat diprediksi setelah tahap operasi dimulai, sebuah karakteristik yang jarang dimiliki proyek energi terbarukan lain.

Di Sisi Lain: Hambatan Modal, Risiko, dan Regulasi

Namun, di sisi lain, pengembangan panas bumi menghadapi tantangan yang tidak ringan. Biaya eksplorasi sangat mahal dan mengandung risiko tinggi; tidak semua sumur yang dibor menghasilkan uap yang layak secara komersial. Kegagalan eksplorasi atau dry hole dapat menggerus likuiditas pengembang dan membuat rasio utang terhadap ekuitas membengkak. Selain itu, masa pengembangan proyek yang panjang, mulai dari survei hingga komersialisasi, membuat imbal hasil proyek menjadi sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan fluktuasi indeks harga komoditas di pasar global. Tekanan nilai tukar rupiah yang memicu capital outflow di pasar keuangan juga berpotensi menaikkan biaya pendanaan, mengingat sebagian komponen proyek bergantung pada impor. Belum lagi persoalan harga jual listrik yang kerap menjadi titik negosiasi alot antara pengembang dan pembeli tenaga listrik, sehingga valuasi proyek kerap berubah-ubah sebelum kesepakatan final tercapai.

Proyeksi ke Depan: Antara Target dan Realita

Ke depan, tren pengembangan panas bumi diperkirakan tetap menanjak seiring komitmen pemerintah memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Berbagai proyeksi menunjukkan kebutuhan kapasitas pembangkit baru akan terus tumbuh seiring meningkatnya konsumsi listrik per kapita, dan panas bumi menjadi salah satu opsi paling realistis untuk memenuhi kebutuhan beban dasar. Meski demikian, kecepatan realisasi sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, kemudahan perizinan, serta ketersediaan skema pendanaan murah jangka panjang. Analis menilai langkah Pertamina membuka wilayah eksplorasi baru merupakan sinyal positif bagi sentimen pasar terhadap sektor ini, tetapi evaluasi keberhasilannya harus menunggu hasil pengeboran yang baru terlihat beberapa tahun ke depan. Dengan potensi sebesar 23,9 GW dan pemanfaatan yang baru menyentuh sekitar 2,4 GW, Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang sangat luas. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah panas bumi akan menjadi bagian dari transisi energi, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukungnya mampu mengimbangi ambisi tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User