Oct 15, 2026
Bisnis

Pertamina Jelaskan Penyebab Antrean BBM di Bali dan Langkah Perbaikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal IV 2023, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di wilayah Bali mengalami kenaika...

Pertamina Jelaskan Penyebab Antrean BBM di Bali dan Langkah Perbaikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per kuartal IV 2023, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di wilayah Bali mengalami kenaikan sekitar 7,2% year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini tidak sepenuhnya diimbangi dengan kapasitas distribusi harian, sehingga muncul fenomena antrean panjang di sejumlah SPBU, terutama di jalur wisata dan kawasan padat penduduk. Direktur Utama Pertamina, Simon Mantiri, akhirnya angkat bicara mengenai persoalan ini. Ia menegaskan bahwa antrean bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan nasional, melainkan oleh hambatan teknis distribusi dan lonjakan permintaan musiman.

Fundamental Pasokan Versus Kendala Logistik

Dari sisi fundamental, stok BBM nasional masih berada pada level aman. Data Pertamina menunjukkan ketahanan stok bensin rata-rata 19-21 hari, sementara untuk solar mencapai 17 hari. Angka ini di atas ambang batas minimal yang ditetapkan pemerintah, yaitu 15 hari. Namun, di sisi lain, distribusi ke wilayah Bali menghadapi tantangan geografis dan teknis. Simon Mantiri menjelaskan bahwa sebagian armada kapal pengangkut mengalami keterlambatan jadwal akibat cuaca buruk dan kepadatan bongkar-muat di Terminal BBM Sanggaran. "Kami mencatat ada keterlambatan rata-rata 12-18 jam per siklus pengiriman selama dua pekan terakhir," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Beritadua, Jumat (15/3/2024).

Di satu sisi, keterlambatan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan krisis pasokan. Di sisi lain, akumulasi keterlambatan selama dua pekan telah menciptakan sentimen pasar yang mendorong konsumen melakukan pembelian di atas kebiasaan normal—sebuah pola yang dalam ekonomi perilaku dikenal sebagai panic buying. Akibatnya, beberapa SPBU mencatat lonjakan transaksi harian hingga 35% dibandingkan rata-rata bulanan, sementara pasokan yang tiba per hari hanya meningkat 8%.

Analisis Rasio Konsumsi dan Proyeksi Permintaan

Mengacu pada data OJK dan Bank Indonesia per Februari 2024, aktivitas ekonomi di Bali tumbuh 5,4% year-on-year, didorong oleh sektor pariwisata yang pulih pasca-pandemi. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada Januari 2024 mencapai 435.000 orang, naik 22% dibandingkan Januari 2023. Lonjakan mobilitas ini secara langsung meningkatkan konsumsi BBM, baik untuk kendaraan pribadi, bus pariwisata, maupun armada logistik.

"Pertumbuhan permintaan BBM di Bali sebenarnya sudah diproyeksikan sejak awal tahun. Yang tidak terantisipasi adalah percepatan simultan antara lonjakan wisatawan dan penundaan pengiriman akibat cuaca ekstrem. Ini murni persoalan likuiditas pasokan di tingkat distribusi, bukan produksi," jelas Simon Mantiri.

Jika dihitung menggunakan rasio konsumsi terhadap pasokan, defisit harian sementara di Bali diperkirakan mencapai 1.200-1.500 kiloliter untuk bensin dan 600-800 kiloliter untuk solar. Angka ini setara dengan 4-5% dari total kebutuhan harian wilayah Bali. Meski secara persentase tergolong kecil, dampaknya terasa signifikan karena terkonsentrasi di SPBU tertentu, terutama di kawasan Denpasar, Badung, dan Gianyar.

Langkah Perbaikan dan Dampak terhadap Valuasi Sektor Energi

Pertamina menempuh sejumlah langkah operasional untuk mengurai antrean. Pertama, penambahan armada kapal dari Terminal BBM Surabaya dan Cilacap dengan kapasitas tambahan 3.000 kiloliter per pengiriman. Kedua, pengoperasian buffer stock di Terminal BBM Sanggaran selama 24 jam. Ketiga, koordinasi dengan Dinas Perhubungan Bali untuk mengatur ulang jadwal pengiriman darat ke SPBU-SPBU padat. "Kami targetkan antrean berkurang signifikan dalam 5-7 hari ke depan," tambah Simon.

Dari kacamata pasar modal, peristiwa ini berpotensi memengaruhi valuasi sektor energi, terutama jika keterlambatan distribusi berlanjut hingga kuartal II 2024. Pro: investor jangka panjang umumnya melihat ini sebagai gangguan sementara yang tidak mengubah fundamental perusahaan. Kontra: jika capital outflow dari sektor energi terus berlanjut akibat ketidakpastian pasokan, tekanan pada harga saham emiten energi bisa berlanjut. Hingga Februari 2024, indeks sektor energi di Bursa Efek Indonesia tercatat turun 2,3% secara year-to-date, sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah global sebesar 4,1%.

Ke depan, proyeksi konsumsi BBM di Bali diprediksi tetap tumbuh 6-8% year-on-year hingga akhir 2024, seiring dengan target pemerintah mendatangkan 7 juta wisatawan mancanegara. Tanpa perbaikan infrastruktur distribusi dan penambahan kapasitas penyimpanan, risiko antrean serupa bisa terulang pada musim puncak Juli-Agustus. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan, karena pasokan nasional dalam kondisi memadai. Persoalannya bukan ada atau tidaknya BBM, melainkan seberapa cepat ia sampai ke nozzle SPBU di Bali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User