Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih tertahan di kisaran 15 persen—sebuah rasio yang jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam. Kesenjangan inilah yang menjadi latar belakang langkah Pertamina membawa 38 UMKM binaannya ke pameran kerajinan INACRAFT 2026 di Jakarta, sebuah ajang yang selama ini menjadi etalase produk kriya Nusantara ke pasar internasional.
Partisipasi ini bukan sekadar kehadiran seremonial. INACRAFT secara historis menarik ribuan pembeli dari mancanegara, mulai dari peritel Eropa hingga distributor Asia Timur. Bagi UMKM yang selama ini hanya mengandalkan pasar lokal, pameran semacam ini membuka akses jaringan pelanggan lintas negara yang sulit dijangkau melalui kanal digital biasa.
Sisi Positif: Akses Pasar dan Transfer Pengetahuan
Di satu sisi, keterlibatan 38 UMKM dalam pameran berskala internasional ini menghadirkan sejumlah manfaat yang terukur. Pertama, eksposur terhadap pembeli asing mendorong pelaku usaha menyesuaikan standar produk—mulai dari kualitas kemasan, sertifikasi, hingga kesiapan dokumen ekspor. Kedua, interaksi langsung dengan buyer global mempercepat proses pembelajaran pasar, sesuatu yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun jika ditempuh secara mandiri.
Dari perspektif korporasi, program pembinaan UMKM juga memperkuat narasi keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam kerangka environmental, social, and governance (ESG), kontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi lokal menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor institusi. Ini pada gilirannya dapat memengaruhi valuasi dan sentimen pasar terhadap emiten bersangkutan.
"Pameran internasional adalah jembatan paling efektif bagi UMKM untuk memahami standar pasar global. Yang dibutuhkan bukan hanya produk bagus, tetapi juga konsistensi pasokan dan kesiapan administrasi," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan dari sebuah lembaga riset independen di Jakarta.
Indeks kepercayaan pelaku UMKM yang dirilis sejumlah asosiasi pada kuartal pertama 2026 memang menunjukkan tren membaik, meski belum kembali ke level pra-pandemi. Dukungan korporasi semacam ini dianggap membantu mempercepat pemulihan, terutama bagi usaha kriya yang padat karya dan berbasis warisan budaya.
Sisi Kritis: Skala, Keberlanjutan, dan Ketergantungan
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa program pembinaan UMKM kerap berhenti pada tahap pameran tanpa pendampingan pasca-acara. Tanpa mekanisme monitoring yang jelas, banyak UMKM kembali ke kondisi semula setelah kegembiraan pameran berlalu. Rasio konversi dari kontak bisnis menjadi kontrak ekspor riil sering kali rendah, berkisar di bawah 20 persen menurut beberapa studi perdagangan.
Kritik lain menyorot persoalan likuiditas dan kapasitas produksi. Ketika pesanan meningkat mendadak, UMKM kerap kesulitan memenuhi volume karena keterbatasan modal kerja dan akses pembiayaan. Program pembinaan yang tidak disertai skema pendanaan murah berisiko menciptakan ekspektasi tinggi tanpa dukungan fundamental yang memadai.
Selain itu, ada kekhawatiran soal ketergantungan pada satu perusahaan besar. Ketika program dihentikan atau anggaran dialihkan, UMKM yang telah terbiasa menerima fasilitas bisa kehilangan arah. Keberlanjutan jangka panjang menuntut kemitraan yang setara, bukan sekadar hubungan patron-klien.
Proyeksi dan Langkah ke Depan
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur bukan dari jumlah peserta pameran, melainkan dari nilai transaksi yang terealisasi dan kontinuitas pesanan pasca-acara. Pemerintah sendiri menargetkan kontribusi ekspor UMKM naik menuju 20 persen dalam beberapa tahun ke depan, sebuah proyeksi yang menuntut sinergi lintas sektor.
Dengan fundamental ekonomi domestik yang masih terjaga, permintaan pasar global terhadap produk kriya etnik diperkirakan tetap tumbuh, khususnya dari pasar Eropa dan Amerika Serikat yang menghargai unsur budaya dan keberlanjutan. Namun, capital outflow dan fluktuasi nilai tukar tetap menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi pelaku usaha, terutama dalam penetapan harga ekspor.
Pada akhirnya, langkah membawa 38 UMKM ke panggung internasional layak diapresiasi sebagai upaya memperluas pasar. Tetapi tanpa ekosistem pendukung—pembiayaan, logistik, dan pendampingan berkelanjutan—dampaknya bisa bersifat sementara. Diperlukan komitmen jangka panjang agar tren positif ini menjelma menjadi kekuatan struktural ekonomi kerakyatan.
Comments (0)