Pantura Tergenang Banjir Rob, BMKG Peringatkan Potensi Karhutla

Jawa Tengah dihadapkan pada dua fenomena alam yang kontras pada awal musim kemarau ini. Di satu sisi, air laut pasang kembali merendam pesisir utara sejak pagi hari, sementara potensi kebakaran hutan ...

Jawa Tengah dihadapkan pada dua fenomena alam yang kontras pada awal musim kemarau ini. Di satu sisi, air laut pasang kembali merendam pesisir utara sejak pagi hari, sementara potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam wilayah yang justru kekurangan air akibat suhu udara yang melonjak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini untuk kedua kondisi tersebut, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang bisa meluas.

Banjir Rob Kembali Rendam Jalur Pantura

Genangan air laut mulai memasuki permukiman dan ruas jalan di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah pada Senin pagi (12/5/2026). Ketinggian air bervariasi, dari 30 sentimeter hingga mencapai 70 sentimeter di titik-titik rendah, seperti kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang di Kendal, pesisir Sayung Demak, serta sebagian wilayah Pekalongan dan Kota Semarang. Aktivitas warga terganggu. Kendaraan roda dua terpaksa berhenti atau mencari jalur alternatif, sementara kendaraan roda empat melaju dengan kecepatan sangat rendah untuk menghindari air masuk ke mesin.

Menurut catatan BMKG, banjir rob kali ini dipicu oleh pasang maksimum yang mencapai 1,1 meter di atas permukaan laut rata-rata, diperkuat oleh angin timur laut yang mendorong massa air menuju daratan. Faktor lokal, seperti penurunan tanah (land subsidence) yang di beberapa lokasi telah mencapai 5–10 sentimeter per tahun, semakin memperparah genangan. Sejumlah ruas jalan nasional, termasuk jalur Semarang–Kendal, sempat mengalami kemacetan panjang karena air menutupi sebagian badan jalan. Pemerintah daerah setempat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menurunkan pompa air mobile di titik-titik strategis, meskipun efektivitasnya terbatas karena air laut terus menerus masuk seiring siklus pasang.

Fenomena ini bukan hal baru, namun intensitas dan frekuensinya dalam satu dasawarsa terakhir cenderung meningkat. Para ahli kelautan menghubungkan peningkatan tersebut dengan perubahan iklim global yang memicu kenaikan muka air laut. Di sisi lain, reklamasi pantai yang masif dan pengambilan air tanah yang berlebihan turut menyumbang percepatan amblesan tanah. Warga di pesisir yang sudah bertahun-tahun hidup bersama rob mengaku pasrah, tetapi tetap berharap ada solusi permanen seperti pembangunan tanggul laut atau restorasi hutan mangrove yang dapat meredam gelombang pasang.

Peringatan Dini Karhutla di Musim Kering

Sementara pesisir bergelut dengan kelebihan air, wilayah pedalaman dan pegunungan Jawa Tengah justru dalam kondisi sangat kering. BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Semarang mengeluarkan peringatan dini waspada karhutla yang berlaku untuk sejumlah kabupaten, termasuk Wonogiri, Sragen, Karanganyar, Boyolali, dan sebagian Kabupaten Semarang bagian selatan. Suhu maksimum harian di wilayah tersebut tercatat mencapai 35–37 derajat Celsius dalam tiga hari terakhir, dengan kelembapan udara di bawah 50 persen. Kondisi ini diperparah oleh angin timur yang kering dan cukup kencang, sehingga percikan api sekecil apa pun dapat cepat membesar dan sulit dikendalikan.

Berdasarkan data satelit Terra/Aqua yang dipantau BMKG, titik panas (hotspot) masih nihil, tetapi potensi kemunculannya sangat tinggi mengingat musim kemarau baru memasuki bulan ketiga. Lahan gambut di area hutan produksi dan semak belukar di wilayah karst menjadi area paling rentan. Secara historis, kebakaran besar di Jawa Tengah kerap dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar dan puntung rokok yang dibuang sembarangan. Oleh karena itu, BMKG mengimbau warga, khususnya yang tinggal di sekitar hutan dan lahan gambut, untuk tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun dan segera melaporkan jika melihat titik api.

Pemerintah provinsi telah mengaktifkan posko karhutla di tingkat desa dan menyiagakan satuan pemadam kebakaran hutan di beberapa lokasi rawan. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah menyatakan telah berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan relawan untuk melakukan patroli rutin. Meski demikian, tantangan terbesar adalah keterbatasan sumber air di musim kemarau yang membuat akses pemadaman menjadi sulit. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menggencarkan sosialisasi kepada petani agar beralih ke metode pembukaan lahan tanpa bakar.

Dua Sisi Anomali Cuaca

Kemunculan dua bencana yang berlawanan dalam satu waktu—rob dan karhutla—menunjukkan betapa ekstremnya pola cuaca saat ini. Di utara, warga berharap air surut; di selatan, sumber air mengering. Fenomena ini berkaitan dengan monsun timur yang lebih kering dari normal setelah berakhirnya La Nina pada pertengahan tahun lalu, sekaligus masih terasanya efek pemanasan global yang meningkatkan suhu permukaan laut di utara Jawa. Kombinasi tersebut menciptakan kondisi: pesisir sering dilanda pasang tinggi karena energi gelombang meningkat, sedangkan pedalaman menderita defisit hujan berkepanjangan.

Dari sisi tanggap darurat, BPBD dan instansi terkait harus membagi sumber daya untuk menghadapi dua ancaman sekaligus. Penanganan rob membutuhkan pompa dan tanggul sementara, sementara antisipasi karhutla memerlukan embung air, peralatan pemadam, dan patroli manusia. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar tidak ada wilayah yang terabaikan. Masyarakat pun diminta untuk lebih adaptif, misalnya dengan meninggikan rumah bagi yang berada di daerah rawan rob, serta menjaga sumber air dan membersihkan lahan tanpa bakar untuk wilayah rawan kebakaran.

Dalam jangka panjang, para pengamat lingkungan menekankan pentingnya reforestasi hulu daerah aliran sungai (DAS) untuk menjaga keseimbangan air tanah dan mengurangi sedimentasi yang memperburuk penurunan tanah di pantai. Tanpa langkah fundamental, bencana serentak seperti ini akan terus berulang dan semakin merugikan. Sambil menunggu kebijakan struktural, masyarakat pesisir dan pedalaman Jawa Tengah kini hanya bisa bersiaga menghadapi dua wajah alam yang tak lagi bisa ditebak kehadirannya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User