Oct 10, 2026
Bisnis

MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksi Dongkrak Ekonomi NTB

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal IV 2025, penyelenggaraan event olahraga berskala internasional di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika tercatat...

MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksi Dongkrak Ekonomi NTB

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal IV 2025, penyelenggaraan event olahraga berskala internasional di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika tercatat menyumbang tambahan devisa dan belanja wisatawan yang signifikan bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, InJourney selaku holding Badan Usaha Milik Negara di sektor aviasi dan pariwisata menegaskan posisi MotoGP bukan sekadar ajang balap, melainkan katalis pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sinergi lintas sektor.

Angka menjadi kunci dalam membaca persoalan ini. Pada penyelenggaraan 2024, tingkat okupansi hotel di kawasan Mandalika dan Mataram dilaporkan melampaui 90 persen selama periode balapan, jauh di atas rata-rata nasional yang berkisar 55-60 persen. Sementara itu, perputaran uang di sektor UMKM, kuliner, dan transportasi lokal mengalami kenaikan year-on-year yang diperkirakan mencapai 35-40 persen pada pekan penyelenggaraan. Indeks keyakinan pelaku usaha pariwisata NTB juga menunjukkan tren positif pasca-event, meski perlu dicatat bahwa efeknya bersifat musiman.

Di Satu Sisi: Multiplier Effect yang Nyata

Di satu sisi, pendekatan sinergi yang diusung InJourney memiliki landasan empiris yang kuat. Konsep multiplier effect — dampak berganda dari satu kegiatan ekonomi terhadap sektor lain — menjelaskan bagaimana belanja wisatawan selama MotoGP mengalir ke hotel, restoran, jasa transportasi, hingga perajin lokal. Setiap rupiah yang dibelanjakan penonton dan tim balap berpotensi berputar beberapa kali di ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja temporer dan mendorong likuiditas usaha mikro.

Dari kacamata fundamental, pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, bandara, dan fasilitas akomodasi merupakan investasi jangka panjang. Kawasan Mandalika diproyeksi menjadi destinasi premium yang mampu menarik segmen wisatawan berkantong tebal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta pariwisata olahraga global. Portofolio destinasi nasional pun menjadi lebih terdiversifikasi, tidak lagi bergantung pada Bali dan Jakarta.

"Event berskala internasional seperti MotoGP berfungsi sebagai anchor yang menggerakkan rantai pasok pariwisata. Kuncinya ada pada seberapa besar dampak itu tertahan di daerah, bukan sekadar melintas," ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah forum diskusi industri.

Di Sisi Lain: Risiko Ketergantungan dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan agar pemerintah dan pelaku usaha tidak terjebak pada euforia sesaat. Ketergantungan berlebihan pada satu event menciptakan kerentanan terhadap sentimen pasar dan faktor eksternal, misalnya pembatalan, perubahan jadwal, atau pelemahan daya beli global. Risiko capital outflow dari sektor pariwisata juga perlu diwaspadai apabila keuntungan lebih banyak dinikmati operator asing ketimbang pelaku lokal.

Selain itu, secara valuasi, manfaat ekonomi MotoGP terhadap produk domestik regional masih tergolong kecil bila dibandingkan total perekonomian NTB. Kontribusi langsungnya diperkirakan hanya menyentuh angka satu digit persen terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi. Tanpa strategi pasca-event yang matang, infrastruktur mahal berisiko menjadi white elephant — aset megah yang tidak termanfaatkan secara optimal.

Aspek lingkungan dan sosial juga menjadi catatan. Lonjakan wisatawan menimbulkan tekanan pada sumber daya air, pengelolaan sampah, dan tata ruang. Masyarakat lokal berpotensi mengalami kenaikan harga properti dan biaya hidup, yang bila tidak dikelola dapat memicu ketimpangan.

Sinergi sebagai Kunci Keberlanjutan

Menimbang kedua perspektif, posisi MotoGP sebagai katalis pertumbuhan ekonomi bergantung pada kualitas eksekusi sinergi. InJourney menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pendekatan ini mencakup standardisasi layanan, pengembangan kapasitas UMKM, serta promosi destinasi pendukung di sekitar Mandalika agar efek ekonomi menyebar lebih merata.

Dari sisi proyeksi, apabila sinergi berjalan konsisten, NTB berpotensi mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional dalam beberapa tahun ke depan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak diukur dari gemerlap satu pekan balapan, melainkan dari kemampuan mempertahankan tren kunjungan, menjaga stabilitas harga, dan memastikan manfaat ekonomi benar-benar mengakar di tingkat lokal. Dengan kata lain, MotoGP adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User