Oct 15, 2026
Bisnis

Ketahanan Pangan dan Protein Jadi Sorotan Forum Agrifood 2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2025, konsumsi protein per kapita masyarakat Indonesia masih berada di kisaran 62,3 gram per hari, atau tertinggal dibanding rata-rata ASEAN yang...

Ketahanan Pangan dan Protein Jadi Sorotan Forum Agrifood 2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2025, konsumsi protein per kapita masyarakat Indonesia masih berada di kisaran 62,3 gram per hari, atau tertinggal dibanding rata-rata ASEAN yang mencapai 71 gram. Angka ini menjadi salah satu pijakan penting dalam diskusi sektor agrifood nasional yang kembali menyoroti dua isu besar: ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan protein. Isu ini dinilai semakin krusial karena dunia tengah menghadapi perubahan iklim, dinamika geopolitik, serta tekanan pada rantai pasok global yang membuat harga komoditas pangan semakin fluktuatif.

Dalam agenda tahunan yang mempertemukan pelaku industri, pembuat kebijakan, dan akademisi, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan tampil sebagai salah satu pembicara kunci. Kehadiran pejabat tinggi ini menandakan bahwa persoalan pangan tidak lagi dipandang sebagai isu sektoral, melainkan bagian dari strategi ekonomi makro yang menyangkut stabilitas inflasi, daya beli, hingga ketahanan nasional.

Tekanan Global dan Fundamental Domestik

Di satu sisi, kondisi fundamental sektor pertanian dalam negeri menunjukkan perbaikan. Produksi padi tahun 2025 diproyeksikan naik sekitar 3,1 persen year-on-year, sementara indeks Nilai Tukar Petani (NTP) bergerak di kisaran 112—116 sepanjang semester kedua. Kenaikan ini ditopang oleh normalisasi cuaca pasca-El Nino serta program intensifikasi lahan yang menyasar sejumlah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi.

Di sisi lain, capaian tersebut belum sepenuhnya menutup celah struktural. Impor sejumlah komoditas pangan strategis seperti kedelai, gandum, dan daging sapi masih tinggi. Rasio ketergantungan impor untuk kedelai bahkan menembus 85 persen, yang berarti guncangan harga di pasar global—misalnya akibat ketegangan geopolitik di jalur pelayaran utama—dapat langsung merambat ke biaya produksi tahu dan tempe di dalam negeri.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal tersedianya stok, tetapi soal kemampuan masyarakat mengakses protein berkualitas dengan harga terjangkau. Ini menyangkut likuiditas rumah tangga dan stabilitas harga di pasar,” ujar seorang pengamat kebijakan pangan dalam forum tersebut.

Protein sebagai Indikator Kesejahteraan

Pemenuhan kebutuhan protein menjadi perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting nasional turun ke 19,8 persen pada 2025, dari sebelumnya 21,6 persen pada 2023. Meski tren ini positif, angka tersebut masih di atas target RPJMN sebesar 14 persen. Artinya, percepatan penyediaan protein hewani—telur, ikan, ayam, dan susu—masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dari kacamata ekonomi, peningkatan konsumsi protein berpotensi mendorong permintaan domestik dan menjadi bantalan pertumbuhan saat ekspor melemah. Namun, tantangannya adalah pasokan. Produksi daging ayam ras tercatat tumbuh moderat 2,4 persen, sementara permintaan diperkirakan naik 4,7 persen seiring pemulihan daya beli kelas menengah. Kesenjangan ini berisiko menciptakan tekanan inflasi pada kelompok volatile food, yang sepanjang 2025 menyumbang sekitar 0,9 poin persentase terhadap inflasi umum.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Bagi pelaku pasar, sinyal kebijakan di sektor pangan menjadi indikator penting untuk menilai arah investasi. Sektor agrifood mencatat capital outflow terbatas pada kuartal IV 2025, terutama karena valuasi emiten pangan yang dianggap sudah cukup tinggi. Meski demikian, prospek jangka panjang tetap menarik apabila reformasi struktural berjalan konsisten, khususnya dalam hal irigasi, logistik pendingin, dan akses pembiayaan bagi petani kecil.

Pemerintah sendiri menargetkan swasembada beras dan jagung pada 2027, dengan alokasi anggaran ketahanan pangan yang naik 12,5 persen dalam APBN 2026. Proyeksi pertumbuhan sektor pertanian tahun ini berada di rentang 3,0–3,5 persen, dengan catatan tidak ada gangguan iklim ekstrem.

Pada akhirnya, forum semacam ini berfungsi sebagai ruang konsolidasi antara narasi kebijakan dan realitas lapangan. Optimisme terhadap ketahanan pangan perlu diimbangi kewaspadaan terhadap risiko global. Tanpa perbaikan pada sisi produktivitas dan distribusi, target protein dan pangan nasional berpotensi hanya menjadi angka di atas kertas, bukan kenyataan di meja makan masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User