JK Kenang Rachmat Gobel: Pengusaha Ramah yang Kaya Sahabat

Dalam sebuah refleksi mendalam tentang sosok almarhum Rachmat Gobel, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) melukiskan potret seorang pemimpin yang tak hanya sukses secara material, tetapi juga kaya a...

JK Kenang Rachmat Gobel: Pengusaha Ramah yang Kaya Sahabat

Dalam sebuah refleksi mendalam tentang sosok almarhum Rachmat Gobel, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) melukiskan potret seorang pemimpin yang tak hanya sukses secara material, tetapi juga kaya akan relasi tulus. Bagi JK, pria kelahiran Jakarta, 3 April 1964 itu adalah representasi langka: seorang pengusaha besar yang tetap rendah hati dan politisi yang tak kehilangan kehangatan personalnya. “Dia adalah teman dalam arti sebenarnya, bukan sekadar mitra bisnis atau kolega politik,” kenang JK, mengawali ingatannya tentang sosok yang telah tiada namun meninggalkan bekas mendalam di hati banyak orang.

Akar Bisnis yang Membentang Lintas Generasi

Perjalanan Rachmat Gobel dalam dunia usaha bukanlah kisah instan. Ia mewarisi semangat kewirausahaan dari ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, perintis Gobel Group yang legendaris melalui kerja sama perakitan produk elektronik National yang kelak berubah merek menjadi Panasonic. Di tangan Rachmat, kolaborasi yang sudah berjalan lebih dari setengah abad bersama raksasa elektronik asal Jepang itu terus diperkokoh. Ia tidak hanya meneruskan, tetapi mentransformasi konglomerasi keluarga ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur, perdagangan, hingga pengolahan hasil perikanan. Meski bersandar pada fondasi kuat, Rachmat dikenal piawai merespons perubahan zaman tanpa kehilangan sentuhan personal dengan karyawan dan mitranya. “Dia selalu bilang bahwa perusahaan itu seperti keluarga besar, bukan mesin pencari untung semata,” ujar JK mengenang falsafah bisnis almarhum. Inilah yang membuat banyak mitra lama tetap bertahan dan menghormatinya, bahkan ketika orientasi bisnis modern cenderung transaksional.

Terjun ke Politik dengan Gaya Merakyat

Dari panggung bisnis, langkah Rachmat merambah ke politik praktis bukanlah manuver mengejar kuasa, melainkan panggilan untuk berkontribusi lebih luas. Ketika didapuk menjadi Menteri Perdagangan pada periode 2014-2015, ia membawa gaya kepemimpinan yang khas: mendengar sebelum memutuskan dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi pelaku usaha kecil. Setelah tugas singkat di kabinet, ia melanjutkan pengabdian sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar, di mana jejak keramahannya justru semakin kentara. “Di Senayan, ia tak segan duduk lesehan dengan siapa saja,” cerita JK. Rachmat dikenal sering mengundang kolega lintas partai ke kediamannya, menciptakan ruang dialog informal yang kerap menjadi jembatan bagi meredanya ketegangan politik. Kepribadian ini membuatnya dihormati bukan karena kursi yang diduduki, melainkan karena ketulusan yang ia pancarkan.

Pribadi Hangat di Tengah Dinginnya Persaingan

Hal paling mencolok yang disorot JK adalah kapasitas Rachmat dalam menjalin persahabatan. “Saya jarang menemukan orang yang bisa menjaga begitu banyak hubungan baik dari latar belakang berbeda: dari pengusaha kakap, birokrat, seniman, hingga tetangga di kampung halamannya di Gorontalo,” ujar JK. Setiap bertemu, Rachmat—yang akrab disapa RG—selalu punya cara untuk membuat lawan bicaranya merasa dihargai. Senyum khasnya seolah memecah tembok formalitas, menciptakan keakraban yang alami. Menurut JK, inilah salah satu kunci sukses almarhum: ia memposisikan orang lain bukan sebagai objek transaksi, melainkan sebagai mitra hidup yang berharga. Jejaring luas yang dibangunnya bukanlah hasil lobi-lobi kaku, tetapi buah dari keramahan otentik yang sulit ditiru. Di saat banyak orang sibuk membangun citra, Rachmat justru menuai simpati lewat kesederhanaan sikapnya.

Warisan Semangat Berbagi

Kepergian Rachmat Gobel menyisakan warisan tak berwujud yang mungkin lebih abadi daripada aset fisik perusahaannya: filosofi bahwa sukses sejati diukur dari seberapa banyak yang bisa dibagi kepada sesama. JK menuturkan, almarhum sering kali mengingatkan di berbagai forum bahwa “bisnis tanpa sahabat hanyalah menara gading yang rapuh.” Prinsip itu ia terjemahkan melalui pelibatan aktif dalam pengembangan komunitas wirausaha muda, pembinaan UMKM, dan berbagai inisiatif sosial yang jarang dipublikasikan. Bagi generasi penerus, Rachmat mewariskan model kepemimpinan yang memadukan ketegasan profesional dengan kelembutan seorang sahabat. “Dunia usaha dan politik kita kehilangan figur yang mengajarkan bahwa menjadi besar tidak harus kehilangan rasa kemanusiaan,” pungkas JK. Di tengah arus persaingan yang semakin keras, kenangan akan Rachmat Gobel hadir sebagai pengingat bahwa nilai sejati seorang pemimpin, pada akhirnya, bertumpu pada jejak hati yang ia tinggalkan di kehidupan orang lain.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User