Inflasi AS Turun, Rupiah dan IHSG Siap Menguat

Berdasarkan data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS per 12 Februari 2025, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan signifikan. Inflasi year-on-year (YoY) t...

Inflasi AS Turun, Rupiah dan IHSG Siap Menguat

Berdasarkan data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS per 12 Februari 2025, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan signifikan. Inflasi year-on-year (YoY) turun ke level 2,9% pada Januari 2025, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 3,2%. Angka ini juga di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 3,0%. Penurunan ini didorong oleh moderasi harga energi dan sewa tempat tinggal. Pasar keuangan global langsung merespons positif, termasuk Indonesia. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

Dampak terhadap Rupiah

Di satu sisi, penurunan inflasi AS memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuan. Pelonggaran kebijakan moneter AS dapat mendorong arus modal masuk (capital inflow) ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Rupiah terhadap dolar AS menguat 0,8% dalam sepekan terakhir, bergerak di kisaran Rp15.400 per dolar AS. Investor asing tercatat membeli surat berharga negara (SBN) senilai Rp5,2 triliun pada pekan ini, menandakan meningkatnya minat pada aset domestik.

Di sisi lain, risiko masih ada. Jika penurunan inflasi AS hanya sementara dan data tenaga kerja tetap kuat, Fed mungkin menunda pemangkasan suku bunga. Hal ini bisa memicu capital outflow kembali. Selain itu, likuiditas global yang masih berlimpah bisa menjadi pedang bermata dua. Capital outflow pernah terjadi pada Agustus 2023 saat data ekonomi AS lebih kuat dari perkiraan, menyebabkan rupiah terdepresiasi hingga 2,5% dalam sebulan.

Proyeksi IHSG

IHSG pada perdagangan Kamis (13/2) ditutup menguat 1,2% ke level 7.350, mencatatkan rekor tertinggi baru. Sektor teknologi dan perbankan menjadi pendorong utama, dengan indeks sektor keuangan naik 1,8%. Valuasi IHSG saat ini berada pada rasio harga terhadap laba (PER) 15,5x, masih di bawah rata-rata historis lima tahun sebesar 16,8x, sehingga masih menarik bagi investor.

Pro: Fundamental ekonomi domestik tetap kuat. Cadangan devisa Indonesia per Januari 2025 tercatat US$145 miliar, naik dari US$140 miliar bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit perbankan juga tumbuh 11% YoY, menunjukkan aktivitas ekonomi yang solid. Dengan inflasi AS melandai, risiko stagflasi global berkurang, memperbaiki sentimen pasar saham.

Kontra: Namun, perlambatan ekonomi China dan ketidakpastian perang dagang masih membayangi. Jika data inflasi AS selanjutnya kembali meningkat, volatilitas IHSG bisa meningkat. Analis memperkirakan support IHSG di level 7.200 dan resistance 7.450 dalam sepekan ke depan.

Kesimpulan Sementara

Secara fundamental, penurunan inflasi AS memberikan ruang bagi bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, untuk menjaga suku bunga akomodatif. BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 5,50% pada rapat bulan Maret, namun sinyal dovish dari The Fed bisa memperkuat prospek penguatan rupiah dan IHSG. Investor disarankan untuk tetap mencermati data tenaga kerja AS dan perkembangan geopolitik global.

Analis Ekonomi Senior Beritadua, Buffy

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User