Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perindustrian per awal 2025, sektor manufaktur masih menyumbang sekitar 18,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menjadikannya kontributor terbesar kedua setelah sektor perdagangan. Angka ini menjadi pijakan penting dalam menyusun strategi pertumbuhan jangka menengah, terutama menjelang target ambisius pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji secara eksplisit menempatkan industri pengolahan sebagai mesin utama untuk mengejar target tersebut, sebuah posisi yang menuntut pembenahan fundamental di banyak lini.
Peta Jalan Industri dan Asumsi Makro Ekonomi
Dalam kerangka proyeksi pemerintah, pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 bukan angka yang bisa dicapai hanya dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga yang tumbuh di kisaran 4,8–5,1 persen year-on-year. Diperlukan akselerasi dari sisi investasi dan ekspor yang keduanya bertumpu pada kapasitas industri manufaktur. Sektor ini diharapkan tumbuh di atas 5,5 persen secara tahunan, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas dalam lima tahun terakhir yang berkisar 3,8–4,5 persen.
Beberapa subsektor menjadi prioritas, antara lain industri makanan dan minuman dengan kontribusi sekitar 38 persen terhadap PDB manufaktur, industri kimia dan farmasi, serta industri logam dasar yang tumbuh signifikan berkat hilirisasi nikel dan bauksit. Hilirisasi menjadi salah satu pilar fundamental yang diandalkan untuk menciptakan nilai tambah domestik sekaligus memperbaiki struktur ekspor yang sebelumnya didominasi bahan mentah.
Namun, angka-angka makro tersebut tidak serta-merta menjamin tercapainya target. Rasio kapasitas produksi terpakai atau utilisasi industri nasional per akhir 2024 berada di level 72,3 persen, masih di bawah ambang optimal 80 persen. Ini menunjukkan masih adanya ruang idle capacity yang, jika dimanfaatkan, bisa mendongkrak output tanpa investasi besar-besaran pada mesin baru.
Di Satu Sisi: Optimisme Hilirisasi dan Investasi
Di satu sisi, optimisme terhadap target 6 persen cukup beralasan. Realisasi investasi sektor manufaktur pada 2024 mencapai Rp 588,4 triliun, tumbuh sekitar 12 persen dibanding 2023. Arus modal asing ke sektor logam dasar, mesin, dan elektronik mencatat kenaikan signifikan seiring kebijakan larangan ekspor bahan mentah. Pro: hilirisasi telah mengubah struktur ekspor, di mana produk olahan nikel seperti feronikel dan stainless steel kini menyumbang nilai ekspor lebih dari USD 30 miliar per tahun, naik tajam dibanding dekade sebelumnya yang hanya mengandalkan bijih mentah.
Dari sisi likuiditas, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level yang mendukung pembiayaan investasi, meski ruang penurunan terbatas oleh tekanan eksternal. Riset sejumlah lembaga menunjukkan bahwa setiap 1 persen pertumbuhan industri pengolahan berpotensi menciptakan sekitar 250.000 lapangan kerja baru, multiplier effect yang signifikan untuk konsumsi domestik.
"Industri harus menjadi tulang punggung, bukan sekadar pelengkap. Tanpa pertumbuhan manufaktur di atas 5 persen, target 6 persen akan sangat sulit diraih," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah forum diskusi industri di Jakarta, mencerminkan pentingnya sektor ini dalam perhitungan makro.
Di Sisi Lain: Risiko Eksternal dan Fundamental yang Rapuh
Di sisi lain, sejumlah risiko patut dicermati. Kontra: ketergantungan pada pasar ekspor membuat industri rentan terhadap sentimen pasar global. Perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang utama, ditambah kebijakan tarif di Amerika Serikat, berpotensi menekan permintaan ekspor manufaktur dalam dua tahun ke depan. Capital outflow dari pasar obligasi dan saham Indonesia pada kuartal tertentu turut memperlemah nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya meningkatkan biaya impor bahan baku dan komponen modal.
Dari sisi domestik, indeks kepercayaan konsumen dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur sempat berada di bawah level ekspansif 50 pada beberapa bulan, mengindikasikan bahwa pesanan baru belum pulih sepenuhnya. Selain itu, ketergantungan impor bahan baku dan barang modal masih tinggi, dengan porsi 65–70 persen komponen industri berasal dari luar negeri. Ini menjadi paradox: hilirisasi berjalan, tetapi backward linkage ke industri dalam negeri belum kuat.
Hambatan struktural lain adalah kualitas sumber daya manusia dan biaya logistik yang masih menyentuh 14–16 persen dari PDB, jauh di atas rata-rata ASEAN yang berkisar 10–12 persen. Rasio ini menekan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global. Ditambah lagi, transisi energi global menuntut industri beradaptasi dengan standar karbon yang lebih ketat, sesuatu yang membutuhkan investasi tambahan signifikan.
Proyeksi dan Bobot Kebijakan yang Dibutuhkan
Dengan segala dinamika tersebut, proyeksi pertumbuhan industri manufaktur pada 2027 bergantung pada seberapa agresif kebijakan struktural dijalankan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi manufaktur sekitar 12–14 persen per tahun untuk mendukung target 6 persen. Tanpa perbaikan iklim usaha, kemudahan perizinan, dan kepastian hukum, angka tersebut bisa meleset.
Portofolio kebijakan yang dibutuhkan mencakup penguatan ekosistem hilirisasi, insentif fiskal untuk industri padat karya, serta pengembangan kawasan industri terintegrasi. Sentimen pasar terhadap sektor ini akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi implementasi kebijakan, bukan sekadar narasi target. Valuasi sektor manufaktur di bursa masih berada di bawah rata-rata historisnya, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar menanti bukti realisasi.
Pada akhirnya, industri memang layak menjadi kunci pertumbuhan 6 persen. Namun, target itu hanya bermakna jika disertai perbaikan fundamental: produktivitas, logistik, energi, dan SDM. Tanpa itu, angka 6 persen akan tetap menjadi proyeksi indah di atas kertas, bukan realitas yang dirasakan masyarakat luas.
Comments (0)