Indonesia Sampaikan Belasungkawa atas Meninggalnya Mantan Emir Qatar

Kantor Administratif Emir Qatar, Amiri Diwan, pada Senin (3/2) mengonfirmasi berita duka yang mengguncang kawasan Teluk dan dunia internasional: Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yan...

Kantor Administratif Emir Qatar, Amiri Diwan, pada Senin (3/2) mengonfirmasi berita duka yang mengguncang kawasan Teluk dan dunia internasional: Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang memerintah dari 1995 hingga 2013, telah berpulang di usia 74 tahun. Kabar tersebut langsung direspons oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri yang menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas kepergian tokoh sentral pembangunan Qatar modern.

"Indonesia menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga kerajaan Al Thani, pemerintah, dan rakyat Qatar atas wafatnya Yang Mulia Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani. Beliau adalah pemimpin visioner yang tidak hanya membawa kemakmuran bagi bangsanya, tetapi juga dikenal sebagai sahabat dekat Indonesia," ujar Juru Bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Diplomasi dan hubungan bilateral yang hangat di bawah era kepemimpinan Syekh Hamad turut dikenang. Presiden ke-7 RI Joko Widodo melalui akun resmi media sosialnya menyebut almarhum sebagai "mitra sejati" yang telah meletakkan fondasi kerja sama saling menguntungkan antara Jakarta dan Doha, khususnya di sektor energi, investasi, dan ketenagakerjaan. "Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," tulisnya.

Sang Arsitek Qatar Modern: Dari Kudeta Damai hingga Panggung Dunia

Lahir pada 1 Januari 1952, Syekh Hamad adalah putra dari Khalifa bin Hamad Al Thani, penguasa sebelumnya. Menempuh pendidikan elit di Akademi Militer Sandhurst, Inggris, ia kemudian menjabat sebagai Menteri Pertahanan sebelum akhirnya mengambil alih tampuk kekuasaan melalui kudeta tanpa darah pada 27 Juni 1995 saat ayahnya berada di Jenewa. Sejak saat itu, ia menggulirkan serangkaian reformasi revolusioner yang mengubah Qatar dari monarki minyak yang tertutup menjadi pusat pengaruh global.

Di bawah komandonya, Qatar memanfaatkan cadangan gas alam raksasa North Field—yang terbesar ketiga di dunia—untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melampaui US$150 miliar PDB pada akhir masa jabatannya. Pendapatan per kapita melesat menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, melampaui US$80.000. Ia mendirikan Qatar Investment Authority, lembaga dana kekayaan negara yang kini mengelola aset senilai lebih dari US$450 miliar, aktif berinvestasi di Indonesia termasuk di proyek MRT Jakarta.

Tak hanya ekonomi, Syekh Hamad juga meletakkan batu pertama demokrasi konstitusional dengan meresmikan konstitusi baru pada 2004 yang menjamin kebebasan berekspresi, hak pilih perempuan, dan pemilu legislatif. Peluncuran stasiun televisi Al Jazeera pada 1996 menjadi simbol soft power Qatar yang mendisrupsi tata media Timur Tengah. Sementara itu, diplomasi aktifnya memediasi konflik di Lebanon (2008), Darfur, dan Afganistan membawa negara mungil itu duduk di meja perundingan kekuatan besar.

Puncak prestasi yang sering dikenang adalah keberhasilannya memenangkan tawaran menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, sebuah proyek ambisius yang mengubah infrastruktur dan citra negara secara fundamental. Meski diwarnai kontroversi hak asasi pekerja migran, langkah itu tetap mencatatkan Qatar sebagai negara Timur Tengah pertama yang menggelar hajatan sepak bola terakbar.

Hubungan Ketenagakerjaan dan Investasi: Jembatan Indonesia-Qatar

Bagi Indonesia, wafatnya Syekh Hamad menyentuh langsung kehidupan puluhan ribu warga negara yang menggantungkan penghasilan di negara kaya itu. Data BP2MI mencatat, per 2025, terdapat sekitar 45.000 pekerja migran Indonesia di Qatar, mayoritas bekerja di sektor perhotelan, minyak dan gas, serta jasa. Pada era 2000-an awal, justru di bawah rezim Syekh Hamad lah pengiriman TKI ke Qatar mencatat lonjakan signifikan, dari hanya beberapa ratus menjadi belasan ribu per dekade.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Qatar pada 2024 tercatat menembus US$2,1 miliar, dengan surplus bagi Indonesia berkat ekspor minyak sawit, makanan olahan, dan produk manufaktur. Sebaliknya, komitmen investasi Qatar di Indonesia terus mengalir deras, terutama setelah kunjungan Presiden Jokowi ke Doha pada 2017 yang membuahkan kesepakatan pendanaan pembangunan MRT Fase 2 oleh Qatar Investment Authority senilai Rp7,8 triliun. "Almarhum Emir Hamad adalah sosok di balik kepercayaan investasi Qatar ke Indonesia. Beliau sangat menghormati stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi kami," kata pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Dr. Luthfi Zainuddin, peneliti hubungan internasional dari CSIS.

Dari Istana Al Wajbah hingga Masa Berkabung Nasional

Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani mengumumkan keputusan mengejutkan untuk turun takhta pada 25 Juni 2013, menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, yang saat itu berusia 33 tahun. Langkah ini disebut sebagai transfer kekuasaan sukarela paling stabil di kawasan Teluk, menjamin kontinuitas kebijakan dan pembangunan. Sejak itu, almarhum dikenal dengan gelar Bapak Emir atau "Emir yang Mengundurkan Diri", tetapi tetap aktif memberi nasehat di balik layar dan sesekali tampil dalam acara kenegaraan.

Amiri Diwan mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari dengan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung pemerintahan dan kedutaan Qatar di luar negeri. Jenazah akan dimakamkan di Pemakaman Al Rayyan setelah upacara kenegaraan yang hanya dihadiri keluarga inti dan pemimpin sahabat dekat. Namun, penyebab pasti kematiannya tidak diungkapkan ke publik, meski sejumlah sumber diplomatik menyebut bahwa sang Emir pendahulu telah berjuang melawan penyakit kronis dalam beberapa tahun terakhir.

Dari Asia Tenggara, Indonesia menjadi satu di antara negara pertama yang menyampaikan duka, mengingatkan kembali akan peran sentral almarhum dalam menjembatani dunia Islam dan Barat, sekaligus membangun koneksi ekonomi yang kokoh antara semenanjung Arab dan Nusantara. "Kepergian beliau adalah kehilangan besar, tidak hanya bagi Qatar tetapi juga bagi Indonesia yang telah lama merasakan manfaat dari visi dan kerja samanya," tutup pernyataan Kemlu RI.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User