IHSG Naik 0,83% dalam Sepekan, Asing Tetap Lepas Rp1,73 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup minggu lalu dengan catatan positif, meskipun gerak hariannya cenderung terbatas. Pada Jumat (penutupan), indeks bertengger di level 5.924,36, menguat tipis 0...

IHSG Naik 0,83% dalam Sepekan, Asing Tetap Lepas Rp1,73 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup minggu lalu dengan catatan positif, meskipun gerak hariannya cenderung terbatas. Pada Jumat (penutupan), indeks bertengger di level 5.924,36, menguat tipis 0,20% dari posisi sehari sebelumnya. Akumulasi penguatan sepanjang lima hari perdagangan mencapai 0,83%, menandai rebound moderat di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.

Dari Sektoral hingga Fundamental Pasar

Data perdagangan menunjukkan bahwa kenaikan IHSG pekan lalu lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang memiliki kapitalisasi besar. Sektor keuangan kembali menjadi motor penggerak, didukung oleh ekspektasi pemulihan kredit dan margin bunga bersih yang stabil. Saham-saham perbankan raksasa mencatatkan kenaikan rata-rata di atas indeks, seiring dengan derasnya arus likuiditas domestik. Sebaliknya, sektor pertambangan dan energi justru tertahan, dipengaruhi oleh koreksi harga komoditas global yang memicu aksi ambil untung setelah reli sebelumnya.

Volume transaksi harian rata-rata berada di kisaran 18 miliar saham dengan nilai perdagangan menembus Rp11 triliun. Meskipun belum sepenuhnya pulih ke level awal tahun, angka tersebut mengindikasikan partisipasi investor ritel yang masih cukup tinggi. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) bertambah sekitar Rp60 triliun menjadi total Rp7.200 triliun, menunjukkan bahwa secara umum bobot pasar tetap bergerak ke atas, walaupun selektif.

Asing Masih Net Sell, Tapi Mulai Selektif

Salah satu catatan penting yang mewarnai minggu lalu adalah aksi investor asing yang masih mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp1,73 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya, menandakan bahwa tekanan jual mulai melandai. Berdasarkan data, total penjualan asing mencapai Rp15,8 triliun sementara pembelian tercatat Rp14,07 triliun. Dengan demikian, selisih negatif tersebut memang masih cukup signifikan, namun penyebaran aliran dana memperlihatkan perubahan pola.

Beberapa analis menyebut faktor eksternal sebagai pemicu utama net sell, terutama kekhawatiran pengetatan likuiditas global pasca pidato pejabat bank sentral Amerika Serikat yang mengisyaratkan suku bunga tinggi lebih lama. Ditambah lagi, rilis data inflasi di negara maju yang melebihi ekspektasi sempat memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Investor asing masih wait and see terhadap prospek kebijakan The Fed. Namun, di saat yang sama, mereka tidak sepenuhnya meninggalkan saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Rotasi terjadi, bukan exit sepenuhnya,” ujar Ekonom Senior Samuel Sekuritas, Budi Santoso, dalam risetnya.

Sektor Tujuan di Tengah Arus Dana

Di balik net sell keseluruhan, ternyata tidak semua lini ditinggalkan. Sektor barang konsumsi dan perbankan justru mencatatkan net buy yang cukup menonjol dari investor institusi global. Saham-saham di sektor tersebut dianggap memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak inflasi dan kenaikan suku bunga, sementara valuasi setelah koreksi sebelumnya dinilai menarik. Di sektor konsumsi, misalnya, emiten dengan merek kuat dan neraca keuangan solid menjadi buruan, sedangkan di perbankan, preferensi tertuju pada bank dengan rasio kredit bermasalah yang rendah serta potensi dividen tinggi.

Saham-saham big cap yang selama ini menjadi favorit asing, seperti di segmen telekomunikasi dan infrastruktur, relatif bervariasi. Meskipun ada tekanan jual di beberapa hari awal, pembelian kembali terlihat pada akhir pekan, menandakan strategi akumulasi bertahap pada titik support teknikal. Pola ini mencerminkan bahwa investor asing kini lebih taktis, masuk di harga rendah dan keluar di harga tinggi, tanpa meninggalkan posisi jangka menengahnya.

Prospek Pasar ke Depan

Menghadapi pekan depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik, termasuk rilis neraca perdagangan dan indeks keyakinan konsumen. Dari sisi global, pergerakan indeks dolar dan yield obligasi Pemerintah AS masih akan menjadi sentimen utama yang membentuk arah aliran dana asing. Jika tekanan inflasi global mulai mereda, kemungkinan capital inflow kembali ke pasar Indonesia cukup besar, terutama dengan premi risiko yang relatif terjaga.

Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas menuju resisten 5.980 dalam jangka pendek. Level support kuat berada di 5.850, yang jika tertembus bisa memicu aksi jual lanjutan. Namun, fundamental ekonomi domestik yang solid—ditopang konsumsi yang stabil dan ekspor komoditas yang masih kompetitif—menjadi bantalan yang mencegah koreksi terlalu dalam. Dengan demikian, meski asing masih mencatatkan net sell, sinyal selektivitas mereka justru menunjukkan bahwa peluang tetap terbuka bagi saham-saham pilihan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User