Pencarian Remaja Hilang di Pantai Pererenan Setelah Terseret Ombak Besar

Mangupura – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih melakukan pencarian intensif terhadap seorang remaja yang dinyatakan hilang setelah terseret arus kuat di Pantai Pererenan, Kabupaten Badung, B...

Mangupura – Tim Search and Rescue (SAR) gabungan masih melakukan pencarian intensif terhadap seorang remaja yang dinyatakan hilang setelah terseret arus kuat di Pantai Pererenan, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu sore (29/3). Korban yang belum diketahui nasibnya itu diduga tenggelam saat berenang bersama dua rekannya, ketika gelombang tinggi tiba-tiba menghantam kawasan pesisir yang populer di kalangan peselancar tersebut.

Berdasarkan keterangan saksi dan aparat setempat, insiden bermula ketika tiga remaja—seluruhnya warga Denpasar—bermain air di zona yang tidak diawasi penjaga pantai. Gelombang besar yang datang secara sporadis sejak pagi hari membuat dua dari mereka langsung terseret ke tengah. Satu orang berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi setelah berjuang melawan arus balik, sementara satu rekannya yang lain masih dalam pencarian hingga Senin (30/3) pagi. Tim SAR menemukan satu unit papan selancar yang diduga milik korban terdampar di sekitar lokasi kejadian sekitar pukul 17.45 WITA, beberapa jam setelah kejadian.

Kronologi Kejadian dan Reaksi Cepat Tim SAR

Menurut keterangan Kepala Kantor Basarnas Bali, operasi pencarian dimulai pukul 14.30 WITA begitu laporan diterima dari warga setempat. “Kami langsung menurunkan dua tim: satu melakukan penyisiran di darat sepanjang 2,5 kilometer garis pantai dari Pererenan hingga Pantai Seseh, dan satu lagi menggunakan perahu karet untuk pencarian di permukaan laut,” ujarnya. Area pencarian difokuskan pada radius 1 mil laut dari titik hilangnya korban, dengan mempertimbangkan arah arus dominan ke barat daya.

Rekan korban yang selamat, berinisial A (17), sempat memberikan keterangan bahwa ia melihat korban terbawa arus sekitar 50 meter dari bibir pantai sebelum akhirnya tenggelam. “Waktu itu ombaknya susulan sekali, saya fokus bertahan. Teman saya sempat teriak minta tolong, tapi ombak berikutnya sudah langsung menutup,” tuturnya dalam keadaan shock saat diwawancarai petugas. Informasi ini menjadi dasar bagi tim SAR untuk memperluas jangkauan pencarian hingga ke perairan lebih dalam menggunakan sonar dari KRI yang dikerahkan TNI AL.

Kondisi Gelombang dan Peringatan Dini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar sebelumnya telah merilis peringatan dini gelombang tinggi untuk perairan selatan Bali, termasuk Pantai Pererenan, dengan ketinggian estimasi 2,5 hingga 3,5 meter pada siang hingga malam hari. Peringatan itu sudah disebarluaskan melalui kanal resmi dan dipasang di beberapa titik pantai. Namun, tidak adanya petugas penjaga pantai permanen di kawasan Pererenan—yang lebih dikenal sebagai spot selancar—kerap membuat wisatawan abai terhadap imbauan keselamatan.

“Pantai Pererenan memiliki kontur dasar laut yang curam dengan palung cukup dekat dari garis pasang surut. Hal ini menyebabkan arus balik (rip current) sangat kuat, terutama saat gelombang besar. Banyak pengunjung tidak menyadari bahaya ini karena permukaan air terlihat tenang di antara dua hempasan ombak,” jelas seorang peneliti oseanografi dari Universitas Udayana. Kondisi serupa pernah memakan korban pada tahun sebelumnya, yakni seorang turis asing yang terseret di lokasi yang hampir sama.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung mencatat, sepanjang 2025 hingga Maret 2026, terdapat 12 kasus kecelakaan laut di pesisir barat Badung, dengan 8 di antaranya berakibat fatal. Sebagian besar dipicu oleh ketidakpatuhan terhadap rambu peringatan dan kurangnya pengawasan.

Kendala di Lapangan dan Harapan Menemukan Korban

Operasi pencarian menghadapi sejumlah tantangan. Selain tinggi gelombang yang mencapai 2,5 meter pada Senin pagi, visibilitas di bawah laut berkurang akibat tingginya kandungan sedimen yang terbawa arus. Hujan ringan yang turun sesekali turut menghambat koordinasi udara menggunakan drone yang biasa difungsikan untuk memperluas pandangan. Meski demikian, tim SAR mengerahkan 47 personel gabungan dari Basarnas, Polairud, TNI AL, dan relawan masyarakat, ditambah dua perahu karet, satu jetski, dan peralatan selam teknis.

Keluarga korban yang bermukim di Denpasar turut hadir di posko darurat sejak semalam. Mereka berharap korban segera ditemukan meski peluang hidup semakin tipis setelah melewati batas 24 jam. “Kami masih berdoa dan percaya ada keajaiban. Yang penting adik saya bisa pulang, apapun kondisinya,” ujar kakak korban sambil menahan tangis. Dukungan psikologis telah diberikan oleh tim Dinas Sosial setempat untuk membantu keluarga menghadapi situasi genting ini.

Di sisi lain, insiden ini kembali memantik diskusi publik tentang perlunya peningkatan fasilitas keselamatan di pantai-pantai non-komersial di Bali. Sejumlah tokoh masyarakat mendesak pemasangan tanda peringatan permanen berbahasa Indonesia dan Inggris, serta penyediaan alat pelampung darurat di titik-titik rawan. Sementara itu, komunitas peselancar setempat secara sukarela ikut membantu pencarian dengan menyisir garis karang dan area tubir yang sulit dijangkau perahu karet.

Hingga berita ini diturunkan, korban masih berstatus hilang. Tim SAR memperkirakan akan melanjutkan pencarian hingga tiga hari ke depan dan akan melakukan evaluasi secara berkala. Masyarakat diimbau untuk sementara waktu tidak beraktivitas terlalu dekat dengan garis pantai hingga gelombang dinyatakan aman oleh otoritas berwenang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User