Harga Telur Anjlok, Peternak di Bawah Tekanan Biaya Pakan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemantauan harga di sejumlah pasar induk per kuartal terakhir, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara...

Oct 08, 2026 - 19:11
0 1
Harga Telur Anjlok, Peternak di Bawah Tekanan Biaya Pakan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemantauan harga di sejumlah pasar induk per kuartal terakhir, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan yang cukup dalam, sementara biaya pakan justru terus menanjak. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi para peternak ayam petelur yang kini menghadapi margin keuntungan yang tergerus, bahkan tidak sedikit yang terpaksa mengosongkan kandang karena tidak sanggup menutup biaya operasional.

Fenomena ini menarik dicermati dari dua sisi. Di satu sisi, penurunan harga telur di tingkat produsen bisa menjadi angin segar bagi konsumen rumah tangga karena harga eceran berpotensi lebih terjangkau. Di sisi lain, tekanan yang berlangsung terus-menerus terhadap peternak berisiko mengganggu keberlanjutan pasokan nasional dalam jangka menengah, karena banyak peternak skala kecil dan menengah memilih mengurangi populasi ayam atau menghentikan produksi sementara.

Dinamika Harga dan Biaya Pakan yang Tidak Seimbang

Merujuk pada pola historis harga komoditas pangan, harga telur memiliki karakteristik fluktuatif yang dipengaruhi sentimen pasar, siklus produksi, serta musim. Namun yang menjadi persoalan utama saat ini adalah arah pergerakan harga yang berlawanan dengan biaya input. Harga pakan konsentrat, yang komponen utamanya adalah jagung dan bungkil kedelai, mengalami kenaikan year-on-year seiring pelemahan nilai tukar dan kenaikan harga komoditas global. Pakan menyumbang sekitar 70 hingga 75 persen dari total struktur biaya produksi peternak, sehingga kenaikan pada pos ini langsung menggerus profitabilitas.

Secara rasio, jika harga telur di tingkat peternak turun sementara biaya pakan naik, maka margin per kilogram telur bisa menyusut drastis, bahkan negatif. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan likuiditas peternak skala kecil yang umumnya tidak memiliki akses memadai ke permodalan formal. Banyak di antara mereka mengandalkan arus kas harian dari penjualan telur untuk membeli pakan, sehingga ketika harga jual turun, kemampuan membeli pakan ikut melemah.

"Siklus harga pangan unggas memang berulang, tetapi yang membedakan kali ini adalah kenaikan biaya pakan yang cukup persisten. Peternak dengan skala kecil paling rentan karena tidak punya bantalan modal," ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dalam sebuah diskusi publik.

Dampak Berantai ke Rantai Pasok dan Inflasi Pangan

Penurunan harga di tingkat produsen tidak selalu langsung dinikmati konsumen. Dalam rantai pasok, terdapat pedagang perantara, distribusi, dan margin ritel yang membuat transmisi harga berjalan tidak sempurna. Akibatnya, selisih antara harga di kandang dan harga di pasar bisa melebar, terutama ketika permintaan rumah tangga sedang tidak elastis. Ini menciptakan anomali: konsumen belum tentu mendapat harga murah, sementara peternak sudah menanggung kerugian.

Jika tren ini berlanjut, dampak berantai bisa terasa pada beberapa kuartal ke depan. Pengurangan populasi ayam petelur akibat kandang yang dikosongkan berpotensi menurunkan produksi nasional. Ketika pasokan menyusut, harga bisa berbalik naik tajam dan berkontribusi pada volatilitas inflasi pangan bergejolak atau volatile food. Di sisi lain, ada argumen bahwa penurunan harga saat ini merupakan koreksi alami setelah periode ekspansi populasi yang cukup agresif pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga pasar sedang menyeimbangkan diri.

Dari kacamata fundamental, sektor peternakan rakyat membutuhkan kepastian pada dua hal: kestabilan harga input dan akses pasar yang adil. Tanpa itu, proyeksi produksi nasional menjadi sulit dicapai dan ketahanan pangan hewani berisiko terganggu. Pemerintah memiliki instrumen seperti operasi pasar, penyerapan stok, serta bantuan pakan bersubsidi, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan sasaran distribusi.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Di satu sisi, intervensi kebijakan berupa stabilisasi harga dan bantuan input dapat meredakan tekanan jangka pendek serta menjaga keberlanjutan usaha peternak. Di sisi lain, intervensi yang tidak dirancang dengan baik berpotensi menciptakan distorsi pasar dan mengurangi insentif efisiensi. Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang antara perlindungan produsen dan disiplin pasar menjadi kunci.

Ke depan, beberapa faktor perlu dicermati: pergerakan harga jagung dan kedelai impor, nilai tukar rupiah, serta pola permintaan musiman pada periode hari besar keagamaan. Jika biaya pakan mereda dan permintaan meningkat, harga telur berpotensi kembali ke level yang lebih sehat. Namun bila tekanan berlanjut, konsolidasi usaha kemungkinan besar terjadi, dengan peternak kecil tersingkir dan struktur pasar dikuasai pemain besar. Pada akhirnya, keseimbangan antara kepentingan konsumen, peternak, dan stabilitas pasokan nasional akan menjadi ukuran keberhasilan pengelolaan sektor ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User