Gubernur DKI Tinjau Proyek LRT Fase 1B, Kontraktor Optimis Selesai Tepat Waktu

Jakarta kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas jaringan transportasi massal berbasis rel. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada awal pekan ini melakukan inspeksi langsung ke area konstruksi...

Gubernur DKI Tinjau Proyek LRT Fase 1B, Kontraktor Optimis Selesai Tepat Waktu

Jakarta kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas jaringan transportasi massal berbasis rel. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada awal pekan ini melakukan inspeksi langsung ke area konstruksi LRT Jakarta Fase 1B yang menghubungkan Velodrome dengan Manggarai. Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah provinsi menempatkan proyek tersebut sebagai prioritas utama untuk mengurai kemacetan kronis di ibu kota.

Target Penyelesaian dan Kemajuan Fisik

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, proyek yang digarap oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk ini telah mencapai kemajuan konstruksi sekitar 52 persen per awal Juli 2026. Lintasan sepanjang 6,4 kilometer itu akan memiliki lima stasiun: Pemuda, Pramuka, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai. Waskita menargetkan operasional penuh pada kuartal keempat 2027, lebih cepat tiga bulan dari jadwal kontraktual awal.

Direktur Utama Waskita Karya dalam keterangan tertulisnya menyatakan bahwa perusahaan telah mengalokasikan sumber daya maksimal untuk memastikan setiap segmen selesai tanpa deviasi waktu. "Kami menerapkan sistem penjadwalan berbasis aplikasi yang memungkinkan pemantauan harian serapan tenaga kerja dan material. Ini bagian dari strategi agar tidak ada pekerjaan yang molor," ujarnya. Pada kunjungan tersebut, Pramono juga sempat meninjau langsung pemasangan box girder di kawasan Matraman yang menjadi titik tersulit karena harus melintasi jalur kereta api eksisting.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Kehadiran LRT Fase 1B diharapkan mampu mengubah pola mobilitas warga. Saat ini, rata-rata waktu tempuh dari Rawamangun ke Manggarai mencapai 50–70 menit menggunakan kendaraan pribadi pada jam sibuk. LRT akan memangkasnya menjadi 18–22 menit dengan kapasitas angkut hingga 12.000 penumpang per jam per arah. Integrasi dengan Stasiun Manggarai, yang merupakan simpul utama KRL Commuter Line, diproyeksikan mendorong perpindahan moda hingga 30 persen dari pengguna kendaraan pribadi di koridor timur-selatan Jakarta.

Dari sisi ekonomi, proyek senilai Rp 4,1 triliun ini menciptakan sekitar 1.800 lapangan kerja langsung selama masa konstruksi. Usaha mikro di sekitar stasiun juga mulai bergeliat; sejumlah pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Pramuka melaporkan kenaikan omset hingga dua kali lipat sejak dimulainya pembangunan. Namun, terdapat pula keluhan dari pengendara yang harus berhadapan dengan penyempitan jalan di beberapa titik, terutama di persimpangan Pasar Pramuka.

Di satu sisi, proyek ini mendapat apresiasi karena akan mengurangi emisi karbon hingga 40.000 ton CO2 per tahun jika target perpindahan penumpang tercapai. Di sisi lain, sejumlah pengamat transportasi mengingatkan bahwa tanpa perbaikan akses pejalan kaki dan parkir sepeda yang memadai, potensi last-mile connectivity belum maksimal. Pramono sendiri mengakui adanya pekerjaan rumah tersebut dan berjanji akan mengintegrasikan jalur sepeda serta halte Transjakarta di setiap stasiun.

Tantangan Teknis dan Antisipasi

Pelaksana proyek harus menghadapi sejumlah tantangan teknis, terutama di segmen elevated yang bersinggungan dengan gardu listrik PLN dan utilitas bawah tanah milik berbagai operator telekomunikasi. Proses pemindahan utilitas sempat memakan waktu enam bulan lebih lama dari rencana, namun berhasil dikebut dengan skema kerja 24 jam di area-area kritis. Waskita Karya juga mengerahkan teknologi balanced cantilever untuk membangun jembatan di atas rel kereta tanpa mengganggu operasional KRL.

Dari sisi pendanaan, proyek ini menggunakan skema pinjaman daerah yang telah disetujui DPRD dengan bunga kompetitif dari lembaga perbankan multilateral. Auditor independen akan melakukan evaluasi setiap enam bulan untuk memastikan penggunaan anggaran sesuai prinsip tata kelola yang baik. Transparansi ini menjadi penting mengingat sorotan publik terhadap proyek infrastruktur yang kerap mengalami pembengkakan biaya.

Dalam kunjungannya, Pramono menekankan pentingnya koordinasi antarpihak. "Saya tidak ingin proyek ini hanya selesai tepat waktu secara fisik, tapi juga siap secara operasional dan terintegrasi penuh dengan moda lain. Pengalaman fase pertama mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak hanya soal rel dan kereta, tetapi juga soal kenyamanan penumpang," katanya di hadapan awak media.

Dengan waktu yang tersisa sekitar 15 bulan menuju penyelesaian target, seluruh mata kini tertuju pada kemampuan para pihak menjaga ritme konstruksi. Bila berhasil, Jakarta akan memiliki tulang punggung transportasi baru yang menghubungkan kawasan padat penduduk di timur dengan pusat transit di selatan, sekaligus menjadi batu loncatan bagi pengembangan fase berikutnya menuju Dukuh Atas dan Senayan. Masyarakat pun menanti, sejauh mana janji tepat waktu itu akan menjadi kenyataan di tengah kompleksitas kota yang tidak pernah tidur.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User