Enam Maskapai Siapkan Rute Baru di Husein, Super Air Jet-Garuda Terdepan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung per Februari 2025, sektor transportasi udara di Jawa Barat tengah bersiap memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun mengandalkan Bandara Int...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung per Februari 2025, sektor transportasi udara di Jawa Barat tengah bersiap memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun mengandalkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pintu utama, rencana pengaktifan kembali penerbangan komersial di Bandara Husein Sastranegara Bandung kini memasuki tahap konkret. Enam maskapai nasional, termasuk Super Air Jet dan Garuda Indonesia, telah mengajukan proposal rute kepada PT Angkasa Pura Indonesia, menandai potensi kebangkitan konektivitas udara dari pusat kota Bandung.
Langkah ini tidak terlepas dari dinamika ekonomi regional. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bandung pada 2024 tumbuh 5,1% year-on-year, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan kebangkitan sektor pariwisata. Namun, tingkat keterisian hotel berbintang di Bandung Raya baru mencapai 58% pada kuartal IV 2024, masih di bawah level prapandemi sebesar 72%. Ketersediaan penerbangan langsung dari pusat kota diyakini dapat mengerek angka kunjungan wisatawan dan pelaku bisnis, khususnya dari koridor Jakarta—yang selama ini menjadi pasar utama via kereta cepat Whoosh dan jalan tol—serta dari kota-kota lain di Indonesia.
Usulan Rute dan Spesifikasi Operasional
Dari enam maskapai yang melayangkan minat, dua nama besar yaitu Super Air Jet dan Garuda Indonesia menyodorkan portofolio rute yang cukup agresif. Super Air Jet, maskapai bertarif rendah yang tengah menggarap segmen milenial dan wisatawan domestik, mengusulkan penerbangan harian menuju Denpasar, Medan, dan Surabaya. Sementara itu, Garuda Indonesia merencanakan layanan full-service ke Surabaya, Jakarta (Halim Perdanakusuma), dan Balikpapan. Adapun empat maskapai lainnya—Citilink, Lion Air, Batik Air, dan Wings Air—mengisi celah rute komuter dan regional seperti Semarang, Yogyakarta, dan Pangandaran, meskipun dengan frekuensi terbatas.
Spesifikasi teknis menjadi pertimbangan krusial. Landasan pacu Bandara Husein sepanjang 2.250 meter hanya mampu mengakomodasi pesawat berbadan sempit (narrow-body) seperti Boeing 737-800NG dan Airbus A320 dengan muatan terbatas, terutama saat kondisi cuaca kurang bersahabat. Berdasarkan data Angkasa Pura Indonesia, kapasitas apron eksisting hanya dapat menampung empat pesawat secara bersamaan, sehingga potensi penumpukan jadwal (slot time) akan menjadi isu jika keenam maskapai beroperasi penuh.
“Kami telah menerima enam proposal rute dan tengah melakukan kajian kelayakan operasional dan keselamatan. Fokus utama adalah memastikan slot time yang terukur agar tidak terjadi overload di jam sibuk,” ungkap Kepala Cabang PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Husein Sastranegara, yang dikutip dari forum internal perusahaan.
Pro: Akselerasi Ekonomi dan Konektivitas
Di satu sisi, pengaktifan rute-rute ini membawa potensi ekonomi yang signifikan. Dengan kembalinya penerbangan langsung dari Husein, waktu tempuh dari pusat kota Bandung ke airport hanya sekitar 15-20 menit, jauh lebih ringkas dibandingkan perjalanan darat menuju Kertajati yang memakan waktu 2-3 jam. Hal ini diharapkan mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing pelaku usaha kecil-menengah (UKM) di sektor fesyen dan kuliner yang bergantung pada mobilitas cepat.
Dari sisi makro, setiap 1% peningkatan konektivitas udara domestik berkontribusi sekitar 0,3% terhadap pertumbuhan PDRB regional, berdasarkan studi Bank Indonesia. Dengan asumsi tambahan enam rute baru berpotensi mengerek traffic penumpang di Husein ke level 1,5-2 juta penumpang per tahun (dari basis rendah 90 ribu pada 2024), dampak berganda bagi perhotelan, restoran, dan jasa transportasi darat bisa mencapai Rp600-800 miliar per tahun.
Kontra: Beban Infrastruktur dan Risiko Overcapacity
Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Runway yang pendek dan apron terbatas membuat pola operasi menjadi tidak fleksibel. Jika seluruh maskapai memaksakan frekuensi tinggi, potensi delay beruntun dan pembatalan penerbangan meningkat. Pengalaman 2019, saat lalu lintas Husein menembus 4,3 juta penumpang dengan 36 rute, menunjukkan tingkat ketepatan waktu (on-time performance/OTP) anjlok ke 72%, di bawah standar pelayanan minimal 85%. Kemacetan apron saat itu kerap memaksa pesawat menunggu hingga 45 menit di udara untuk antre mendarat.
Kekhawatiran lain adalah kanibalisasi rute dengan Kertajati. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menginvestasikan dana besar untuk BIJB Kertajati sebagai hub utama, didukung akses Tol Cisumdawu dan rencana kereta api bandara. Pengaktifan kembali Husein tanpa mekanisme penjadwalan yang ketat dapat menggerus volume penumpang Kertajati yang saat ini masih di bawah target—hanya 600 ribu penumpang pada 2024 dari kapasitas 5,6 juta. Hal ini berpotensi menimbulkan inefisiensi alokasi modal publik.
“Kami melihat rencana ini sebagai pedang bermata dua. Peningkatan akses dari pusat kota memang menggairahkan pasar, namun tanpa koordinasi slot yang ketat, revenue Kertajati bisa tergerus. Yang ideal adalah pembagian peran: Husein untuk rute jarak pendek-menengah, Kertajati untuk jarak jauh dan kargo,” kata ekonom transportasi dari Universitas Padjadjaran, Dr. Haris Nugroho, dalam wawancara media pekan lalu.
Proyeksi dan Sentimen Pasar
Sentimen investor terhadap sektor transportasi dan pariwisata Jawa Barat menunjukkan optimisme terukur. Indeks saham sektor perhotelan dan properti komersial di Bandung mencatat kenaikan 2,3% dalam sepekan sejak bocoran rencana ini merebak. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp15.800 per dolar AS menjadi variabel penekan biaya avtur dan sewa pesawat, mengingat mayoritas komponen biaya maskapai berbasis valuta asing. Namun, jika realisasi rute baru disertai peningkatan load factor di atas 80%, maskapai masih memiliki margin operasional yang memadai.
Dalam skenario moderat, Angkasa Pura Indonesia diproyeksikan hanya menyetujui 3-4 rute baru pada tahap awal, dengan total 12-14 slot harian. Super Air Jet dan Garuda kemungkinan besar menjadi prioritas karena menyasar segmen berbeda: low-cost untuk wisatawan domestik dan full-service untuk korporasi. Keputusan final diharapkan terbit pada kuartal II 2025, setelah evaluasi keselamatan dan koordinasi dengan TNI AU selaku pengelola utama pangkalan udara Husein.
Apapun hasil akhirnya, rencana ini menandai perubahan paradigma: Bandung tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu gerbang udara. Bagi pelaku bisnis dan wisatawan, pulihnya fungsi Husein sebagai bandara komersial ibarat mengembalikan denyut nadi ekonomi kota kembang yang sempat melemah.
Baca juga:
Comments (0)