Oct 10, 2026
Bisnis

Defisit APBN Rp319 Triliun per September 2026, Pemerintah Klaim Masih Terkendali

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir September 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit sebesar Rp319 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 1,4 persen terh...

Defisit APBN Rp319 Triliun per September 2026, Pemerintah Klaim Masih Terkendali

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir September 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit sebesar Rp319 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 1,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau masih berada di bawah batas maksimal 3 persen PDB yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Keseimbangan primer (primary balance) dilaporkan positif, yang berarti penerimaan negara masih mampu menutup belanja di luar pembayaran bunga utang.

Defisit anggaran adalah selisih antara pendapatan dan belanja negara dalam satu periode. Dalam bahasa sederhana, negara membelanjakan lebih banyak dibandingkan yang dikumpulkan dari pajak, bea cukai, dan penerimaan bukan pajak. Keseimbangan primer positif menjadi indikator penting karena menunjukkan bahwa pemerintah tidak meminjam hanya untuk membayar bunga utang, melainkan untuk membiayai pembangunan.

Pro: Kinerja Fiskal Dinilai Masih dalam Koridor Aman

Di satu sisi, pemerintah menegaskan bahwa kinerja APBN hingga kuartal III 2026 masih kuat dan on track. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa defisit yang terkendali ini mencerminkan disiplin fiskal yang terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penerimaan perpajakan tumbuh secara year-on-year, ditopang oleh sektor komoditas dan konsumsi rumah tangga yang stabil.

"Pada akhir September 2026 kinerja APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif dan defisit yang terkendali," ujar Suahasil dalam keterangan resminya.

Dari kaca mata analis, rasio defisit terhadap PDB yang berada di kisaran 1,4 persen memberikan ruang fiskal yang memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Rasio utang terhadap PDB juga masih di bawah 40 persen, lebih rendah dibandingkan banyak negara emerging market lain. Likuiditas pasar keuangan domestik dinilai cukup dalam menyerap penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), sehingga risiko crowding out terhadap kredit perbankan relatif terbatas.

Belanja pemerintah yang terealisasi sebagian besar diarahkan pada program perlindungan sosial, infrastruktur, dan transfer ke daerah. Ini berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat, yang pada akhirnya menopang pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen.

Kontra: Kewaspadaan terhadap Tren Pelemahan Penerimaan

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa angka defisit Rp319 triliun perlu dibaca dengan hati-hati. Tren penerimaan pajak yang melambat akibat penurunan harga komoditas global menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Fundamen ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, terutama perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat, berpotensi menekan sentimen pasar dan memicu capital outflow dari pasar keuangan domestik.

Capital outflow adalah aliran modal keluar dari suatu negara, yang bisa melemahkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri. Jika pendapatan negara tidak tumbuh sesuai target, pemerintah berisiko melebihi proyeksi defisit di akhir tahun. Belanja subsidi energi juga menjadi beban tersendiri jika harga minyak dunia kembali naik.

Selain itu, porsi belanja untuk pembayaran bunga utang terus meningkat seiring bertambahnya stok utang. Meski keseimbangan primer positif, ruang fiskal untuk belanja produktif bisa tergerus jika rasio bunga terhadap penerimaan tidak dikelola dengan hati-hati. Valuasi pasar obligasi juga rentan terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global.

Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan

Pasar obligasi merespons data ini dengan relativitas tenang. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun bergerak terbatas, mencerminkan ekspektasi investor yang masih percaya pada kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia. Indeks kepercayaan konsumen juga terjaga di zona optimistis, menandakan bahwa kebijakan fiskal ekspansif masih diterima pelaku ekonomi.

Ke depan, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara stimulus pertumbuhan dan konsolidasi fiskal. Proyeksi defisit tahunan akan sangat bergantung pada realisasi penerimaan di kuartal IV, terutama dari sektor pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan badan. Jika target penerimaan tercapai, defisit APBN 2026 berpotensi ditutup di bawah 2 persen PDB.

Bagi pembaca awam, angka Rp319 triliun mungkin terlihat besar, tetapi konteksnya adalah ukuran ekonomi nasional yang mencapai ribuan triliun rupiah. Yang terpenting bukan sekadar besaran defisit, melainkan bagaimana defisit itu dibiayai dan apakah belanjanya produktif. Portofolio kebijakan fiskal yang prudent, transparan, dan terukur akan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User