Berdasarkan data Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara per awal 2025, kontribusi sektor hilirisasi terhadap total realisasi investasi nasional dilaporkan menembus angka 30 persen. Angka ini menandai kenaikan signifikan dibanding periode sebelumnya yang berkisar di level 20-an persen. Hilirisasi sendiri merujuk pada strategi mengolah bahan mentah di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi, alih-alih mengekspornya dalam bentuk mentah.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan capaian tersebut dalam kunjungan kerja ke kawasan industri di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kawasan ini menjadi episentrum pengolahan nikel yang belakangan menyedot arus modal besar, baik dari investor domestik maupun asing. Menurutnya, pergeseran struktur investasi ini mencerminkan tren yang lebih fundamental, bukan sekadar sentimen pasar jangka pendek.
Di Satu Sisi: Sinyal Pergeseran Struktur Ekonomi
Pengamat menilai lonjakan porsi hilirisasi ini sebagai indikasi awal transformasi industrialisasi. Selama puluhan tahun, struktur ekspor Indonesia didominasi komoditas mentah dengan nilai tambah rendah, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global. Dengan mengolah nikel, bauksit, tembaga, hingga bauksit menjadi produk setengah jadi atau jadi, nilai ekspor per ton bisa melonjak berkali-kali lipat.
Angka 30 persen ini pun dianggap penting karena menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi menjadi wacana, melainkan sudah menggerakkan portofolio investasi riil. Sektor ini disebut turut menopang penciptaan lapangan kerja, penerimaan negara dari royalti dan pajak, serta pengembangan kawasan industri terpadu. Dari kacamata makro, kontribusi ini membantu menjaga likuiditas investasi di tengah ketidakpastian global dan tekanan capital outflow dari pasar keuangan.
"Hilirisasi bukan proyek sesaat. Ini perubahan fundamental dalam cara kita mengelola sumber daya alam," ujar Rosan dalam keterangannya.
Di Sisi Lain: Tantangan Valuasi dan Ketergantungan Komoditas
Namun, sejumlah ekonom mengingatkan agar capaian ini tidak dibaca secara linear. Kenaikan porsi hilirisasi sebagian besar masih bertumpu pada komoditas mineral, terutama nikel. Artinya, risiko konsentrasi sektor tetap tinggi. Bila harga nikel global mengalami penurunan tajam, proyeksi penerimaan dan valuasi proyek bisa ikut tertekan.
Selain itu, ada pertanyaan mengenai seberapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di dalam negeri. Beberapa studi menyoroti bahwa smelter dan industri pengolahan masih bergantung pada peralatan impor, tenaga kerja asing terampil, serta energi yang intensif. Rasio kandungan lokal pun menjadi sorotan, karena hilirisasi idealnya diikuti penguatan rantai pasok domestik, bukan sekadar memindahkan titik ekspor.
Dari sisi lingkungan, ekspansi industri pengolahan mineral di kawasan timur Indonesia memunculkan kekhawatiran soal deforestasi, limbah tailing, dan tekanan pada sumber daya air. Isu tata kelola ini berpotensi memengaruhi sentimen investor jangka panjang, terutama investor institusi yang menerapkan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) ketat.
Proyeksi dan Indeks Kinerja ke Depan
Ke depan, keberlanjutan tren ini akan bergantung pada beberapa faktor. Pertama, kepastian regulasi, termasuk aturan larangan ekspor bahan mentah yang menjadi pemicu utama arus investasi. Kedua, ketersediaan energi bersih, karena banyak pembeli global mulai menuntut jejak karbon rendah pada produk olahan. Ketiga, kemampuan membangun sumber daya manusia lokal agar nilai tambah benar-benar berakar.
Bila tiga prasyarat itu terpenuhi, porsi hilirisasi berpotensi menembus 35 hingga 40 persen dalam beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, bila hanya mengandalkan ekspansi smelter tanpa diversifikasi, risiko guncangan eksternal akan tetap membayangi. Pada akhirnya, angka 30 persen lebih tepat dibaca sebagai titik awal, bukan garis akhir, dari perjalanan industrialisasi yang jauh lebih panjang.
Comments (0)