BRIN Luncurkan Olimpus FCCUS, Serap 5,5 Ton CO2 per Tahun
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per Oktober 2026, Indonesia mencatatkan terobosan baru dalam teknologi penyerapan karbon perkotaan melalui sistem bernama Olimpus FCCUS. Teknol...
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per Oktober 2026, Indonesia mencatatkan terobosan baru dalam teknologi penyerapan karbon perkotaan melalui sistem bernama Olimpus FCCUS. Teknologi berbasis mikroalga ini diklaim mampu menyerap 5,5 ton karbon dioksida (CO2) setiap tahun hanya dengan memanfaatkan lahan seluas 25 meter persegi. Angka tersebut setara dengan kemampuan serapan 110 pohon mahoni dewasa yang biasanya membutuhkan ruang jauh lebih luas. Bagi pembaca awam, mikroalga adalah organisme renik bersel tunggal yang hidup di air dan memiliki kemampuan fotosintesis jauh lebih efisien dibanding tanaman darat karena seluruh permukaan tubuhnya aktif menyerap karbon.
Efisiensi Lahan dan Konteks Emisi Nasional
Di satu sisi, inovasi ini menawarkan solusi yang relevan dengan kondisi perkotaan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, emisi gas rumah kaca nasional pada 2023 mencapai sekitar 1,3 gigaton CO2 ekuivalen, dengan kontribusi signifikan dari sektor energi dan transportasi di kawasan urban. Keterbatasan ruang terbuka hijau di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung membuat penanaman pohon massal sering terkendala harga lahan dan tata ruang. Rasio ruang terbuka hijau publik di DKI Jakarta tercatat baru sekitar 20 persen dari luas wilayah, di bawah amanat Undang-Undang Penataan Ruang sebesar 30 persen. Dalam konteks ini, teknologi mikroalga menawarkan efisiensi spasial yang sulit ditandingi pendekatan konvensional.
Dari sisi ekonomi, sistem ini juga berpotensi membuka peluang baru. Biomassa mikroalga yang dihasilkan dapat diolah menjadi bahan baku biofuel, pupuk organik, hingga suplemen pangan kaya protein. Artinya, selain fungsi dekarbonisasi, terdapat potensi nilai tambah ekonomi sirkular yang dapat memperkuat kelayakan investasi jangka panjang. Proyeksi awal menunjukkan jika teknologi ini direplikasi di 1.000 titik perkotaan, potensi serapan karbon bisa mencapai 5.500 ton CO2 per tahun, setara dengan menghilangkan emisi sekitar 1.200 unit mobil penumpang selama setahun.
Pro: Terobosan Riset dan Peluang Skala
Pro: pendekatan ini menunjukkan bahwa riset domestik mampu menghasilkan teknologi tepat guna yang menjawab persoalan iklim dengan sumber daya terbatas. Keunggulan mikroalga terletak pada laju pertumbuhan yang cepat, bahkan beberapa spesies dapat menggandakan biomassa dalam hitungan jam. Laju fotosintesisnya dilaporkan 10 hingga 50 kali lebih tinggi dibanding tanaman terestrial per satuan luas. Skema modular Olimpus FCCUS memungkinkan pemasangan di atap gedung, area parkir, atau median jalan, sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan lahan permukiman. Pendekatan ini sejalan dengan strategi Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang menargetkan penurunan emisi 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030.
"Teknologi mikroalga bukan sekadar simbolis, tetapi instrumen terukur yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio dekarbonisasi perkotaan," ujar seorang peneliti BRIN dalam paparan pengembangan sistem tersebut.
Kontra: Skalabilitas, Biaya, dan Tantangan Likuiditas Riset
Kontra: sejumlah ekonom dan pengamat kebijakan iklim mempertanyakan skalabilitas serta struktur biaya jangka panjang. Serapan 5,5 ton CO2 memang signifikan pada level unit, namun bila dibandingkan total emisi nasional, kontribusinya masih tergolong marjinal. Untuk mencapai dampak makro, dibutuhkan ribuan unit dengan kebutuhan investasi awal yang besar. Biaya operasional mencakup pasokan nutrisi, pengaturan suhu, pencahayaan tambahan, serta pemeliharaan kultur mikroalga yang rentan terhadap kontaminasi. Belum ada data publik yang merinci biaya per ton CO2 yang diserap, sehingga valuasi ekonomi dan kelayakan finansialnya masih sulit diukur secara transparan.
Selain itu, tantangan likuiditas anggaran riset menjadi catatan penting. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, alokasi anggaran riset nasional masih berada di kisaran 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 2,4 persen. Keterbatasan ini menimbulkan risiko keberlanjutan pengembangan teknologi, terutama saat memasuki fase komersialisasi. Tanpa skema pembiayaan campuran dari sektor swasta dan insentif fiskal yang jelas, teknologi ini berpotensi berhenti pada tahap prototipe. Sentimen pasar terhadap proyek hijau juga fluktuatif, bergantung pada arah kebijakan karbon dan harga kredit karbon internasional.
Dari perspektif fundamental, keberhasilan Olimpus FCCUS akan sangat ditentukan oleh integrasi ke dalam kerangka regulasi, seperti nilai ekonomi karbon dan perbankan karbon. Indeks pembangunan rendah karbon perlu diperkuat agar teknologi semacam ini memiliki pasar yang jelas. Keseimbangan antara optimisme riset dan disiplin anggaran akan menjadi penentu apakah inovasi ini mampu naik dari laboratorium menuju lanskap perkotaan Indonesia secara luas.
Comments (0)