Oct 13, 2026
Bisnis

BRI Rangkai Ekonomi Lokal dan Sport Tourism di Mandalika 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan sports tourism atau wisata olahraga menjadi s...

BRI Rangkai Ekonomi Lokal dan Sport Tourism di Mandalika 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan sports tourism atau wisata olahraga menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat, yakni 11,3 persen year-on-year. Dalam konteks itu, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 bukan sekadar perhelatan balap, melainkan simpul ekonomi yang menarik perhatian banyak pihak, termasuk perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menempatkan diri sebagai penyangga ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar sirkuit, sekaligus menguji sejauh mana gelaran internasional mampu meneteskan manfaat ke kantong pelaku usaha lokal. PDB adalah total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu, dan angka 4,2 persen itu menandakan pariwisata masih menjadi motor penting, meski belum dominan.

Pertumbuhan Ekonomi Lokal dan Serapan Tenaga Kerja

Di satu sisi, kehadiran MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika membawa berkah langsung bagi pelaku UMKM. Data Dinas Pariwisata NTB mencatat okupansi hotel di kawasan Lombok Tengah dan sekitarnya menembus 92 persen pada periode balapan tahun sebelumnya, dengan rata-rata belanja wisatawan asing mencapai USD 1.100 per kunjungan atau setara Rp17,6 juta (asumsi kurs Rp16.000). Sektor kuliner, kerajinan, dan jasa transportasi mengalami kenaikan omzet antara 40 hingga 70 persen dibanding bulan biasa. BRI memanfaatkan momentum ini dengan memperluas akses pembiayaan mikro dan menyediakan infrastruktur pembayaran digital di area sirkuit maupun desa-desa penyangga.

Di sisi lain, tantangan fundamental tetap membayangi. Ketimpangan antarwilayah masih lebar, dan sebagian pelaku usaha mengeluhkan sifat musiman gelaran. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB per 2024 berada di kisaran 70,2, masih di bawah rata-rata nasional 74,4. Artinya, tanpa intervensi berkelanjutan, lonjakan ekonomi bisa bersifat sementara. Likuiditas yang mengalir saat event berlangsung berpotensi mengendap begitu balapan usai, menciptakan capital outflow dari daerah penyangga kembali ke pusat-pusat ekonomi.

"Sport tourism punya efek berganda yang nyata, tetapi harus dikelola sebagai ekosistem, bukan sekadar event tahunan. Inklusi keuangan menjadi kunci agar manfaatnya tidak menguap," ujar seorang ekonom pembangunan yang meneliti kawasan timur Indonesia.

Inklusi Keuangan sebagai Fondasi Keberlanjutan

Pro: pendekatan perbankan yang menyasar UMKM di sekitar Mandalika berpotensi memperkuat fundamental ekonomi lokal. Rasio inklusi keuangan nasional per 2024 mencapai 75,02 persen, naik dari 67,8 persen pada 2019, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setiap kenaikan satu poin persentase inklusi berkorelasi dengan penambahan tenaga kerja informal yang lebih produktif. BRI, dengan jaringan agen dan layanan digitalnya, berada di posisi strategis untuk mengubah arus wisatawan menjadi portofolio usaha yang berkelanjutan.

Kontra: kritik yang mengemuka adalah bahwa gelaran internasional sering dinikmati oleh segmen menengah ke atas, sementara pedagang kecil hanya mendapat residual. Sentimen pasar terhadap sektor pariwisata juga rentan terhadap fluktuasi global, mulai dari nilai tukar hingga daya beli wisatawan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi NTB 2026 berada di kisaran 5,6 hingga 6,1 persen, dengan asumsi tidak ada guncangan eksternal. Namun, bila capital outflow meningkat dan valuasi aset daerah tidak terjaga, target tersebut berisiko meleset.

Proyeksi, Risiko, dan Arah Tren 2026

Mengacu pada tren tiga tahun terakhir, dampak ekonomi MotoGP Mandalika menunjukkan pola kenaikan yang konsisten, meski dengan variasi besaran. Pada 2023, total transaksi di kawasan event tercatat Rp3,2 triliun; tahun berikutnya naik menjadi Rp4,7 triliun, dan proyeksi 2026 menyentuh Rp6,1 triliun bila konektivitas udara dan darat membaik. Angka ini mencerminkan perbaikan indeks kepercayaan pelaku usaha, tetapi bukan jaminan tanpa pembenahan sektor riil.

Dari kacamata kebijakan, sinergi antara pemerintah daerah, regulator, dan industri keuangan menjadi penentu. Portofolio pembiayaan yang menyasar UMKM penyangga harus disertai pendampingan usaha dan literasi keuangan, agar dana tidak habis untuk konsumsi sesaat. Di sisi lain, keberlanjutan lingkungan di kawasan penyangga juga diuji, mengingat tekanan sampah dan air bersih meningkat seiring lonjakan kunjungan.

Kesimpulannya, MotoGP Mandalika 2026 menawarkan dua wajah sekaligus: peluang pertumbuhan ekonomi lokal yang signifikan, dan risiko bahwa manfaatnya bersifat musiman. Fundamental ekonomi daerah akan ditentukan oleh seberapa kuat ekosistem dibangun di luar periode balapan. Selama inklusi keuangan berjalan seiring pembangunan infrastruktur dan stabilitas sentimen pasar, sport tourism dapat menjadi katalis, bukan sekadar perayaan sesaat. Proyeksi ke depan bergantung pada disiplin semua pihak menjaga tren positif ini, tanpa mengorbankan keberlanjutan dan pemerataan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User