Oct 09, 2026
Bisnis

Bos DBS Pimpin Daftar Wanita Berpengaruh di Bisnis Asia 2026

Berdasarkan laporan tahunan yang dirilis Fortune edisi Desember 2025, daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Asia untuk tahun 2026 kembali menempatkan sektor keuangan sebagai pusat kekuatan. Posis...

Bos DBS Pimpin Daftar Wanita Berpengaruh di Bisnis Asia 2026

Berdasarkan laporan tahunan yang dirilis Fortune edisi Desember 2025, daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Asia untuk tahun 2026 kembali menempatkan sektor keuangan sebagai pusat kekuatan. Posisi puncak diraih Tan Shu Shan, Chief Executive Officer DBS Group, bank terbesar di Asia Tenggara dengan total aset mencapai SGD 739 miliar atau setara Rp8.900 triliun per kuartal ketiga 2025. Pencapaian ini menandai tahun kedua berturut-turut seorang pemimpin perempuan dari industri perbankan menduduki peringkat teratas, sebuah tren yang menunjukkan pergeseran fundamental dalam struktur kepemimpinan korporasi kawasan.

Dominasi Sektor Keuangan dan Teknologi

Dari 100 nama yang masuk daftar, sekitar 34 persen berasal dari industri jasa keuangan, naik dari 28 persen pada edisi 2025. Sektor teknologi menyusul dengan 22 persen, disusul manufaktur dan energi masing-masing 11 persen. Komposisi ini mencerminkan bagaimana likuiditas global dan arus investasi di kawasan Asia Pasifik masih terpusat pada institusi yang mengelola modal besar.

Di satu sisi, kehadiran perempuan di kursi kepemimpinan bank sentral dan bank komersial dinilai memperkuat tata kelola. Penelitian Bank for International Settlements tahun 2024 menemukan bahwa bank dengan keberagaman gender di jajaran direksi memiliki rasio kredit bermasalah 1,2 poin persen lebih rendah dibanding rata-rata industri. Argumen ini kerap dipakai untuk menjelaskan mengapa regulator di Singapura, Malaysia, dan Filipina mempercepat target representasi perempuan di level direksi.

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa daftar semacam ini masih bias terhadap perusahaan besar dan mapan. Kepemimpinan perempuan di perusahaan rintisan berkapitalisasi di bawah USD500 juta nyaris tidak terwakili, padahal segmen inilah yang menyerap tenaga kerja terbesar. Kritik ini menyoroti kesenjangan antara visibilitas dan dampak ekonomi riil.

Kinerja Fundamental dan Sentimen Pasar

Kepemimpinan Tan Shu Shan tidak bisa dilepaskan dari kinerja DBS. Bank tersebut mencatat laba bersih SGD 11,4 miliar sepanjang 2024, tumbuh 9,2 persen year-on-year. Return on equity bertahan di kisaran 18 persen, jauh di atas rata-rata bank regional yang berada di 11 hingga 13 persen. Valuasi saham DBS diperdagangkan pada price-to-book ratio sekitar 1,7 kali per Januari 2026, tertinggi di antara bank-bank ASEAN.

Namun, tantangan tetap membayangi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura tahun 2026 direvisi turun menjadi 2,1 persen dari sebelumnya 2,8 persen, seiring melemahnya permintaan ekspor dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Tekanan capital outflow dari pasar negara berkembang juga berpotensi menggerus likuiditas perbankan kawasan.

"Kepemimpinan di sektor keuangan Asia kini diuji bukan hanya oleh kemampuan menumbuhkan portofolio, tetapi juga oleh ketahanan menghadapi volatilitas global," ujar seorang ekonom senior di lembaga riset regional, tanpa menyebut nama institusinya.

Implikasi bagi Pasar Tenaga Kerja dan Investasi

Bagi pembaca awam, daftar ini penting karena memberi sinyal arah kebijakan korporasi. Ketika semakin banyak perempuan memimpin institusi dengan aset ratusan triliun rupiah, keputusan alokasi kredit, investasi hijau, dan digitalisasi perbankan akan semakin dipengaruhi perspektif yang lebih inklusif. Indeks keberagaman gender di jajaran direksi emiten ASEAN tercatat naik dari 18 persen pada 2020 menjadi 27 persen pada 2025.

Meski demikian, kecepatan perubahan tidak merata. Di Indonesia, representasi perempuan di direksi emiten indeks LQ45 baru mencapai sekitar 14 persen. Regulator pasar modal telah mendorong keterbukaan laporan keberlanjutan, tetapi tanpa sanksi tegas, adopsi berjalan lambat.

Kesimpulannya, daftar bergengsi ini bukan sekadar penghargaan simbolik. Ia adalah cermin dari pergeseran kekuatan ekonomi Asia yang semakin bertumpu pada sektor keuangan dan teknologi. Tren ini akan terus diuji oleh fundamental makro, sentimen pasar, dan kemampuan institusi menjaga likuiditas di tengah ketidakpastian global tahun 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User