Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per awal 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai tambah mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Angka ini menempatkan industri kreatif sebagai salah satu penopang pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi global yang masih berlangsung. Dalam konteks itulah, salah satu bank pelat merah berperan sebagai mitra perbankan resmi dalam gelaran IdeaFest 2026, sebuah festival ekonomi kreatif terbesar di Tanah Air.
Kehadiran lembaga keuangan di ajang semacam ini bukan sekadar pemasangan logo. Ini merupakan bagian dari strategi memperluas inklusi keuangan dan mendorong digitalisasi transaksi, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung sektor kreatif.
Dorong Transaksi Digital dan Inklusi Keuangan
Di satu sisi, keterlibatan bank dalam festival kreatif membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha. Melalui berbagai fitur pembayaran digital, pelaku UMKM dapat menikmati transaksi yang lebih cepat, aman, dan tercatat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2025, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 75,02 persen, naik dari 67,8 persen pada 2019. Adopsi pembayaran digital menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut.
Di sisi lain, digitalisasi tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan. Sebagian pelaku usaha di daerah masih menghadapi keterbatasan literasi keuangan dan infrastruktur. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan menjadi catatan penting. Menurut data Bank Indonesia, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berkisar 19–20 persen, meskipun target pemerintah menetapkan angka 30 persen.
"Digitalisasi harus berjalan seiring dengan edukasi. Tanpa pemahaman yang memadai, teknologi justru bisa menimbulkan risiko baru bagi pelaku usaha kecil," ujar seorang pengamat ekonomi moneter dalam sebuah diskusi publik.
Peran Manusia di Tengah Gelombang Kecerdasan Buatan
Tema yang diangkat pada IdeaFest 2026, yakni Re:Humanize, menyoroti posisi manusia di era kecerdasan buatan (AI). Ini menjadi relevan karena otomatisasi mulai mengubah lanskap kerja, termasuk pekerjaan kreatif yang selama ini dianggap sulit tergantikan. Proyeksi dari sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa hingga 2030, sekitar 23 persen pekerjaan di sektor kreatif berpotensi mengalami perubahan signifikan akibat adopsi teknologi.
Bank sebagai institusi keuangan dituntut berada di dua sisi sekaligus: mengadopsi teknologi untuk efisiensi sekaligus menjaga sentuhan manusia dalam pelayanan. Sentimen pasar terhadap saham sektor perbankan memang masih fluktuatif, dipengaruhi oleh likuiditas global dan capital outflow dari pasar negara berkembang. Namun, fundamental perbankan nasional secara umum masih terjaga, dengan rasio kecukupan modal (CAR) industri di atas 25 persen per akhir 2025.
Pada akhirnya, dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif tidak bisa dinilai hanya dari satu peristiwa. Ia harus dilihat sebagai bagian dari tren jangka panjang: bagaimana lembaga keuangan memosisikan diri sebagai mitra pertumbuhan, bukan sekadar pemberi kredit. Portofolio pembiayaan yang menyasar sektor kreatif dan digital menjadi salah satu indikator penting ke depan.
Jika kolaborasi semacam ini berjalan konsisten, valuasi sektor ekonomi kreatif berpotensi terus mengalami kenaikan, dengan proyeksi kontribusi terhadap PDB bisa menembus 8,5 persen dalam beberapa tahun mendatang. Tantangannya bukan pada besarnya peluang, melainkan pada kemampuan menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan pemberdayaan manusianya.
Comments (0)