BCA Dorong Ekonomi Desa Labuan Bajo Lewat Jalur Gastronomi
Labuan Bajo, kawasan yang telah ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas nasional, kini menjadi saksi perluasan pemberdayaan masyarakat yang tidak lagi sekadar bertumpu pada ...
Labuan Bajo, kawasan yang telah ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas nasional, kini menjadi saksi perluasan pemberdayaan masyarakat yang tidak lagi sekadar bertumpu pada keindahan alamnya. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA menginisiasi pendampingan intensif terhadap sembilan desa binaan yang tersebar di sekitar kawasan pariwisata tersebut. Fokus utama dari intervensi ini adalah pengembangan sektor gastronomi—sebuah pendekatan yang menempatkan kuliner lokal bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan sebagai magnet utama pengalaman wisatawan.
Inisiatif ini hadir dari pemetaan bahwa kekayaan hayati darat dan laut Labuan Bajo belum seluruhnya terkonversi menjadi produk bernilai tambah tinggi. Singkong, sorgum, jagung pulut, aneka rempah pesisir, dan hasil tangkapan laut segar yang melimpah selama ini lebih banyak dijual mentah dengan harga yang sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak. Program Bakti BCA berupaya membalik logika itu: menjadikan bahan baku lokal sebagai fondasi kreasi menu yang siap disajikan di meja-meja restoran resor berbintang hingga kios sederhana di tepi dermaga.
Membangun Ekosistem Gastronomi dari Hulu ke Hilir
Pendekatan yang dijalankan tidak bersifat seremonial dan instan. Di sembilan desa tersebut, para pengelola desa Bakti BCA bersama warga merancang rantai pasok kuliner terpadu. Pada sisi hulu, dilakukan pemetaan komoditas unggulan tiap desa yang selama ini terabaikan. Desa yang memiliki keunggulan pada budidaya umbi-umbian, misalnya, mendapat pelatihan teknik fermentasi dan pengolahan tepung bebas gluten untuk menghasilkan produk setengah jadi yang stabil secara kualitas. Sementara desa pesisir yang kaya akan ikan kerapu dan lobster kecil diajari metode penanganan pasca-tangkap yang bersertifikasi, sehingga nilai jualnya meningkat hingga empat kali lipat karena dapat menembus pasar ekspor dan kebutuhan hotel premium.
Di sisi hilir, intervensi diarahkan pada peningkatan kapasitas para pelaku usaha mikro di bidang jasa boga. Pelatihan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek teknis seperti teknik pengolahan makanan kontemporer tanpa menghilangkan akar tradisi, tetapi juga mencakup penataan dapur komersial, manajemen biaya bahan baku, hingga strategi penentuan harga. Tujuannya jelas: menyiapkan dapur-dapur desa agar mampu menjadi pemasok tetap bagi sektor akomodasi dan kapal wisata yang beroperasi di perairan Taman Nasional Komodo.
Kolaborasi Lintas Pilar yang Menjadi Kunci
Keberhasilan program ini ditopang oleh skema kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. BCA tidak berjalan sendiri. Pelaksanaan pelatihan vokasional di bidang kuliner menggandeng sejumlah chef profesional dan akademisi dari sekolah pariwisata yang telah memiliki rekam jejak dalam mengkurasi menu berbasis bahan pangan lokal Nusa Tenggara Timur. Para mentor ini tinggal di desa selama periode tertentu untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan efektif, sekaligus melakukan uji coba menu bersama masyarakat. Dari proses itu lahir lusinan resep adaptif yang kini mulai dipasarkan, seperti panna cotta susu kerbau dengan sirop asam jawa, keripik bayam laut, hingga sambal lu'at kemangi yang dikemas dalam botol kaca siap oleh-oleh.
Pemerintah daerah kabupaten turut dilibatkan dalam proses legalitas produk. Program ini memfasilitasi pendaftaran Nomor Induk Berusaha, sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek bagi kelompok usaha bersama bentukan desa. Hal ini penting mengingat beberapa produk olahan kini sudah mulai menembus gerai oleh-oleh di Bandara Komodo dan pelabuhan, yang mensyaratkan kelengkapan izin edar. "Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton di tengah geliat pariwisata. Dengan gastronomi, mereka adalah pemain utama yang menyajikan cerita rasa dari tanahnya sendiri," ujar salah satu fasilitator program yang telah mendampingi proses inkubasi selama delapan bulan.
Menakar Dampak Ekonomi dan Ketahanan Pangan Lokal
Dari perspektif ekonomi makro, pengembangan gastronomi berbasis desa ini memiliki efek berganda yang cukup terukur. Data awal yang dihimpun dari koperasi desa binaan menunjukkan kenaikan omzet rata-rata kelompok sebesar 35% dalam kurun enam bulan pasca-pendampingan, terutama setelah mereka berhasil mendapatkan kontrak pasokan tetap ke dua hotel bintang lima dan enam restoran menengah. Kenaikan ini tidak hanya bersumber dari penjualan produk akhir berupa makanan siap saji, tetapi juga dari distribusi bumbu dasar siap pakai dan tepung komposit lokal yang kini digunakan oleh pastry section hotel sebagai komponen menu sarapan.
Di luar angka penjualan, program ini turut menopang ketahanan pangan lokal dengan cara yang elegan. Dengan menciptakan permintaan yang stabil terhadap bahan baku seperti kelor, labu kuning, dan ikan terbang, masyarakat terdorong untuk memperluas area tanam dan menjaga keberlanjutan stok laut. Ini menjadi benteng tersendiri terhadap fluktuasi pasokan dari luar daerah yang kerap terganggu saat musim gelombang tinggi. Lebih jauh, sektor gastronomi terbukti mampu menyerap tenaga kerja perempuan dalam jumlah signifikan, terutama pada lini produksi dan pengemasan, sehingga memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga.
Program yang kini memasuki fase perluasan ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis budaya yang dapat direplikasi di destinasi pariwisata prioritas lainnya. Gastronomi di Labuan Bajo bukan lagi sekadar urusan makan dan minum, tetapi telah bertransformasi menjadi diplomasi rasa yang sekaligus mengamankan kesejahteraan komunitas di sekitarnya. Dengan fondasi yang telah diletakkan, langkah selanjutnya adalah memastikan keberlanjutan melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa yang secara khusus mengelola rantai bisnis kuliner dan menjembatani akses permodalan lanjutan.
Baca juga:
Comments (0)