Oct 13, 2026
Bisnis

Banjir dan Longsor Porak-porandakan Kota, Korban Jiwa Berjatuhan

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per akhir pekan lalu, curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan perkotaan selama lebih dari enam jam berturut-turut memicu banjir...

Banjir dan Longsor Porak-porandakan Kota, Korban Jiwa Berjatuhan

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per akhir pekan lalu, curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan perkotaan selama lebih dari enam jam berturut-turut memicu banjir bandang dan longsor yang menghancurkan permukiman warga. Intensitas hujan tercatat mencapai 180 milimeter per hari, jauh melampaui ambang batas normal bulanan yang berkisar 100-150 milimeter. Akibatnya, sungai-sungai utama meluap, sistem drainase kota tidak mampu menampung debit air, dan sejumlah titik jalan nasional terputus total.

Peristiwa ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terburuk dalam lima tahun terakhir. Data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan rumah terendam, puluhan unit kendaraan terseret arus, serta korban jiwa yang berjatuhan di beberapa kelurahan. Proses evakuasi masih berlangsung dengan kendala akses jalan yang tertutup material longsor setinggi dua meter di beberapa titik.

Di Satu Sisi: Faktor Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

Dari kacamata klimatologi, kejadian ini tidak bisa dilepaskan dari anomali cuaca yang semakin sering terjadi. Fenomena La Nina yang masih aktif pada periode ini meningkatkan pasokan uap air di atmosfer, sehingga potensi hujan lebat menjadi lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini status siaga di sejumlah wilayah, namun kecepatan akumulasi air tetap sulit diprediksi.

Parahnya, kapasitas resapan tanah di kawasan hulu terus menurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun mengalami kenaikan signifikan, mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Ketika curah hujan ekstrem datang, limpasan permukaan (runoff) meningkat tajam dan langsung mengalir ke kawasan hilir yang lebih padat penduduk.

"Kombinasi curah hujan ekstrem dan berkurangnya daya serap lahan menciptakan kondisi yang mendekati titik kritis. Ini bukan sekadar bencana alam, melainkan akumulasi dari tekanan lingkungan jangka panjang," ujar seorang pengamat tata ruang perkotaan.

Di Sisi Lain: Lemahnya Infrastruktur dan Tata Kota

Namun, menyalahkan cuaca semata akan menutupi persoalan mendasar. Secara fundamental, kesiapan infrastruktur mitigasi bencana masih jauh dari memadai. Anggaran penanganan drainase dan normalisasi sungai cenderung stagnan, sementara laju pertumbuhan kawasan permukiman terus mengalami kenaikan. Rasio tutupan lahan hijau terhadap luas wilayah terbangun menurun dari tahun ke tahun, memperburuk risiko banjir.

Dari perspektif ekonomi, kerugian akibat bencana ini diperkirakan menembus angka triliunan rupiah, mencakup kerusakan properti, hilangnya produktivitas usaha mikro, serta terganggunya rantai pasok logistik antarwilayah. Sektor perdagangan dan jasa menjadi yang paling terdampak karena aktivitas ekonomi terhenti total selama masa tanggap darurat. Pemerintah daerah dihadapkan pada pilihan sulit antara realokasi anggaran darurat dan keberlanjutan program pembangunan.

Tidak hanya itu, sentimen pasar terhadap risiko bencana di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi valuasi aset properti dalam jangka menengah. Para analis menilai perlunya penilaian ulang terhadap zona rawan bencana dalam perencanaan tata ruang, agar proyeksi pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Antara Mitigasi dan Realitas Anggaran

Pertanyaannya kini, sejauh mana kesiapan pemerintah menghadapi tren cuaca ekstrem ke depan? Di satu sisi, kebutuhan investasi di sektor infrastruktur hijau, sistem peringatan dini, dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) semakin mendesak. Di sisi lain, ruang fiskal daerah terbatas, terutama setelah beban belanja penanganan pandemi dan program pemulihan ekonomi. Likuiditas anggaran yang tersedia kerap tidak sebanding dengan skala ancaman.

Pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci. Normalisasi sungai, pembangunan kolam retensi, serta penegakan aturan tata ruang harus berjalan beriringan dengan edukasi kesiapsiagaan warga. Tanpa itu, siklus bencana akan terus berulang dengan intensitas yang berpotensi meningkat setiap tahun.

Pada akhirnya, tragedi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan akan menuai biaya sosial yang jauh lebih besar. Pemulihan pascabencana membutuhkan waktu, sementara iklim terus berubah. Yang dibutuhkan bukan hanya respons cepat, melainkan strategi adaptasi jangka panjang yang terukur dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User