Bandara Husein Sastranegara Siap Layani Kembali Pesawat Jet Mulai 17 Agustus 2026
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mematok target ambisius untuk mengembalikan fungsi penuh Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat. Bandara yang kini hanya melayani penerbangan tur...
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mematok target ambisius untuk mengembalikan fungsi penuh Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat. Bandara yang kini hanya melayani penerbangan turboprop itu ditargetkan kembali mampu menampung pesawat berbadan sempit, seperti Boeing 737 dan Airbus A320, mulai 17 Agustus 2026. Momentum kemerdekaan dipilih secara simbolis untuk menandai kebangkitan kembali pintu gerbang udara utama ibu kota Jawa Barat ini.
Dari Jet ke Baling-baling
Bandara Husein Sastranegara memiliki sejarah panjang sebagai bandara perintis yang juga berstatus pangkalan udara militer. Pada masa keemasannya, bandara ini melayani belasan penerbangan jet setiap hari ke berbagai kota besar di Indonesia dan beberapa rute internasional. Namun, keterbatasan lahan dan landasan pacu yang hanya sepanjang 2.200 meter membuat operasional jet komersial kerap menghadapi tantangan, terutama saat cuaca buruk atau bobot pesawat yang tinggi. Puncaknya, setelah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati mulai beroperasi, sejumlah penerbangan jet secara bertahap dipindahkan. Sejak 2019, Husein Sastranegara praktis hanya menjadi basis bagi pesawat turboprop bermesin baling-baling seperti ATR 72, sementara pergerakan jet hanya tersisa pada penerbangan kenegaraan serta kegiatan militer tertentu. Kondisi ini menurunkan peran Bandung sebagai pusat konektivitas udara yang efisien bagi pebisnis dan wisatawan, sekaligus menyisakan kapasitas terminal yang sangat di bawah utilisasi normal.
Rencana Modernisasi dan Target Simbolik
Kemenhub, bersama operator bandara dan TNI AU, menyusun rencana terintegrasi untuk mengembalikan fungsi jet komersial. Sumber di lingkungan Kemenhub mengungkapkan bahwa sejumlah pekerjaan fisik tengah disiapkan, termasuk penguatan struktur landasan, perpanjangan landasan pacu menjadi minimal 2.500 meter, serta penambahan fasilitas keselamatan penerbangan. "Kami ingin memastikan bahwa pada 17 Agustus 2026, penerbangan jet pertama sudah bisa mendarat dan lepas landas dengan standar keselamatan tertinggi," ujar seorang pejabat direktorat terkait. Perpanjangan landasan dinilai krusial karena panjang eksisting tidak memadai bagi pesawat jet komersial untuk beroperasi pada beban penuh, terutama saat kondisi basah atau panas yang mengurangi daya angkat.
Target tanggal tersebut juga selaras dengan rencana penyelesaian sejumlah proyek pendukung, seperti perbaikan akses jalan menuju terminal dan penataan kembali ruang udara Bandung yang padat. Jika tak ada aral melintang, bandara ini akan kembali menjadi pilihan utama bagi penerbangan jarak pendek dan menengah yang menghubungkan Bandung dengan Jakarta, Surabaya, atau Denpasar, tanpa perlu menempuh perjalanan darat berjam-jam menuju Kertajati.
Dampak pada Ekonomi dan Pariwisata
Kembalinya pesawat jet ke Husein Sastranegara diproyeksikan memberikan efek pengganda yang signifikan. Asosiasi Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat menyambut rencana ini dengan optimisme. "Wisatawan bisnis dan mancanegara yang selama ini enggan transit di Kertajati atau melalui Jakarta akan lebih mudah datang langsung ke Bandung. Ini akan mendongkrak okupansi hotel dan kunjungan ke pusat-pusat mode serta kuliner," kata seorang perwakilan PHRI. Di sisi lain, kawasan industri dan perguruan tinggi di Bandung Raya akan diuntungkan oleh konektivitas yang lebih cepat bagi para profesional dan akademisi. Aktivitas logistik berbasis kargo udara juga diharapkan ikut terpacu, meskipun kapasitas terminal kargo Husein masih terbatas.
Namun, tidak sedikit pihak mengingatkan tantangan operasional. Landasan yang berbagi dengan Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara membuat slot penerbangan sipil harus disesuaikan dengan kegiatan militer. Selain itu, pergerakan penumpang yang dulu sempat menyentuh 3,4 juta orang per tahun akan sulit diulangi dalam waktu singkat jika fasilitas sisi darat tidak diperlebar. Antisipasi juga diperlukan agar kebisingan jet tidak memicu resistensi warga di kawasan permukiman padat yang mengelilingi bandara.
Proyeksi dan Catatan Akhir
Kalangan analis penerbangan menilai target 17 Agustus 2026 cukup realistis sepanjang pendanaan dan koordinasi antarlembaga berjalan mulus. "Perpanjangan landasan secara teknis bisa dilakukan dalam 12-18 bulan, tetapi yang krusial adalah penyelarasan prosedur operasi bersama sipil-militer serta pemenuhan standar otoritas penerbangan sipil," ujar seorang pengamat dari Institut Teknologi Bandung. Kemenhub sendiri masih enggan menyebutkan maskapai mana yang akan membuka rute jet pertama. Namun, sinyal dari beberapa operator swasta menunjukkan minat untuk kembali membuka frekuensi dari dan menuju Bandung begitu infrastruktur dinyatakan siap. Jika semua rencana berjalan sesuai jadwal, perayaan 17 Agustus 2026 di Bandung akan diwarnai deru mesin jet yang lepas landas dari Husein Sastranegara—sebuah tonggak baru bagi peta konektivitas udara nasional.
Baca juga:
Comments (0)