Bandara Bandaneira Diperpanjang Jadi 2,2 Km, Pacu Pariwisata dan Mitigasi Bencana
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah mematangkan rencana pemanjangan landas pacu Bandara Bandaneira di Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Panjang runway yang semula terbatas akan dikembang...
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah mematangkan rencana pemanjangan landas pacu Bandara Bandaneira di Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Panjang runway yang semula terbatas akan dikembangkan mencapai 2.200 meter, sebuah lompatan infrastruktur yang diyakini mampu mengubah wajah konektivitas wilayah terpencil ini. Proyek ini bukan sekadar pelebaran aspal, melainkan investasi strategis untuk menggerakkan dua poros utama: penguatan sektor pariwisata berbasis warisan alam dan budaya, serta peningkatan kesiapan daerah dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Mendorong Gerbang Wisata Bahari dan Sejarah
Kepulauan Banda menyimpan magnet wisata yang tak ternilai: keindahan bawah laut dengan terumbu karang kelas dunia, serta situs sejarah rempah pala yang pernah menjadi rebutan bangsa Eropa. Namun, selama ini akses udara menjadi simpul yang membatasi arus wisatawan. Dengan runway eksisting yang hanya bisa didarati pesawat kecil berkapasitas terbatas, biaya perjalanan menjadi tinggi dan frekuensi penerbangan rendah. Data Dinas Pariwisata Maluku menunjukkan kunjungan ke Banda tumbuh lambat, hanya sekitar 6% per tahun, jauh di bawah potensi sesungguhnya.
Pemanjangan runway hingga 2,2 kilometer membuka pintu bagi maskapai untuk mengoperasikan pesawat jet narrow-body seperti Airbus A320 atau Boeing 737, yang selama ini hanya bisa mendarat di Ambon. Dengan kapasitas angkut lebih besar dan biaya per kursi lebih efisien, tarif tiket diproyeksikan turun hingga 20-30%. Hal ini berpotensi mendongkrak angka kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama penyelam dan penikmat wisata sejarah yang selama ini terganjal biaya dan kerumitan akses. Pelaku usaha lokal menyambut rencana ini karena akan memperluas pasar bagi penginapan, restoran, dan penyedia jasa selam.
Kesiapsiagaan Bencana di Cincin Api
Aspek lain yang tak kalah krusial adalah mitigasi bencana. Kepulauan Banda berada di jalur seismik aktif, sehingga risiko gempa bumi dan potensi tsunami selalu membayangi. Selama ini, kemampuan evakuasi cepat via udara sangat terbatas karena landasan pendek hanya bisa didarati pesawat angkut ringan. Saat terjadi kondisi darurat massal, ketergantungan pada transportasi laut yang lambat dapat menghambat pengiriman bantuan medis, logistik, serta pergerakan personel tanggap darurat.
Dengan runway 2,2 km, pesawat Hercules C-130 milik TNI AU atau pesawat kargo komersial dapat leluasa mendarat untuk memperkuat rantai pasok bencana. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menjadikan ini sebagai prioritas karena pengalaman gempa di wilayah timur Indonesia kerap menimbulkan isolasi pasca-bencana. Jangkauan pemanjangan ini bahkan memungkinkan landasan difungsikan sebagai hub logistik kemanusiaan yang dapat melayani pulau-pulau sekitar seperti Seram atau Kei ketika pelabuhan rusak akibat tsunami.
Mengurai Tantangan Teknis dan Anggaran
Proyek ini tentu bukan tanpa tantangan. Topografi pulau yang berbukit dan keterbatasan lahan datar membuat pemanjangan ke arah tertentu memerlukan kajian teknis mendalam, termasuk potensi reklamasi atau pemindahan permukiman penduduk. Dari sisi anggaran, meski Kementerian PU belum merilis angka resmi, proyek sejenis di Indonesia timur lazim memakan biaya antara Rp200 miliar hingga Rp500 miliar, bergantung kondisi tanah dan kebutuhan fasilitas pendukung seperti taxiway dan apron yang diperkuat.
Di sisi lain, pengelolaan dampak lingkungan dan sosial juga menjadi perhatian. Aktivitas konstruksi di dekat ekosistem pesisir yang sensitif harus diawasi ketat agar tidak merusak terumbu karang yang justru menjadi daya tarik wisata. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kemungkinan akan memberlakukan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ketat. Pemerintah pusat diharapkan menggandeng pemerintah daerah serta tokoh adat untuk memetakan zona lindung dan meminimalkan resistensi sosial.
Proyeksi Geliat Ekonomi Multiplier
Ekonomi lokal akan menerima efek berganda yang signifikan. Sektor konstruksi selama masa pembangunan akan menyerap tenaga kerja lokal, sementara fase operasional bandara yang lebih besar membuka lapangan kerja baru di bidang aviasi, perhotelan, dan jasa penunjang wisata. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku memperlihatkan bahwa setiap kenaikan 1% pada jumlah kedatangan wisatawan di Maluku Tengah berkorelasi dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor akomodasi dan makan minum sebesar 1,2%. Jika pemanjangan runway mampu meningkatkan kunjungan 15-20% per tahun, lonjakan pendapatan masyarakat pesisir bisa mencapai puluhan miliar rupiah dalam lima tahun pertama.
Tak hanya itu, akses yang lebih luas akan memacu nilai perdagangan komoditas unggulan lokal seperti pala, cengkih, dan hasil laut yang selama ini terkendala logistik. Rantai dingin produk perikanan yang memerlukan pengiriman cepat ke pasar ekspor maupun domestik akan lebih terjamin, sehingga harga jual di tingkat nelayan berpotensi naik. Integrasi antara pariwisata, perikanan, dan pertanian inilah yang diharapkan menciptakan ketahanan ekonomi pulau yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Peta Jalan dan Harapan Warga
Meski belum ada tanggal pasti peletakan batu pertama, rencana ini sudah masuk dalam pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan dipandang sebagai bagian dari upaya pemerataan infrastruktur di kawasan Indonesia timur. Kementerian Perhubungan akan berkoordinasi untuk penyusunan rencana induk bandara yang baru, termasuk penyesuaian rute penerbangan dan skema kerja sama dengan operator swasta. Warga Banda yang selama ini akrab dengan suara baling-baling kecil berharap, gemuruh mesin jet akan segera menjadi pertanda datangnya lebih banyak tamu dan bantuan, bukan hanya janji pembangunan.
Baca juga:
Comments (0)