Oct 12, 2026
Bisnis

Arab Saudi Minta Tentara RI Jaga Makkah, Jakarta Menolak

Berdasarkan keterangan resmi dari lingkungan Istana Kepresidenan per akhir pekan ini, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak memenuhi permintaan Arab Saudi yang menghendaki penempatan personel Te...

Arab Saudi Minta Tentara RI Jaga Makkah, Jakarta Menolak

Berdasarkan keterangan resmi dari lingkungan Istana Kepresidenan per akhir pekan ini, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak memenuhi permintaan Arab Saudi yang menghendaki penempatan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk bertugas menjaga kawasan Makkah dan Madinah. Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden dalam rapat terbatas yang membahas kerja sama pertahanan bilateral, menandai berakhirnya spekulasi yang berkembang sejak beberapa pekan terakhir di kalangan pengamat hubungan internasional.

Permintaan Riyadh itu sendiri bukan hal yang benar-benar baru dalam lanskap diplomasi Timur Tengah. Sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim pernah menerima tawaran serupa, umumnya dalam kerangka misi keamanan multilateral atau penugasan di bawah payung organisasi kerja sama Islam. Yang membedakan kali ini adalah skala permintaan—bukan sekadar tenaga medis atau petugas haji musiman, melainkan formasi militer penuh yang bersifat permanen di dua kota suci.

Konteks Ekonomi dan Belanja Pertahanan di Balik Permintaan

Di satu sisi, permintaan Arab Saudi dapat dibaca sebagai konsekuensi langsung dari lonjakan belanja pertahanan negara kerajaan tersebut. Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), anggaran militer Arab Saudi menembus angka USD 75,8 miliar pada 2023, atau sekitar 7,1 persen dari Produk Domestik Bruto—salah satu rasio tertinggi di dunia. Sebagai pembanding, rasio belanja pertahanan Indonesia terhadap PDB pada periode yang sama hanya berkisar 0,7 persen hingga 0,8 persen. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Riyadh memiliki kapasitas fiskal jauh lebih besar untuk membiayai operasi keamanan domestiknya sendiri.

Di sisi lain, permintaan itu juga mencerminkan strategi diversifikasi aliansi yang dijalankan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam kerangka Visi 2030. Arab Saudi secara aktif memperluas kemitraan pertahanan dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada satu blok kekuatan besar. Dalam kerangka ini, kehadiran personel asing di wilayah suci dipandang dapat memperkuat legitimasi keamanan sekaligus mempererat hubungan bilateral yang bersifat jangka panjang.

Pro dan Kontra Penempatan Militer di Wilayah Suci

Dari kacamata diplomasi pertahanan, penempatan tersebut berpotensi mendatangkan sejumlah manfaat ekonomi. Kerja sama militer semacam ini biasanya diikuti dengan aliran investasi, transfer teknologi, dan kontrak pengadaan alutsista. Proyeksi sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa kemitraan strategis dengan negara Teluk dapat mendorong arus masuk investasi langsung hingga USD 2 miliar sampai USD 3 miliar dalam lima tahun, terutama di sektor energi, konstruksi, dan industri halal. Bagi Indonesia, yang tengah mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen year-on-year pada 2025, tambahan likuiditas dari kawasan Teluk menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

"Penempatan militer di wilayah suci selalu mengandung dimensi politik yang jauh melampaui aspek teknis keamanan. Sensitivitasnya bukan hanya bagi negara tuan rumah, tetapi juga bagi seluruh dunia Islam," ujar seorang analis pertahanan dari lembaga riset kebijakan publik di Jakarta.

Namun kontra dari kebijakan ini juga tidak ringan. Secara konstitusional, politik luar negeri Indonesia menganut prinsip bebas aktif, dan penugasan militer permanen di negara lain berisiko menyeret Jakarta ke dalam rivalitas geopolitik kawasan. Selain itu, preseden penempatan pasukan asing di dua kota suci berpotensi menimbulkan resistensi dari negara-negara Muslim lain yang selama ini menjaga jarak dari kehadiran militer non-lokal di sana.

Dampak pada Sentimen Pasar dan Fundamental Ekonomi

Dari sisi pasar, kabar penolakan ini nyaris tidak menggerakkan indeks. Nilai tukar rupiah bergerak stabil di kisaran fundamentalnya, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hanya mengalami pergerakan tipis. Pelaku pasar menilai keputusan tersebut tidak mengubah prospek arus modal dari Timur Tengah secara material, karena kerja sama investasi antara Indonesia dan Arab Saudi—terutama di sektor energi dan petrokimia—berjalan melalui jalur yang terpisah dari isu pertahanan.

Yang perlu dicermati justru sisi jangka menengah. Jika penolakan ini direspons dingin oleh Riyadh, ada risiko perlambatan pada sejumlah proyek joint venture yang saat ini dalam tahap negosiasi, termasuk rencana pembangunan kilang dan kawasan industri terintegrasi. Sebaliknya, jika komunikasi diplomatik berjalan mulus, hubungan dagang kedua negara yang mencapai USD 6,9 miliar pada 2023 berpotensi tetap tumbuh stabil di kisaran 5 persen hingga 7 persen year-on-year.

Dari perspektif fundamental, keputusan ini menegaskan bahwa Indonesia memilih menjaga independensi kebijakan luar negeri ketimbang mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek. Bagi investor, sinyal yang perlu dibaca adalah konsistensi kerangka kebijakan—faktor yang dalam jangka panjang justru menurunkan premi risiko dan memperkuat valuasi aset domestik. Tren capital outflow yang sempat membayangi pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir lebih dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global ketimbang dinamika diplomasi pertahanan ini.

Dengan demikian, penolakan atas permintaan penempatan tentara di Makkah dan Madinah bukan sekadar keputusan politik sesaat. Ia adalah cerminan kalkulasi antara peluang ekonomi, risiko geopolitik, dan prinsip konstitusional yang harus dijaga. Portofolio kemitraan strategis dengan Arab Saudi tetap terbuka lebar, namun melalui jalur yang tidak mengorbankan posisi Indonesia di panggung global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User