Yogyakarta Siapkan Dana 700 Becak Listrik dengan Pelibatan Pengayuh

Pemerintah Kota Yogyakarta tengah merancang alokasi anggaran untuk pengadaan 700 unit becak bertenaga listrik, sebuah langkah strategis yang tidak hanya menyasar modernisasi transportasi tradisional, ...

Pemerintah Kota Yogyakarta tengah merancang alokasi anggaran untuk pengadaan 700 unit becak bertenaga listrik, sebuah langkah strategis yang tidak hanya menyasar modernisasi transportasi tradisional, tetapi juga melibatkan langsung para pengayuh dalam perencanaan titik pengisian daya. Rencana ini menjadi bagian dari upaya besar mengurangi emisi dan menata kawasan wisata yang lebih hijau, sekaligus menjaga eksistensi becak sebagai ikon budaya kota.

Komitmen Anggaran dan Rencana Pengadaan

Berdasarkan informasi dari lingkup pemkot, dana yang disiapkan akan digunakan untuk pengadaan unit becak listrik, infrastruktur pendukung, serta pelatihan teknis bagi para pengayuh. Meski belum diumumkan angka pastinya, sumber di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah menyebut bahwa alokasi sementara berada pada kisaran Rp28 miliar, mencakup pengadaan kendaraan dan dua tahun pemeliharaan. Jumlah 700 unit itu sendiri merupakan hasil pemetaan terhadap populasi becak aktif di wilayah Malioboro, Kotagede, dan beberapa titik pariwisata lainnya.

Becak listrik tersebut akan mengusung teknologi baterai lithium-ion dengan daya jelajah sekitar 60-80 kilometer per pengisian penuh. Dengan estimasi jarak tempuh harian rata-rata pengayuh yang hanya berkisar 30-40 kilometer, maka satu kali pengisian cukup untuk operasional seharian. Pemerintah juga sedang mengkaji kemungkinan subsidi tarif listrik khusus agar biaya operasional tidak membebani pengayuh.

Partisipasi Pengayuh dalam Penentuan Lokasi Stasiun Pengisian

Salah satu poin penting yang diangkat dalam rencana ini adalah pelibatan komunitas pengayuh. Pihak Pemkot akan membuka ruang dialog dan serap aspirasi secara langsung dengan para pengayuh becak listrik terkait di mana fasilitas pengisian daya akan ditempatkan. Keterlibatan ini didasari pemahaman bahwa pengayuh adalah pihak yang paling memahami pola mobilitas, titik kumpul penumpang, dan waktu-waktu senggang yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi daya.

Rencananya, setiap stasiun pengisian akan dilengkapi 4-6 titik colokan cepat (fast charging) yang memungkinkan pengisian 80% baterai dalam waktu kurang dari dua jam. Lokasi yang mungkin diusulkan antara lain area parkir khusus becak, terminal wisata, serta beberapa sudut strategis di sekitar Malioboro dan Tamansari. Dengan demikian, pengayuh tidak perlu pulang ke pangkalan utama hanya untuk mengisi daya di tengah jam sibuk.

Dua Sisi Transisi: Antara Modernisasi dan Pelestarian

Dari perspektif ekonomi, konversi ke becak listrik membuka peluang efisiensi biaya operasional. Dengan asumsi tarif listrik khusus, biaya per kilometer becak listrik bisa hanya sepertiga dari biaya becak kayuh konvensional yang ‘berbahan bakar’ tenaga manusia dan perawatan rantai serta gear. Namun di sisi lain, investasi awal pengadaan unit cukup mahal, sekitar Rp35-40 juta per unit jika diproduksi secara lokal. Karena itu, model kepemilikan menjadi perdebatan: apakah becak akan dimiliki pemerintah dan disewakan dengan skema murah, atau diberikan sebagai hibah bersyarat kepada pengayuh.

Dari segi lingkungan, perkiraan penghematan emisi karbon cukup signifikan. Jika 700 becak listrik menggantikan becak motor (bentor) yang menggunakan bahan bakar fosil, maka reduksi emisi CO2 bisa mencapai 1.200 ton per tahun, dihitung dari penggantian 2,5 liter BBM per hari per unit. Namun, muncul pula pertanyaan tentang asal listrik yang digunakan—apakah bersumber dari energi terbarukan atau masih didominasi batu bara. Pemkot mengklaim akan bekerja sama dengan PLN untuk opsi Renewable Energy Certificate (REC) agar klaim hijau ini konsisten.

Dampak pada Lanskap Wisata dan Ekonomi Pengayuh

Becak listrik diproyeksikan mampu menambah daya tarik wisatawan, terutama segmen milenial dan wisatawan asing yang makin peduli pada prinsip perjalanan berkelanjutan. Suara mesin yang senyap dan tanpa getaran akan memberikan pengalaman berbeda saat menyusuri gang-gang sempit bersejarah di Kotagede. Pemerintah kota juga berencana menyematkan fitur audio guide multibahasa bertenaga panel surya kecil di beberapa unit, sehingga pengayuh dapat menawarkan tur dengan narasi sejarah tanpa harus menjadi pemandu tersertifikasi.

Di sisi pendapatan, pengayuh becak di Yogyakarta saat ini rata-rata mengantongi Rp80.000–Rp120.000 per hari, tergantung musim dan rute. Dengan becak listrik, ongkos perawatan harian yang biasanya mencapai Rp30.000 untuk rantai, oli, dan tenaga tambahan bisa ditekan. Potensi kenaikan pendapatan bersih sekitar 20-30 persen menjadi gambaran optimistis. Namun, transisi ini juga membutuhkan adaptasi, terutama bagi pengayuh senior yang terbiasa dengan becak kayuh.

Kesiapan Infrastruktur dan Rencana Uji Coba

Pemkot Yogyakarta menargetkan uji coba tahap pertama pada triwulan ketiga tahun ini, dengan 50 unit becak listrik yang akan dioperasikan di rute-rute pendek kawasan Malioboro. Selama uji coba, akan dilakukan evaluasi terhadap ketahanan baterai, keandalan stasiun pengisian, serta respons wisatawan. Data uji coba ini nantinya menjadi dasar untuk menentukan desain akhir dan titik pengisian yang paling efisien.

Selain itu, Dinas Perhubungan juga tengah menyusun regulasi teknis, termasuk standar keselamatan, batas kecepatan maksimum 25 km/jam, serta klasifikasi jalur yang boleh dilalui. Becak listrik akan tetap menggunakan jalur lambat dan tidak diizinkan masuk ke jalan arteri utama untuk menjaga ketertiban lalu lintas. Sertifikasi laik jalan dan pelatihan mengemudi berbasis listrik juga akan diwajibkan sebelum pengayuh diperbolehkan membawa penumpang.

Langkah Menuju Transportasi Inklusif

Rencana ini bukan sekadar proyek penggantian kendaraan, melainkan bagian dari visi transportasi inklusif yang menghargai peran pengayuh sebagai pelaku utama pariwisata lokal. Dengan melibatkan mereka dalam diskusi penempatan fasilitas, Pemkot mengakui bahwa teknologi hanya akan berhasil jika diterima dan diadaptasi oleh komunitas penggunanya. Ke depan, jika model ini berhasil, bukan tidak mungkin becak listrik menjadi ikon baru Yogyakarta yang memadukan tradisi dengan inovasi ramah lingkungan, sekaligus memperkuat posisi kota sebagai destinasi wisata cerdas dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User