UMKM Fesyen Angkat Aksara Lontara ke Panggung Nasional
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan serapan tenaga kerja ...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan serapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Di tengah dominasi angka makro tersebut, muncul fenomena menarik dari subsektor ekonomi kreatif: sejumlah pelaku usaha memilih mengawinkan warisan budaya dengan model bisnis modern, salah satunya melalui pemanfaatan aksara daerah sebagai elemen desain produk fesyen.
Salah satu contoh yang mencuat adalah Ripuji Lontaratta, sebuah UMKM yang mengangkat aksara Lontara—sistem tulisan tradisional masyarakat Bugis-Makassar—ke dalam produk fesyen kontemporer. Pendirinya, As'ad, memulai perjalanan usaha ini bukan semata dari motif komersial, melainkan dari dorongan pelestarian warisan leluhur yang mulai jarang digunakan generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
Antara Nilai Budaya dan Logika Pasar
Di satu sisi, langkah mengangkat aksara Lontara ke produk fesyen memiliki nilai tambah yang signifikan. Dalam kerangka ekonomi kreatif, diferensiasi produk menjadi kunci daya saing. Ketika pasar dipenuhi produk dengan desain seragam, sentuhan kearifan lokal menciptakan apa yang dalam teori pemasaran disebut sebagai cultural branding—identitas yang sulit ditiru pesaing karena melekat pada akar komunitas tertentu.
Data dari Badan Ekonomi Kreatif (kini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) menunjukkan subsektor kriya dan fesyen menyumbang kontribusi ekspor signifikan, dengan tren permintaan produk bernuansa etnik yang mengalami kenaikan pada pasar global, khususnya dari konsumen Eropa dan Amerika Utara yang mencari produk autentik. Sentimen pasar terhadap sustainable fashion dan heritage products menjadi katalis tersendiri.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Produk berbasis aksara daerah menghadapi keterbatasan pasar domestik karena pemahaman masyarakat terhadap simbol tersebut relatif terbatas. Dalam konteks ini, edukasi pasar menjadi beban biaya tersendiri yang harus ditanggung pelaku usaha mikro. Belum lagi persoalan literasi finansial, akses pembiayaan, dan kapasitas produksi yang sering menjadi penghambat utama UMKM untuk naik kelas.
Fundamental Bisnis yang Sering Terabaikan
As'ad menyadari bahwa semangat pelestarian budaya saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya kemampuan mengelola bisnis agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan temuan berbagai studi yang menunjukkan bahwa kegagalan UMKM di Indonesia lebih banyak disebabkan lemahnya manajemen keuangan, bukan kurangnya ide kreatif.
Dalam bahasa sederhana, banyak pelaku usaha memiliki produk bagus tetapi tidak memahami arus kas, tidak memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta tidak melakukan pencatatan transaksi secara disiplin. Akibatnya, ketika permintaan meningkat, mereka kesulitan memenuhi pesanan karena modal kerja habis terpakai untuk konsumsi rumah tangga.
"UMKM kreatif kerap terjebak pada romantisme produk, padahal yang menentukan keberlanjutan adalah disiplin administrasi dan akses ke lembaga pembiayaan formal," ujar seorang analis ekonomi kreatif dari sebuah lembaga riset di Jakarta.
Di sinilah peran institusi keuangan menjadi relevan. Berbagai program literasi dan pendampingan bagi UMKM telah dijalankan, termasuk yang menyasar sektor fesyen dan kriya. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19 persen per 2023, jauh dari target pemerintah sebesar 30 persen. Artinya, ruang pembiayaan bagi pelaku usaha seperti Ripuji Lontaratta masih terbuka lebar, namun harus disertai peningkatan kapasitas tata kelola.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Ke depan, peluang UMKM berbasis warisan budaya cukup menjanjikan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional diperkirakan bergerak positif seiring pemulihan konsumsi rumah tangga dan meningkatnya digitalisasi pemasaran melalui platform e-commerce serta media sosial. Namun, tanpa perbaikan fundamental—yakni manajemen, akses likuiditas, dan strategi hilirisasi produk—potensi tersebut berisiko tidak termanfaatkan optimal.
Dalam perspektif yang lebih luas, kisah As'ad mencerminkan dua hal sekaligus: optimisme bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber nilai ekonomi, sekaligus pengingat bahwa sentimen semata tidak cukup. Fondasi bisnis yang kuat—pencatatan keuangan yang rapi, pemahaman pasar, dan kemitraan dengan lembaga pembiayaan—merupakan prasyarat agar warisan aksara tidak berhenti sebagai simbol, melainkan tumbuh sebagai industri yang berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
Comments (0)