Transaksi Lokal Indonesia-China Dorong De-dolarisasi, Rupiah Kian Mandiri?

Pergeseran dalam lanskap perdagangan internasional Indonesia kian nyata. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dolar Amerika Serikat, Bank Indonesia bersama otoritas moneter kawasan kini menggencarkan...

Transaksi Lokal Indonesia-China Dorong De-dolarisasi, Rupiah Kian Mandiri?

Pergeseran dalam lanskap perdagangan internasional Indonesia kian nyata. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dolar Amerika Serikat, Bank Indonesia bersama otoritas moneter kawasan kini menggencarkan penyelesaian transaksi bilateral berbasis mata uang lokal. Instrumen yang dikenal dengan istilah Local Currency Transaction atau LCT ini menjadi sorotan setelah mencatatkan lonjakan volume cukup signifikan dalam perdagangan antara Indonesia dan sejumlah mitra utama, termasuk Tiongkok.

Berdasarkan data yang dihimpun hingga pertengahan tahun 2026, total transaksi perdagangan yang difasilitasi melalui skema LCT antara Indonesia dan Tiongkok tercatat menembus US$9 miliar atau setara lebih dari Rp145 triliun. Angka ini mencerminkan akselerasi pemanfaatan yuan dan rupiah secara langsung dalam aktivitas ekspor-impor, tanpa perlu melalui konversi ke dolar AS terlebih dahulu. Bagi pelaku usaha, mekanisme ini tidak hanya memangkas biaya konversi ganda, tetapi juga mengurangi eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar dolar yang kerap tidak menentu.

Mekanisme dan Landasan Kebijakan LCT

Skema LCT bukanlah produk yang lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan evolusi dari kerangka kerja sama bilateral di bidang keuangan yang mulai dirintis Indonesia sejak beberapa tahun terakhir melalui perjanjian swap mata uang dan penunjukan bank koresponden lintas negara. Dalam implementasinya, Bank Indonesia telah menunjuk sejumlah bank nasional sebagai Appointed Cross Currency Dealer atau ACCD yang berperan memfasilitasi transaksi langsung antara rupiah dan mata uang mitra dagang, termasuk yuan Tiongkok, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan yen Jepang.

Perbankan yang ditunjuk memiliki otoritas untuk memberikan kuotasi nilai tukar langsung—misalnya rupiah terhadap yuan—tanpa perlu mengacu pada kurs dolar AS sebagai perantara. Mekanisme ini memungkinkan importir dan eksportir melakukan pembayaran dan penerimaan dalam mata uang negara masing-masing. Di atas kertas, biaya transaksi dapat ditekan hingga 0,5–2 persen per transaksi, bergantung pada volatilitas pasar dan likuiditas pasangan mata uang tersebut. Bagi pengusaha menengah yang selama ini sensitif terhadap margin, efisiensi sebesar itu cukup berarti untuk menjaga daya saing harga produk di pasar global.

Dari sisi kebijakan moneter, dorongan terhadap LCT juga sejalan dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Semakin besar porsi transaksi internasional yang diselesaikan tanpa dolar AS, semakin rendah tekanan terhadap cadangan devisa ketika terjadi gejolak eksternal seperti pengetatan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau arus modal keluar (capital outflow) yang kerap memukul negara berkembang.

Dua Sisi De-dolarisasi: Momentum dan Risiko

Secara naratif, konsep de-dolarisasi—mengurangi ketergantungan global terhadap greenback—semakin mendapatkan tempat. Namun, dalam praktiknya, perjalanan menuju diversifikasi alat pembayaran internasional menyimpan dinamika yang tidak sederhana.

Di satu sisi, perluasan penggunaan LCT memberikan Indonesia posisi tawar yang lebih baik dalam hubungan dagang bilateral. Dengan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar yang menyumbang hampir 26 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia, penggunaan yuan dan rupiah secara langsung menciptakan ekosistem keuangan regional yang lebih otonom. Ini juga mendukung ambisi internasionalisasi yuan yang terus didorong oleh Beijing melalui berbagai jalur, termasuk Belt and Road Initiative. Bagi Indonesia, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperdalam pasar keuangan domestik, memperkuat peran rupiah di kawasan, serta menarik minat investor asing untuk memegang aset dalam denominasi rupiah sebagai bagian dari diversifikasi portofolio mereka.

Di sisi lain, dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global belum bisa digoyahkan dalam waktu dekat. Lebih dari 80 persen transaksi perdagangan dunia masih menggunakan dolar sebagai mata uang acuan. Likuiditas, kepercayaan, dan infrastruktur pasar dolar masih belum tertandingi oleh kombinasi mata uang alternatif mana pun. Selain itu, cadangan devisa mayoritas bank sentral dunia juga masih didominasi dolar, sehingga pergerakan signifikan menjauhi greenback berpotensi menimbulkan friksi di pasar keuangan global.

Dalam perspektif ekonomi fundamental, rupiah sendiri bukanlah mata uang yang sepenuhnya bebas dari gejolak. Meskipun Bank Indonesia terus memperkuat kerangka operasi moneter, volatilitas rupiah terhadap mata uang utama masih tergolong tinggi dibandingkan mata uang kawasan lainnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana mitra dagang bersedia memegang eksposur dalam denominasi rupiah dalam jumlah besar? Kekhawatiran terhadap risiko nilai tukar di pihak eksportir Tiongkok, misalnya, bisa menjadi faktor yang membatasi pertumbuhan transaksi LCT jika mitigasi risiko tidak dikelola secara optimal.

Proyeksi dan Implikasi ke Depan

Kenaikan volume LCT hingga menembus US$9 miliar dalam koridor perdagangan Indonesia-Tiongkok tidak bisa dimaknai sebagai akhir dari era dolar. Ia lebih tepat disebut sebagai langkah diversifikasi strategis yang secara bertahap membangun ketahanan eksternal perekonomian nasional. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan berada di kisaran 5,1–5,3 persen pada tahun berjalan turut menjadi katalis bagi ekspansi perdagangan dan kebutuhan akan skema pembayaran yang lebih efisien.

Ke depan, keberhasilan LCT akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, pendalaman pasar keuangan dalam negeri, serta sejauh mana pelaku usaha—terutama dari segmen menengah dan kecil—mampu mengadopsi mekanisme baru ini. Perluasan kerjasama ke lebih banyak negara mitra juga menjadi prasyarat agar porsi transaksi non-dolar menjadi cukup signifikan dalam neraca pembayaran.

Yang pasti, arah perjalanan sudah mulai terbaca. Ketika transaksi lintas batas yang sebelumnya selalu melibatkan dolar kini mulai menemukan jalur alternatif, tatanan moneter global tengah memasuki babak baru. Apakah ini akan menjadi titik balik atau sekadar penyesuaian sementara, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User