Teknologi Carbon Capture Klaim Pangkas Emisi Industri hingga 95 Persen
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta laporan International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri menyumbang sekitar 25 persen dari total emisi gas rumah kaca nasio...
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta laporan International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri menyumbang sekitar 25 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Angka ini menjadikan industri manufaktur, semen, dan pembangkit listrik sebagai kontributor terbesar setelah sektor energi dan transportasi. Di tengah tekanan global untuk menurunkan suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celsius, teknologi penangkapan karbon atau carbon capture kembali menjadi sorotan sebagai salah satu instrumen kunci dekarbonisasi.
Hashim Djojohadikusumo, tokoh yang aktif mendorong transisi energi di Indonesia, mengungkapkan bahwa teknologi carbon capture yang diterapkan pada cerobong industri mampu menekan emisi hingga 95 persen. Klaim ini muncul saat diskursus mengenai peta jalan net zero emission (NZE) 2060 semakin intensif, terutama setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden tentang nilai ekonomi karbon.
Apa Itu Carbon Capture dan Mengapa Penting?
Secara sederhana, carbon capture adalah proses memisahkan karbon dioksida (CO2) dari gas buang hasil pembakaran di pabrik atau pembangkit listrik, lalu menyimpannya agar tidak lepas ke atmosfer. Teknologi ini terbagi menjadi tiga pendekatan utama: post-combustion, pre-combustion, dan oxy-fuel combustion. Menurut data Global CCS Institute per kuartal IV 2024, kapasitas penangkapan karbon global telah mencapai 51 juta ton per tahun, naik sekitar 32 persen dibandingkan 2023. Indonesia sendiri baru memiliki proyek percontohan di sektor hulu migas, seperti di Gundih, Jawa Tengah, dengan kapasitas sekitar 30 ribu ton CO2 per tahun.
Jika klaim efisiensi 95 persen dapat diwujudkan dalam skala komersial, potensi pengurangan emisi nasional bisa sangat signifikan. Dengan total emisi industri sekitar 270 juta ton CO2 ekuivalen pada 2023, penangkapan 95 persen dari sumber titik tertentu dapat memangkas puluhan juta ton emisi setiap tahunnya. Namun, angka ini baru sebatas proyeksi teknis, bukan realisasi agregat.
Pro: Peluang Investasi dan Transisi Energi
Di satu sisi, teknologi ini membuka ruang baru bagi portofolio hijau dan pendanaan transisi energi. Pemerintah telah menyiapkan kerangka carbon capture, utilization, and storage (CCUS) melalui regulasi yang memungkinkan penyimpanan karbon di reservoir migas yang telah habis. Hashim menilai langkah ini bisa menjadi jembatan antara kebutuhan energi fosil yang masih dominan dan target dekarbonisasi.
"Teknologi ini bukan sekadar wacana. Dengan pendekatan yang tepat, industri bisa menekan emisi secara drastis tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi," ujar Hashim dalam sebuah forum diskusi energi.
Dari kacamata ekonomi, proyek carbon capture berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan alih teknologi, dan mengerek valuasi perusahaan yang menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Bank Indonesia mencatat minat investor global terhadap instrumen hijau terus meningkat, dengan penerbitan obligasi hijau domestik mencapai Rp 21,5 triliun hingga November 2024.
Kontra: Biaya Tinggi dan Tantangan Likuiditas
Di sisi lain, penerapan carbon capture menghadapi sejumlah kendala fundamental. Biaya investasi awal untuk satu fasilitas penangkapan karbon skala besar bisa menembus USD 500 juta hingga USD 1 miliar, tergantung teknologi dan lokasi. Biaya operasional per ton CO2 yang ditangkap juga masih berkisar USD 40 hingga USD 120, jauh lebih mahal dibandingkan harga karbon di pasar domestik yang baru sekitar Rp 30 ribu per ton CO2 ekuivalen atau setara USD 2.
Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan soal likuiditas dan insentif jangka panjang. Tanpa subsidi atau harga karbon yang kompetitif, perusahaan berpotensi menanggung beban capital outflow dan penurunan margin. Selain itu, teknologi ini masih menyisakan emisi sisa 5 persen serta risiko kebocoran penyimpanan jangka panjang yang belum sepenuhnya teruji di Indonesia.
Pengamat energi dari lembaga riset independen menilai bahwa sentimen pasar terhadap carbon capture masih bercampur. Beberapa kalangan menyarankan agar dana justru dialihkan ke energi terbarukan yang biayanya kian turun. Harga listrik dari tenaga surya, misalnya, telah turun sekitar 89 persen dalam satu dekade terakhir menurut data IRENA 2024.
Proyeksi dan Jalan Tengah
Kendati demikian, banyak analis melihat carbon capture bukan sebagai pesaing energi terbarukan, melainkan pelengkap. Sektor industri berat seperti semen dan baja sulit didekarbonisasi hanya dengan listrik hijau, sehingga teknologi penangkapan karbon menjadi opsi realistis. Proyeksi IEA menempatkan kapasitas penangkapan karbon global bisa mencapai 1,2 miliar ton per tahun pada 2050 jika kebijakan iklim diperketat.
Bagi Indonesia, kunci terletak pada kerangka regulasi yang jelas, insentif fiskal, dan pengawasan lingkungan yang ketat. Tren ini akan sangat bergantung pada kombinasi komitmen politik, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan menarik investasi asing. Dengan fundamental ekonomi yang stabil dan kebutuhan dekarbonisasi yang mendesak, carbon capture dapat menjadi salah satu pilar transisi, asalkan tidak diposisikan sebagai solusi tunggal.
Comments (0)