Suhita Lebah Indonesia: Madu Lampung Naik Kelas dengan Dukungan BRI
Industri madu lokal di Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap secara optimal. Di Bandar Lampung, sebuah usaha bernama Suhita Lebah Indonesia hadir membawa semangat baru denga...
Industri madu lokal di Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap secara optimal. Di Bandar Lampung, sebuah usaha bernama Suhita Lebah Indonesia hadir membawa semangat baru dengan menjadikan madu bukan sekadar produk konsumsi, melainkan sebuah ekosistem pemberdayaan yang melibatkan masyarakat dari hulu hingga hilir. Melalui sinergi dengan program pemberdayaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), usaha ini berhasil mentransformasi peternakan lebah rakyat menjadi rantai bisnis yang berkelanjutan, menjaga mutu produk, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.
Dari Hobi Menjadi Gerakan Komunitas
Berawal dari ketertarikan pribadi terhadap lebah tanpa sengat (Trigona), pendiri Suhita Lebah Indonesia melihat adanya kesenjangan antara melimpahnya sumber daya alam Lampung dengan rendahnya nilai tambah yang dinikmati peternak kecil. Banyak peternak hanya menjual madu mentah dengan harga rendah ke tengkulak. Melalui pendampingan dari BRI, Suhita mulai merangkul para peternak di kawasan Sukarame dan sekitarnya untuk bergabung dalam kelompok binaan. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 40 peternak telah tergabung, dengan total populasi koloni lebah mencapai 1.200 kotak yang tersebar di lahan pekarangan dan kebun campuran.
Pelatihan budidaya yang diberikan tidak hanya berfokus pada teknik pemeliharaan lebah, tetapi juga mencakup cara panen yang higienis, pencatatan keuangan sederhana, serta pemasaran digital. Dengan begitu, peternak tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, melainkan mitra yang memiliki posisi tawar lebih kuat dalam rantai nilai madu.
Menjaga Kualitas dari Hulu ke Hilir
Salah satu tantangan terbesar dalam bisnis madu adalah menjaga keaslian dan konsistensi kualitas. Suhita Lebah Indonesia menerapkan standar operasional yang ketat, mulai dari pemilihan lokasi budidaya yang bebas pestisida, metode panen tanpa pemanasan berlebih untuk menjaga enzim alami madu, hingga proses penyaringan bertingkat yang tetap mempertahankan kandungan polen. Di sisi hilir, produk dikemas dalam berbagai varian ukuran dengan sertifikat mutu dari laboratorium terakreditasi, sehingga konsumen mendapatkan jaminan bahwa madu yang mereka konsumsi adalah madu murni tanpa campuran.
Langkah ini sejalan dengan dukungan BRI yang memfasilitasi uji mutu dan perizinan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) serta sertifikasi halal. Menurut data internal kelompok, sejak menerapkan sistem kendali mutu terpadu pada tahun 2024, nilai jual madu per kilogram meningkat rata-rata 35 persen dibandingkan dengan penjualan dalam bentuk curah.
Peran Strategis Pemberdayaan BRI
Kemitraan Suhita Lebah Indonesia dengan BRI bukan sekadar akses permodalan. Program Klasterku Hidupku dan pelatihan dari Rumah Kreatif BUMN milik BRI memberikan ruang bagi usaha ini untuk mengakses pendampingan manajemen bisnis, strategi branding, hingga ekspansi pasar melalui platform digital dan pameran berskala nasional. Dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah yang disalurkan melalui BRI juga dimanfaatkan oleh peternak binaan untuk menambah jumlah koloni dan membangun rumah produksi bersama.
Pendekatan terintegrasi ini membuka peluang baru: Suhita Lebah Indonesia kini mampu memasok madu ke sejumlah gerai oleh-oleh dan kafe di Lampung, serta merambah pasar luar daerah melalui kerja sama dengan reseller dan marketplace. Volume penjualan pada triwulan pertama 2025 tercatat tumbuh 22 persen secara tahunan, menggambarkan bahwa sinergi antara lembaga keuangan, pelaku usaha, dan komunitas dapat menciptakan dampak ekonomi yang nyata.
Dampak Bagi Masyarakat Sekitar
Keberhasilan Suhita Lebah Indonesia tidak hanya diukur dari angka penjualan, tetapi juga dari perubahan taraf hidup peternak mitra. Sebagian besar peternak sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan dari bertani atau buruh lepas dengan penghasilan tidak menentu. Kini, satu kotak lebah mampu menghasilkan rata-rata 1,5 liter madu per bulan, yang jika dikalikan dengan jumlah koloni yang mereka kelola, memberikan tambahan pendapatan yang stabil setiap bulannya. Beberapa peternak bahkan mampu menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi dari hasil usaha madu ini.
Lebih dari itu, budidaya lebah turut mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Peternak diajari untuk menanam tanaman sumber nektar dan menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya. Dengan demikian, kegiatan ekonomi ini juga berkontribusi pada pelestarian ekosistem dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian di sekitarnya melalui penyerbukan alami.
Ke depan, Suhita Lebah Indonesia berencana mengembangkan wisata edukasi lebah serta produk turunan seperti propolis dan sabun madu untuk memperluas pangsa pasar. Dengan fondasi pemberdayaan yang kokoh dan kolaborasi berkelanjutan bersama BRI, usaha ini menjadi contoh bagaimana bisnis berbasis komunitas dapat naik kelas tanpa meninggalkan akar lokalnya.
Baca juga:
Comments (0)