Prospek IPO 2025: Sektor Potensi Cuan di Tengah Ketidakpastian Global
Pasar modal Indonesia memasuki kuartal II 2025 dengan dinamika yang kontras. Di satu sisi, ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan kebijakan moneter negara maju masih membayangi. Di sisi lai...
Pasar modal Indonesia memasuki kuartal II 2025 dengan dinamika yang kontras. Di satu sisi, ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan kebijakan moneter negara maju masih membayangi. Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik yang solid membuka peluang bagi korporasi untuk menggalang dana lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 7 April 2025, terdapat 28 perusahaan dalam pipeline IPO, dengan total target penghimpunan dana mencapai Rp14,6 triliun. Jumlah ini meningkat 12% secara year-on-year dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya mencatat 25 calon emiten. Namun, nilai rata-rata dana yang diincar per perusahaan justru turun 7% menjadi sekitar Rp521 miliar, mengindikasikan bahwa perusahaan cenderung lebih konservatif dalam menetapkan target pendanaan.
Ketahanan Sektor Berorientasi Domestik
Lonjakan jumlah calon emiten didominasi oleh sektor yang bertumpu pada konsumsi domestik. Sektor barang konsumsi primer, ritel modern, dan layanan kesehatan masing-masing menyumbang 6, 5, dan 4 calon emiten. Analis menilai sektor-sektor ini relatif kebal terhadap gejolak eksternal karena permintaan ditopang oleh populasi besar dan pertumbuhan kelas menengah. Namun, ada risiko: daya beli masyarakat bisa tertekan jika inflasi bahan pangan kembali melonjak. Data BPS menunjukkan inflasi inti per Maret 2025 masih terjaga di level 2,85%, tetapi harga beras dan cabai menunjukkan tren kenaikan yang patut diwaspadai.
Prospek IPO di sektor konsumsi tetap menarik, tapi valuasi harus realistis. Pasar tidak akan memberi premium jika pertumbuhan laba tidak sejalan dengan ekspektasi.
Di sisi lain, sektor teknologi dan digital masih menunjukkan geliat. Tercatat 7 startup tengah mengantre, bergerak di bidang fintech, logistik, dan edutech. Hanya saja, investor kini lebih kritis terhadap profitabilitas, berbeda dengan euforia IPO teknologi 2021-2022. Proyeksi menunjukkan bahwa dari 7 startup tersebut, hanya 3 yang mencatatkan EBITDA positif dalam dua tahun terakhir.
Risiko Eksternal: Arus Modal dan Nilai Tukar
Faktor eksternal menjadi batu sandungan utama. Bank Indonesia melaporkan terjadi capital outflow bersih sebesar Rp8,3 triliun dari pasar saham selama triwulan I 2025, seiring dengan ketidakpastian arah suku bunga The Fed. Aliran dana asing yang keluar ini membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 4,7% secara year-to-date hingga Maret 2025. Bagi calon emiten, situasi ini bisa mempersempit jendela IPO ideal dan memaksa penurunan harga penawaran.
Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp15.900 per dolar AS juga menekan emiten yang memiliki komponen impor tinggi dalam struktur biayanya. Sektor manufaktur dan infrastruktur, yang sebelumnya diharapkan menjadi motor IPO, kini hanya menyumbang 5 dari 28 calon emiten. Sebaliknya, emiten dengan pendapatan berbasis dolar, seperti perusahaan pertambangan dan energi terbarukan, justru mencatatkan peningkatan minat dari investor institusi domestik karena berfungsi sebagai lindung nilai alami.
Potensi Cuan dan Strategi Investor
Dari 18 IPO yang telah terjadi sepanjang 2025, 13 saham (72%) mencatatkan kenaikan harga pada hari pertama perdagangan dengan rata-rata return 11,4%. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata 14,2% pada 2024, menandakan pasar yang lebih selektif. Meski begitu, tetap ada peluang cuan bagi investor yang jeli. Pengamat menyarankan untuk mencermati rasio price-to-earning (P/E) historis sektor. Emiten di sektor barang konsumsi saat ini memiliki rata-rata P/E 16,8 kali, di bawah rata-rata lima tahun terakhir sebesar 18,5 kali, yang berarti ada potensi diskon valuasi.
Di sisi kontra, likuiditas pasar yang menipis akibat pemilu di beberapa negara dan pengetatan moneter global bisa memperpanjang masa quiet period bagi emiten baru. Jangan lupakan pula bahwa 20% dari IPO 2024 kini diperdagangkan di bawah harga penawaran, sebuah pengingat bahwa tidak semua IPO langsung mendatangkan untung.
Untuk investor ritel, diversifikasi portofolio dengan memadukan saham IPO dari sektor stabil dan sektor siklikal bisa menjadi kunci. Data OJK per Februari 2025 mencatatkan jumlah investor pasar modal mencapai 14,6 juta, naik 9% secara tahunan, menunjukkan bahwa meski ada ketidakpastian, minat terhadap investasi saham terus tumbuh. Sentimen ini, bila dikelola dengan baik, dapat menjadi bahan bakar bagi IPO di sisa 2025.
Baca juga:
Comments (0)