PHK Global Meningkat, Indonesia Terdampak?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat sebesar 4,8%, turun tipis 0,2% year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama t...

PHK Global Meningkat, Indonesia Terdampak?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat sebesar 4,8%, turun tipis 0,2% year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Jerman dalam tiga bulan terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran akan dampak rambatannya terhadap pasar tenaga kerja dalam negeri.

Di satu sisi, ekonomi Indonesia menunjukkan fundamental yang relatif kuat dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2024 mencapai 5,04% yoy, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi. Sektor manufaktur, khususnya industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki, masih mencatatkan ekspansi dengan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) di atas 52 pada Januari 2025. Akan tetapi, di sisi lain, perlambatan ekonomi global—terutama penurunan permintaan dari mitra dagang utama—berpotensi menekan kinerja ekspor nasional yang pada kuartal IV-2024 hanya tumbuh 1,6% yoy, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,2% yoy.

Risiko PHK Terpusat di Sektor Terguncang

Pro: Menurut analisis Kementerian Ketenagakerjaan, sektor yang paling rentan mengalami PHK massal adalah industri padat karya yang bergantung pada permintaan ekspor, seperti garmen, elektronik, dan furnitur. Data per Januari 2025 menunjukkan bahwa jumlah pekerja formal di sektor tersebut mencapai 4,3 juta jiwa. Jika permintaan global terus melemah, diperkirakan hingga 150.000 pekerja di subsektor ini bisa terkena dampak dalam enam bulan ke depan.

Kontra: Namun, ekonom senior dari Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai bahwa sektor jasa dan ekonomi digital dalam negeri masih menunjukkan daya serap tinggi. Misalnya, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 7,8% pada 2024, sementara sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,1%. Hal ini didorong oleh peningkatan belanja konsumen domestik dan perluasan layanan digital. Menurut proyeksi Bank Indonesia, indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Februari 2025 masih berada di level 128,6, di atas ambang optimis 100, yang mengindikasikan bahwa permintaan dalam negeri tetap kuat.

"Jangan terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa PHK global akan berdampak sistematis di Indonesia. Struktur angkatan kerja kita lebih banyak di sektor informal yang fleksibel dan sektor jasa yang tumbuh," ujar Kepala Departemen Ekonomi Bank Sentral dalam sebuah diskusi tertutup.

Capital Outflow dan Likuiditas Pasar Tenaga Kerja

Di sisi makro, fenomena PHK global juga memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa pada Januari–Februari 2025, investor asing melepas saham senilai Rp 12,3 triliun, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 45 basis poin menjadi 6,95%. Likuiditas di pasar tenaga kerja pun bisa terpengaruh jika perusahaan multinasional mengurangi investasi ekspansi di Indonesia.

Namun, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan per Januari 2025 tetap rendah di 2,3%, menunjukkan bahwa sektor riil masih dapat mengelola tekanan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan mencatat pertumbuhan kredit investasi sebesar 9,2% yoy pada bulan yang sama, yang mengindikasikan bahwa dunia usaha masih percaya diri untuk ekspansi jangka panjang.

Proyeksi dan Respons Kebijakan

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan beberapa instrumen untuk menahan dampak PHK global. Diantaranya, program Kartu Prakerja 2025 yang dialokasikan anggaran Rp 15 triliun untuk pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi 1,5 juta peserta, serta insentif fiskal bagi perusahaan yang mempertahankan tenaga kerja di sektor padat karya. Selain itu, Bank Indonesia juga telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Januari 2025 menjadi 5,75% untuk menstimulasi investasi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 masih berkisar antara 5,0% hingga 5,3% menurut pemerintah. Namun, risikonya adalah jika perlambatan global lebih dalam dari perkiraan, misalnya jika Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi atau perang dagang Amerika-China memanas. Dalam skenario terburuk, tingkat pengangguran terbuka Indonesia bisa meningkat hingga 5,5% pada akhir 2025, masih lebih rendah dari puncak pandemi 2020 yang mencapai 7,1%.

Kesimpulannya, meskipun ancaman PHK global nyata, Indonesia memiliki bantalan berupa konsumsi domestik yang kuat, sektor jasa yang dinamis, serta kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif. Kuncinya adalah bagaimana efektivitas implementasi program-program tersebut dalam menjaga momentum pertumbuhan dan menyerap pekerja yang mungkin terdampak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User