Peringkat S&P Dorong IHSG Melonjak 4,24 Persen ke 6.175

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan sebesar 4,24 persen dalam sepekan, ditutup di level 6.175 pada akhir perdagangan Jumat (14/6). Data perdagangan menunjukkan volume tran...

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan sebesar 4,24 persen dalam sepekan, ditutup di level 6.175 pada akhir perdagangan Jumat (14/6). Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 25,3 miliar saham dengan nilai total Rp42,7 triliun, melonjak dari rata-rata harian sebelumnya yang hanya berkisar Rp9–10 triliun. Investor asing kembali mencatatkan beli bersih senilai Rp3,8 triliun, membalikkan tren capital outflow yang sempat terjadi pada kuartal pertama tahun ini. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun bertambah sekitar Rp280 triliun, menembus angka Rp10.200 triliun.

Fokus utama pekan ini tertuju pada pengumuman terbaru dari S&P Global Ratings yang memberikan afirmasi peringkat kredit Indonesia di level BBB (investment grade) dengan prospek stabil. Keputusan ini sekaligus menepis kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan peringkat di tengah tekanan fiskal global pascapandemi. Di satu sisi, sentimen positif langsung merambat ke saham-saham perbankan, infrastruktur, dan properti—sektor yang paling sensitif terhadap persepsi risiko negara. Di sisi lain, beberapa analis mengingatkan bahwa reli ini masih rentan terhadap dinamika suku bunga global dan harga komoditas yang fluktuatif.

Katalis Utama dari S&P Global Ratings

Berdasarkan rilis yang dipublikasikan pada Rabu (12/6), S&P menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Rasio utang terhadap PDB yang terjaga di kisaran 39 persen—jauh di bawah ambang batas 60 persen menurut Undang-Undang Keuangan Negara—menjadi pertimbangan utama. Selain itu, cadangan devisa per akhir Mei tercatat sebesar US$140,3 miliar, setara 6,5 bulan impor, memberikan bantalan likuiditas yang memadai. S&P juga menyoroti pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai dua digit, tepatnya 11,8 persen year-on-year, sebagai indikator pulihnya permintaan domestik.

Prospek stabil yang diberikan mengindikasikan bahwa lembaga pemeringkat tidak melihat adanya tekanan berarti dalam 12–18 bulan ke depan. Ini membuka ruang bagi investor institusi global yang memiliki mandat portofolio terbatas pada negara investment grade untuk kembali menambah bobot Indonesia. Beberapa nama besar seperti BlackRock dan Vanguard disebut-sebut meningkatkan eksposur mereka pada obligasi pemerintah dan saham blue chip Indonesia pasca pengumuman tersebut. Sentimen ini yang kemudian memicu inflow deras ke pasar saham, terutama pada saham-saham dengan valuasi yang masih terdiskon.

Sektor Perbankan dan Properti Menjadi Motor Penguatan

Secara sektoral, indeks keuangan melonjak 5,7 persen, menjadi kontributor terbesar kenaikan IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 8,2 persen menjadi Rp5.450, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 6,5 persen, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menambah 4,1 persen. Lonjakan ini mencerminkan keyakinan investor terhadap perbaikan kualitas aset dan potensi penurunan biaya dana seiring meredanya risiko sovereign. Tak ketinggalan, indeks properti mencatat kenaikan 6,3 persen, didukung ekspektasi bahwa peringkat investment grade akan menurunkan yield obligasi korporasi dan mempermudah akses pendanaan proyek.

Saham-saham infrastruktur juga turut berpesta. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) naik 5,9 persen di tengah optimisme kelanjutan proyek jalan tol Trans-Jawa. Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang memiliki bobot besar di IHSG turut naik 3,8 persen seiring ekspektasi peningkatan belanja digital. Total, sebanyak 38 dari 45 saham di indeks LQ45 berakhir di zona hijau, menunjukkan penguatan yang merata.

Pro: Fundamental Kian Kuat, Kontra: Risiko Global Masih Membayangi

Pro: Keputusan S&P dapat menjadi turning point bagi persepsi risiko Indonesia. Dengan rasio utang yang rendah dan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 yang mencapai 5,11 persen year-on-year, Indonesia memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas. Inflasi yang kembali melandai ke 2,8 persen pada Mei 2024 juga memberikan keleluasaan bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25 persen. Jika tren ini berlanjut, tidak mustahil IHSG dapat menguji level 6.400 pada akhir kuartal kedua.

Kontra: Di tengah euforia, risiko eksternal tetap perlu dicermati. Ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, yang masih mempertimbangkan penurunan suku bunga di paruh kedua, dapat memicu volatilitas nilai tukar rupiah. Apalagi harga komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) menunjukkan pelemahan bertahap. Data terbaru menunjukkan harga CPO acuan Malaysia turun 3,2 persen dalam sebulan terakhir. Jika tekanan ini berlanjut, kinerja ekspor dan penerimaan negara berpotensi tertekan, menahan laju IHSG.

Pelaku pasar juga mencermati potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan tajam ini, terutama menjelang libur panjang dan akhir kuartal. Valuasi IHSG yang kini berada di price-to-earnings (P/E) ratio 14,2 kali—sedikit di atas rata-rata historis lima tahun sebesar 13,8 kali—membuat saham-saham menjadi kurang murah bagi investor yang mengincar margin of safety lebih tinggi.

Meski demikian, mayoritas analis tetap optimis bahwa katalis domestik—termasuk potensi penurunan suku bunga BI pada semester kedua—dapat mengimbangi risiko global. Dana asing yang kembali masuk, likuiditas pasar yang membaik, dan fundamental korporasi yang terus menunjukkan perbaikan menjadi penopang utama. Pekan depan, fokus akan bergeser pada rilis data penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen yang dapat memberikan konfirmasi lebih lanjut tentang kekuatan permintaan domestik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User