Perbedaan Pola Konsumsi Kelas Atas: Old Money vs Orang Kaya Baru

Berdasarkan studi terbaru Boston Consulting Group (BCG) yang dirilis pada 20 Mei 2025, terlihat kesenjangan mendasar dalam cara dua segmen masyarakat kelas atas membelanjakan kekayaannya. Laporan ters...

Perbedaan Pola Konsumsi Kelas Atas: Old Money vs Orang Kaya Baru

Berdasarkan studi terbaru Boston Consulting Group (BCG) yang dirilis pada 20 Mei 2025, terlihat kesenjangan mendasar dalam cara dua segmen masyarakat kelas atas membelanjakan kekayaannya. Laporan tersebut membedah perilaku old money, yaitu keluarga kaya yang harta bendanya telah terakumulasi lintas generasi, dengan orang kaya baru (OKB) yang kekayaannya diperoleh dalam waktu relatif singkat, umumnya dari sektor bisnis digital, pasar modal, atau warisan mendadak. Data BCG mengindikasikan bahwa alokasi dana di kedua kelompok ini tidak hanya berbeda dalam preferensi barang, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup yang berlawanan.

Dari total responden yang memiliki kekayaan bersih di atas USD 5 juta, old money menguasai 62% portofolio aset jangka panjang, sedangkan OKB hanya 38%. Kesenjangan ini menjadi titik awal untuk memahami perbedaan mendasar dalam strategi keuangan.

Old Money: Investasi Jangka Panjang dan Warisan

Bagi kelompok old money, pengeluaran bukan sekadar konsumsi, melainkan alat untuk mempertahankan dan mentransfer kekayaan. Berdasarkan data BCG, sekitar 45% dari total pengeluaran diskresioner mereka dialokasikan ke instrumen investasi seperti obligasi pemerintah, saham blue chip, properti komersial, dan seni rupa. Angka ini naik 8% secara year-on-year, menandakan prioritas pada pertumbuhan nilai aset.

Menariknya, belanja barang mewah hanya menyerap 18% dari anggaran old money. Mereka cenderung memilih produk understated seperti jam tangan klasik, perhiasan warisan, atau mobil antik yang memiliki nilai apresiasi.

Bagi mereka, kemewahan adalah privasi, bukan pamer,
tulis laporan BCG.

Sumbangan filantropi juga menjadi pos penting, mencapai 15% dari pengeluaran tahunan. Hal ini seringkali terikat dengan strategi pajak dan pembangunan yayasan keluarga yang memperkuat pengaruh sosial. Old money memahami bahwa kekayaan yang diwariskan harus disertai nilai dan tanggung jawab sosial agar diterima lintas generasi.

Orang Kaya Baru: Konsumsi Ekspresif dan Likuiditas Tinggi

Di sisi lain, OKB menunjukkan pola yang hampir terbalik. Menurut BCG, 52% pengeluaran mereka diarahkan pada barang-barang konsumsi telihat (conspicuous consumption), mulai dari mobil sport edisi terbatas, tas branded terkini, hingga properti residensial di kawasan premium. Pertumbuhan belanja jenis ini mencapai 14% year-on-year, jauh melampaui inflasi umum.

Hanya 22% kekayaan OKB yang ditempatkan pada portofolio investasi tradisional. Sisanya banyak tersimpan dalam bentuk deposito berjangka pendek atau properti dengan tujuan gengsi, bukan pendapatan sewa. Likuiditas tinggi ini membuat mereka rentan terhadap perubahan tren dan gejolak ekonomi, karena aset tidak terdiversifikasi dengan baik.

Pengeluaran untuk hiburan dan networking juga mendominasi, mencakup 26% total belanja. Klub malam eksklusif, perjalanan mewah, dan pesta pribadi menjadi ajang validasi status. Laporan BCG menyebut fenomena ini sebagai

instant gratification loop
yang didorong oleh media sosial.

Dua Perspektif: Keamanan Finansial vs. Dinamika Ekonomi

Di satu sisi, pola old money dinilai lebih stabil dan tahan krisis. Dengan penekanan pada aset yang menghasilkan pendapatan pasif, mereka mampu mempertahankan gaya hidup tanpa menggerus pokok kekayaan. Rasio utang terhadap aset pada old money rata-rata hanya 12%, sementara pada OKB mencapai 34%, menunjukkan ketergantungan yang lebih tinggi pada pembiayaan eksternal.

Di sisi lain, konsumsi OKB justru menjadi motor penggerak sektor ritel dan jasa premium. Lonjakan permintaan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata, otomotif mewah, dan properti. Seorang analis ekonomi dari FEUI menyatakan bahwa tanpa spending agresif dari new money, pertumbuhan bisnis luxury di Indonesia tidak akan setinggi ini.

Namun, risiko muncul ketika terjadi capital outflow atau pengetatan kredit. Sifat konsumtif OKB yang dibiayai utang berpotensi menciptakan gelembung aset, terutama di properti segmen atas. Data OJK menunjukkan kredit pemilikan rumah mewah naik 18% dalam dua tahun terakhir, didominasi oleh debitur dengan profil bisnis baru.

Implikasi Bagi Perencana Keuangan dan Kebijakan

Perbedaan ini memberikan pelajaran penting bagi para wealth manager dan perencana keuangan. Old money membutuhkan layanan perencanaan warisan yang kompleks, trust fund, dan konsultasi pajak, sementara OKB lebih memerlukan edukasi tentang diversifikasi dan manajemen risiko. BCG merekomendasikan agar institusi keuangan menyesuaikan pendekatan: butik eksklusif untuk old money, platform digital gesit untuk OKB.

Bagi pemerintah, data ini relevan untuk merumuskan insentif pajak yang mendorong investasi produktif. Jika konsumsi OKB bisa dialihkan ke sektor produktif, misalnya melalui obligasi infrastruktur atau investasi startup, maka dampak pengganda terhadap perekonomian nasional akan lebih besar. Saat ini, efektivitas insentif tersebut masih rendah: hanya 5% OKB yang memanfaatkan insentif pajak investasi, berbanding 28% pada old money.

Pengaruh Budaya dan Gaya Hidup Digital

Perkembangan media sosial turut memperdalam jurang gaya hidup kedua kelompok. OKB kerap membagikan momen pembelian barang mewah secara instan, menciptakan tekanan sosial untuk terus meningkatkan spending. Sementara itu, old money cenderung menjaga privasi dan memilih eksklusivitas di lingkaran tertutup. Fenomena ini memengaruhi sektor pemasaran: brand premium kini harus memutuskan apakah mengincar pasar OKB yang lebih luas atau tetap menjaga eksklusivitas old money.

Lebih jauh, perbedaan ini berdampak pada sektor keuangan. Aliran dana OKB yang besar ke deposito jangka pendek membantu likuiditas perbankan, namun juga meningkatkan volatilitas jika tiba-tiba ditarik. Sebaliknya, dana old money yang tersimpan dalam instrumen panjang memberi stabilitas pasar modal.

Kesimpulan: Bukan Soal Baik atau Buruk, Melainkan Strategi

Tidak ada model yang absolut benar; keduanya memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial masing-masing. Old money menjaga stabilitas dan melestarikan nilai, sementara OKB menginjeksi vitalitas dan menggerakkan pasar. Yang paling penting adalah pemahaman bahwa setiap keputusan pengeluaran adalah cermin dari visi keuangan seseorang. Dengan menggali data seperti yang disajikan BCG, kita bisa memahami bagaimana kekayaan membentuk, dan dibentuk oleh, perilaku manusia. Masyarakat dapat belajar dari kedua pola ini untuk menyusun perencanaan keuangan yang lebih matang, menyeimbangkan antara kenikmatan hari ini dan warisan esok.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User