Netanyahu Ketakutan, Minta Perlindungan Seumur Hidup untuk Keluarga
Di tengah pusaran akhir kekuasaan yang kian mendekat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampak mulai dihantui rasa takut yang mendalam. Bukan sekad
Di tengah pusaran akhir kekuasaan yang kian mendekat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampak mulai dihantui rasa takut yang mendalam. Bukan sekadar ketakutan akan kehilangan kursi empuk yang telah ia duduki selama lebih dari satu setengah dekade, melainkan sebuah kekhawatiran eksistensial yang menyangkut keselamatan dirinya dan keluarganya. Dalam sebuah langkah yang mengejutkan panggung politik Israel, Netanyahu secara resmi mengajukan permintaan agar negara memberikan jaminan pengamanan ketat seumur hidup bagi dirinya, istrinya Sara, serta kedua putranya, Yair dan Avner. Permintaan ini mencuat di saat posisi politiknya mulai goyah—tekanan dari koalisi yang retak, gelombang protes jalanan yang tak kunjung reda, dan bayang-bayang proses hukum yang terus membayangi.
Langkah Mengejutkan di Penghujung Karier
Permintaan perlindungan seumur hidup ini bukanlah hal yang lazim bagi seorang perdana menteri Israel yang akan lengser. Biasanya, mantan pemimpin hanya mendapatkan pengawalan terbatas selama beberapa tahun pertama pasca-jabatan. Namun, Netanyahu, yang kini berusia 76 tahun, tampaknya tidak ingin mengambil risiko. Menurut sumber internal yang dekat dengan kantor perdana menteri, surat resmi telah dikirimkan kepada Komite Keamanan Knesset pada awal pekan ini, meminta alokasi anggaran khusus untuk tim pengamanan pribadi yang akan menyertai keluarga Netanyahu sepanjang sisa hidup mereka.
“Ini bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Ada ancaman yang sangat nyata dan spesifik terhadap keluarga perdana menteri,” ujar seorang pejabat senior Shin Bet yang enggan disebutkan namanya. “Kita bicara tentang sosok yang telah menjadi wajah Israel di mata dunia, yang secara otomatis menjadi target berbagai kelompok permusuhan.”
Bayang-bayang Pembunuhan yang Menghantui
Trauma pembunuhan Yitzhak Rabin pada 1995 oleh seorang ekstremis Yahudi sepertinya belum sepenuhnya hilang dari ingatan kolektif para pemimpin Israel. Netanyahu, yang kala itu menjadi tokoh oposisi vokal terhadap Perjanjian Oslo, kini justru berada di posisi yang sama rentannya. Sejarawan politik dari Universitas Ibrani, Prof. Amnon Levi, menuturkan bahwa situasi saat ini jauh lebih kompleks. “Polarisasi politik di Israel mencapai titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ditambah dengan ancaman konstan dari Hizbullah, Hamas, dan proxy Iran, seorang mantan perdana menteri bisa menjadi target bernilai tinggi bagi serangan balas dendam,” jelasnya.
Data intelijen yang bocor ke media menunjukkan terjadi peningkatan 45% ancaman terverifikasi terhadap tokoh politik Israel sepanjang 2025–2026. Sebagian besar berasal dari forum-forum siber yang terafiliasi dengan jaringan ekstremis lintas batas. Konteks ini membuat permintaan Netanyahu terlihat lebih rasional di mata para pendukungnya, namun tetap memicu perdebatan sengit di kalangan oposisi.
Perdebatan Panas di Knesset dan Kritik Oposisi
Begitu permintaan ini mencuat ke publik, fraksi-fraksi oposisi langsung bereaksi keras. Mereka menilai langkah Netanyahu sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang di saat negara tengah menghadapi defisit anggaran yang parah. Biaya pengamanan VIP tingkat tinggi untuk satu keluarga diperkirakan mencapai 8–12 juta shekel per tahun (sekitar Rp34–51 miliar), angka yang dianggap tidak masuk akal oleh banyak pihak.
- Partai Yesh Atid menyebut permintaan ini “absurd” dan mendesak agar pengamanan hanya diberikan jika ada ancaman terverifikasi oleh Shin Bet, bukan permintaan pribadi.
- Partai Likud membela Netanyahu dengan menyatakan bahwa pengorbanannya untuk negara selama puluhan tahun seharusnya diimbangi dengan proteksi maksimal.
- LSM pengawas anggaran menuntut transparansi penuh atas biaya dan protokol keamanan yang diajukan, khawatir terjadi penyalahgunaan dana publik.
Netanyahu sendiri belum memberikan pernyataan publik resmi terkait kontroversi ini. Namun, juru bicaranya hanya menegaskan bahwa permintaan tersebut adalah langkah prosedural yang sah dan telah berkonsultasi dengan otoritas keamanan nasional.
Cerminan Sebuah Era yang Membara
Permintaan ini sejatinya bukan hanya tentang perlindungan fisik, melainkan mencerminkan sebuah era yang penuh ketidakpastian di Timur Tengah. Normalisasi hubungan dengan beberapa negara Arab, eskalasi dengan Iran, dan dinamika internal Israel pasca-putusan Mahkamah Agung telah menciptakan musuh di banyak lini. Bagi seorang Netanyahu—yang namanya identik dengan kebijakan keras terhadap Palestina—risiko pembalasan di masa pensiun menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Beberapa analis membandingkan situasi ini dengan perlindungan seumur hidup yang diterima mantan Presiden Amerika Serikat, meskipun konteks geopolitiknya jauh berbeda. “Israel adalah negara kecil yang dikelilingi musuh. Tidak ada lautan luas yang bisa melindungi mantan pemimpinnya seperti di AS,” tambah Dr. Miriam Halevy, pakar keamanan dari INSS. “Netanyahu mungkin merasa bahwa begitu ia meninggalkan jabatan, ia dan keluarganya akan menjadi target empuk.”
Publik Israel sendiri terbelah. Sebagian simpati, mengingat dedikasi Netanyahu semasa berkuasa. Sebagian lagi muak dan menganggap permintaan ini sebagai pelarian dari tanggung jawab hukum yang mengintainya. Di media sosial, tagar #BibiProtection menjadi trending, penuh dengan meme, caci maki, dan dukungan yang saling bersahutan. Satu hal yang pasti: langkah ini semakin mempertegas bahwa perjalanan politik Benjamin Netanyahu tidak akan berakhir dengan sunyi, melainkan dalam kegaduhan dan ketakutan yang mendalam.
[SOCIAL_TWEET]: Di akhir kekuasaannya, Netanyahu minta proteksi seumur hidup untuk diri dan keluarga. Biaya hingga puluhan miliar per tahun tuai kontroversi. #Netanyahu #Israel #KeamananVIP #TimurTengah[SOCIAL_TG]: 🔒 Netanyahu minta perlindungan seumur hidup! Permintaan kontroversial di akhir masa jabatan yang bikin publik Israel terbelah. Simak analisanya di sini. #Israel #Netanyahu #Keamanan
Comments (0)