Oct 10, 2026
Bisnis

Mobil Perpustakaan Keliling Revitalisasi Dorong Literasi Pelajar Jakarta

Berdasarkan data terbaru mengenai indeks literasi nasional, kemampuan membaca pelajar Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental. Skor Programme for International Student Assessment (PISA) terak...

Mobil Perpustakaan Keliling Revitalisasi Dorong Literasi Pelajar Jakarta

Berdasarkan data terbaru mengenai indeks literasi nasional, kemampuan membaca pelajar Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental. Skor Programme for International Student Assessment (PISA) terakhir menempatkan Indonesia di peringkat bawah, dengan rata-rata skor membaca 371 dari skala 500, jauh tertinggal dari rata-rata negara OECD yang mencapai 476. Kesenjangan ini menjadi latar belakang munculnya berbagai inisiatif literasi berbasis komunitas, salah satunya program mobil perpustakaan keliling yang hadir di kawasan Bahtera LiteraSEA, TIM, Jakarta.

Revitalisasi Fasilitas dan Strategi Pendekatan Baru

Program ini tidak sekadar menghadirkan buku dalam mobil, melainkan melalui proses revitalisasi menyeluruh. Armada yang digunakan telah mengalami pembaruan interior, penambahan koleksi bacaan anak, serta penyesuaian tata letak agar lebih ramah bagi pelajar usia sekolah dasar hingga menengah. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari literasi sebagai kewajiban akademik menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Menurut data Kementerian Pendidikan, tingkat partisipasi membaca sukarela pelajar di DKI Jakarta baru mencapai sekitar 32 persen dari total populasi pelajar, sementara target nasional tahun 2025 adalah 50 persen. Kesenjangan sebesar 18 poin persentase inilah yang coba dijembatani melalui kehadiran fasilitas keliling yang menjangkau titik-titik yang tidak memiliki akses mudah ke perpustakaan tetap.

"Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi soal menciptakan ekosistem di mana anak merasa terdorong untuk membaca secara mandiri," ujar seorang pengamat pendidikan dasar saat dihubungi terkait program serupa.

Pro: Aksesibilitas dan Efek Multiplier Literasi

Di satu sisi, keberadaan mobil perpustakaan keliling menawarkan solusi langsung terhadap persoalan akses. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, rasio ketersediaan perpustakaan sekolah terhadap jumlah sekolah dasar di Indonesia baru mencapai 0,68, artinya masih ada sekitar 32 persen sekolah yang belum memiliki fasilitas perpustakaan memadai. Kondisi ini menciptakan kesenjangan akses yang signifikan antara pelajar di perkotaan dan pinggiran.

Program keliling seperti ini juga berpotensi menciptakan efek pengganda terhadap budaya literasi keluarga. Ketika anak membawa pulang kebiasaan membaca, ada kecenderungan orang tua ikut terlibat dalam aktivitas membaca bersama. Studi Bank Dunia pada 2023 menunjukkan bahwa setiap 1 poin peningkatan indeks literasi keluarga berkorelasi dengan kenaikan 0,7 poin capaian akademik anak. Artinya, intervensi di level pelajar berpotensi mengangkat capaian pendidikan secara lebih luas.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Pengukuran Dampak

Di sisi lain, sejumlah ekonom pendidikan menyoroti persoalan keberlanjutan dari model perpustakaan keliling. Mobil keliling membutuhkan biaya operasional rutin yang tidak kecil, mulai dari bahan bakar, pemeliharaan kendaraan, gaji pustakawan, hingga pengadaan koleksi baru setiap tahunnya. Tanpa skema pendanaan yang jelas, program semacam ini rentan berhenti setelah momentum awal mereda.

Selain itu, pengukuran dampak sering kali tidak dilakukan secara sistematis. Data kunjungan mobil perpustakaan tidak otomatis mencerminkan peningkatan kemampuan literasi. Diperlukan evaluasi berbasis capaian skor membaca sebelum dan sesudah intervensi. Tanpa itu, program ini berisiko sekadar menjadi sentimen positif jangka pendek tanpa perubahan fundamental pada tingkat literasi pelajar secara nasional.

Dari perspektif likuiditas anggaran, alokasi dana untuk program literasi keliling masih sangat kecil dibandingkan total anggaran pendidikan yang mencapai Rp 665 triliun pada 2025. Porsi belanja literasi komunitas berada di bawah 1 persen, sementara kebutuhan riil di lapangan jauh lebih besar. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia jangka panjang.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, keberhasilan program seperti ini akan sangat bergantung pada integrasi dengan kebijakan literasi yang lebih luas. Pemerintah perlu mendorong kolaborasi antara sektor publik, swasta, dan komunitas untuk memastikan ketersediaan koleksi yang mutakhir, pelatihan pustakawan yang berkelanjutan, serta sistem monitoring dampak yang transparan. Tanpa itu, setiap upaya revitalisasi hanya akan menjadi langkah parsial tanpa daya ubah struktural.

Pada akhirnya, literasi bukan proyek sesaat, melainkan investasi jangka panjang. Setiap mobil perpustakaan yang hadir di tengah pelajar adalah fondasi kecil bagi masa depan indeks literasi nasional yang lebih kompetitif di kancah global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User