Miopia Anak Bukan Sekadar Gangguan, Ini Beban Ekonomi dan Deteksi Dini

Gangguan penglihatan pada anak kerap dianggap sebatas kebutuhan kacamata minus. Namun, berdasarkan data Kementerian Kesehatan per September 2024, prevalensi miopia pada anak usia 6-15 tahun di Indones...

Gangguan penglihatan pada anak kerap dianggap sebatas kebutuhan kacamata minus. Namun, berdasarkan data Kementerian Kesehatan per September 2024, prevalensi miopia pada anak usia 6-15 tahun di Indonesia mencapai 14,8 persen, naik 2,1 poin persentase dari lima tahun sebelumnya. Angka ini membawa konsekuensi ekonomi yang jauh lebih besar dari sekadar biaya lensa. Miopia yang tidak terkelola meningkatkan risiko komplikasi permanen—seperti ablasi retina, glaukoma, dan katarak dini—yang biaya penanganannya dapat melonjak hingga delapan kali lipat dibanding intervensi dini, menurut proyeksi data klaim BPJS Kesehatan tahun 2023. Karena itu, para pakar kesehatan anak dan ekonom kini menyoroti pentingnya deteksi dini dan manajemen progresivitas sebagai strategi menekan beban jangka panjang.

Dampak Ekonomi Miopia yang Tak Kasatmata

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk perawatan mata anak mengalami kenaikan year-on-year sebesar 11,6 persen di wilayah perkotaan. Tidak hanya mencakup kacamata atau lensa kontak, beban ekonomi juga muncul dari pemeriksaan berkala, terapi ortokeratologi, hingga penggunaan obat tetes atropin dosis rendah yang kini menjadi standar baru manajemen miopia progresif. Di sisi lain, biaya sosial dan ekonomi akibat kehilangan produktivitas di masa depan jika anak mengalami gangguan penglihatan berat belum banyak diperhitungkan. Studi internal lembaga riset kesehatan masyarakat memperkirakan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan pada deteksi dini dapat menghemat Rp7,50 biaya perawatan lanjutan sepuluh tahun mendatang.

Pro dan Kontra Intervensi Dini: Mahal di Muka, Hemat di Kemudian

Pro: Intervensi dini sebagai proteksi nilai ekonomi jangka panjang. Deteksi dini dimulai dari fase pre-myopia—kondisi di mana anak belum menunjukkan minus signifikan tetapi memiliki faktor risiko seperti pertumbuhan bola mata yang lebih cepat. Pemeriksaan siklopegik oleh dokter spesialis mata memungkinkan identifikasi risiko progresivitas cepat. Dengan intervensi seperti kacamata khusus, lensa kontak orthokeratology, atau atropin 0,01%, tingkat progresivitas miopia dapat ditekan hingga 60-80 persen, menurut data uji klinis multisenter terbaru. Dari perspektif ekonomi, biaya awal yang berkisar Rp3-5 juta per tahun untuk terapi ini jauh lebih rendah daripada potensi operasi ablasi retina yang bisa mencapai Rp40 juta per mata. Dengan demikian, intervensi dini berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap risiko biaya katastropik di masa depan.

Kontra: Hambatan akses dan beban biaya awal. Di sisi lain, tidak semua keluarga mampu menanggung biaya intervensi dini yang relatif tinggi. Tanpa dukungan asuransi atau subsidi pemerintah, deteksi dini dan manajemen progresivitas hanya akan diakses oleh segmen menengah-atas, memperlebar kesenjangan kesehatan. Selain itu, masih rendahnya literasi orang tua tentang miopia sebagai ancaman struktural—bukan sekadar refraksi biasa—sering membuat pendekatan ini belum menjadi prioritas dalam belanja kesehatan keluarga. Diperlukan kebijakan fiskal atau insentif agar biaya intervensi lebih terjangkau, misalnya melalui perluasan manfaat kartu jaminan kesehatan atau potongan pajak untuk pemeriksaan mata anak.

Deteksi Dini dan Manajemen Progresivitas: Kunci Penghematan Jangka Panjang

Manajemen progresivitas miopia bukan hanya soal mencegah minus bertambah, tetapi juga melindungi kesehatan mata anak dalam jangka panjang. Terminologi seperti pre-myopia merujuk pada kondisi di mana panjang aksial bola mata masih dalam rentang normal, tetapi laju pertumbuhannya sudah melebihi ambang fisiologis. Tanpa intervensi, anak di fase ini berisiko tinggi mengembangkan miopia tinggi minus di atas 6,00 D—kondisi yang memperbesar probabilitas komplikasi degeneratif hingga 40 persen sebelum usia 40 tahun. Pakar oftalmologi komunitas menekankan bahwa skrining sejak usia 3 tahun, terutama pada anak dengan orang tua miopia, adalah langkah fundamental yang sejalan dengan prinsip ekonomi preventif: semakin dini intervensi, semakin rendah lifecycle cost penanganan gangguan penglihatan.

Dari sudut makro, tren urbanisasi dan peningkatan penggunaan perangkat digital pada anak diperkirakan akan mendorong prevalensi miopia menjadi 18 persen pada 2030. Tanpa kebijakan deteksi dini yang masif, potensi beban ekonomi nasional dari hilangnya produktivitas dan biaya kesehatan akibat miopia komplikasi bisa mencapai 0,3 persen dari produk domestik bruto per tahun—setara dengan nilai belanja infrastruktur digital pemerintah pada tahun anggaran berjalan. Karena itu, memasukkan skrining miopia ke dalam program imunisasi kesehatan sekolah adalah langkah strategis yang menggabungkan kepentingan kesehatan publik dengan efisiensi anggaran jangka panjang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User