Lelang Sukuk Negara Targetkan Rp10 Triliun, Delapan Seri Ditawarkan
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pada pekan ini dengan target perolehan dana sebesar Rp10 triliun. Dalam lelang yang dij...
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pada pekan ini dengan target perolehan dana sebesar Rp10 triliun. Dalam lelang yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 15 April 2025, pemerintah menawarkan delapan seri sukuk dengan rentang imbal hasil atau kupon berkisar antara 5 hingga 6 persen per tahun. Lelang ini menjadi bagian dari strategi pembiayaan APBN 2025 yang mengandalkan instrumen syariah sebagai salah satu pilar pendanaan.
Lelang sukuk kali ini hadir di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan kebijakan moneter bank sentral utama dunia. Di satu sisi, permintaan terhadap instrumen berbasis syariah terus menunjukkan tren meningkat seiring dengan berkembangnya ekosistem keuangan syariah domestik. Di sisi lain, volatilitas imbal hasil obligasi konvensional berpotensi mempengaruhi minat investor terhadap sukuk yang memiliki karakteristik minim risiko gagal bayar.
Delapan Seri dengan Beragam Tenor dan Imbal Hasil
Berdasarkan data yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, delapan seri yang dilelang mencakup seri-seri reopening dari surat berharga yang telah beredar di pasar sekunder. Seri tersebut terdiri dari SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara Syariah) bertenor pendek hingga PBS (Project Based Sukuk) bertenor menengah dan panjang. SPN-S 03102025 bertenor 6 bulan ditawarkan dengan imbal hasil diskonto, sementara PBS036 tenor 5 tahun dan PBS038 tenor 15 tahun menawarkan kupon tetap masing-masing di kisaran 5,2% dan 5,8%. Seri PBS039 tenor 25 tahun memberikan kupon sekitar 6%, menjadi yang tertinggi dalam lelang kali ini.
“Penawaran multi-tenor seperti ini memberi fleksibilitas bagi investor untuk menyesuaikan profil risiko dan kebutuhan likuiditas mereka,” ujar Ekonom Senior Bank Syariah Indonesia dalam sebuah diskusi. “Seri pendek cocok bagi institusi keuangan yang mengelola kas harian, sementara tenor panjang menarik bagi dana pensiun dan asuransi syariah yang mencari imbal hasil stabil jangka panjang.”
Dengan imbal hasil di rentang 5-6%, sukuk ini menawarkan selisih cukup menarik dibandingkan rata-rata inflasi tahun berjalan yang diproyeksikan BI berada di 2,5% plus minus 1%. Real return yang positif ini menjadi daya tarik tersendiri di saat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) masih bertahan di level 5,75%.
Respon Pasar dan Proyeksi Permintaan
Pasar merespons lelang ini dengan optimisme terukur. Pada lelang sukuk sebelumnya di awal Maret 2025, penawaran yang masuk mencapai Rp29,6 triliun, lebih dari dua kali lipat target indikatif Rp12 triliun. Rasio bid-to-cover yang tinggi itu menunjukkan likuiditas investor terhadap instrumen syariah masih melimpah. Namun, ada kekhawatiran bahwa lelang kali ini dapat menghadapi tekanan dari potensi capital outflow akibat sentimen eksternal, terutama jika data inflasi Amerika Serikat kembali memanas sehingga the Fed menunda pemangkasan suku bunga.
“Di satu sisi, fundamental makro Indonesia yang solid dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang diperkirakan 5,1% dan defisit APBN yang terkendali di bawah 2,5% PDB memberi kepercayaan investor. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah bisa membatasi partisipasi investor asing pada seri bertenor panjang,” ujar Buffy, analis pasar obligasi dari sebuah bank investasi. “Kami perkirakan total penawaran masuk antara Rp20 triliun hingga Rp25 triliun, sehingga pemerintah kemungkinan besar menyerap lebih dari target, mungkin sampai Rp15 triliun.”
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2025 menunjukkan kepemilikan asing pada SBN syariah mencapai 12,3% dari total outstanding, sedikit menurun dibanding posisi akhir 2024 yang 13,1%. Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor global, namun diimbangi oleh meningkatnya alokasi dari perbankan syariah dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang terus memperbesar porsi portofolio di instrumen pendapatan tetap syariah.
Dampak Kebijakan Moneter terhadap Yield
Keputusan BI untuk menahan BI7DRR di 5,75% sejak awal tahun turut mempengaruhi ekspektasi imbal hasil sukuk. Di pasar sekunder, yield seri benchmark PBS036 saat ini bergerak di 5,25%, sedangkan PBS038 di 5,8%. Dengan kupon yang ditawarkan di kisaran itu, lelang ini tidak memberikan premium signifikan, sehingga investor cenderung akan mengandalkan potensi kenaikan harga jika suku bunga turun di semester kedua. Proyeksi konsensus analis memperkirakan BI akan mulai memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada kuartal III-2025 jika inflasi inti tetap jinak dan rupiah stabil di bawah Rp16.000 per dolar AS.
Dari sisi penawaran, pemerintah memang agresif dalam menyerap dana masyarakat melalui lelang SBN, baik konvensional maupun syariah, sebagai antisipasi kebutuhan pembiayaan yang meningkat akibat program prioritas. Total target penerbitan SBN neto tahun 2025 mencapai Rp666 triliun, dengan porsi sukuk sekitar 25%. “Pemerintah ingin mengamankan pembiayaan selagi pasar masih kondusif dan permintaan kuat,” jelas Buffy. “Lonjakan belanja infrastruktur dan subsidi energi membuat fleksibilitas fiskal menjadi krusial.”
Mencermati lelang pekan ini, investor dapat memanfaatkan momentum untuk menambah eksposur pada aset berpendapatan tetap yang aman dan likuid. Namun demikian, tetap perlu memperhitungkan risiko durasi, terutama pada seri tenor panjang yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Secara keseluruhan, lelang delapan seri sukuk ini menjadi barometer kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi dan stabilitas keuangan syariah Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)