KKP Tambah Kapal Patroli dan Perluas Dermaga di Batam Demi Berantas IUUF

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengambil langkah strategis dengan memperkuat armada dan infrastruktur pengawasan di Batam, Kepulauan Riau. Langkah ini bagian dari upaya memberantas praktik p...

KKP Tambah Kapal Patroli dan Perluas Dermaga di Batam Demi Berantas IUUF

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengambil langkah strategis dengan memperkuat armada dan infrastruktur pengawasan di Batam, Kepulauan Riau. Langkah ini bagian dari upaya memberantas praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak teratur (IUUF) yang merugikan negara. Dalam kunjungan kerja yang dilakukan pada akhir pekan lalu, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, meninjau langsung rencana penambahan kapal pengawas serta perluasan dermaga di pangkalan pengawasan Batam.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan meninjau fasilitas pengawasan di Batam

Penguatan fasilitas ini bukan tanpa alasan. Batam dinilai sebagai titik vital pengawasan wilayah perairan barat Indonesia yang selama ini menjadi salah satu jalur rawan pencurian ikan oleh kapal asing. Dengan menambah kapal patroli dan memperluas dermaga, KKP berharap mampu mempersempit ruang gerak pelaku IUUF yang selama ini kerap memanfaatkan celah pengawasan.

Latar Belakang dan Urgensi Perang terhadap IUUF

Praktik IUUF telah menjadi ancaman serius bagi kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan nasional. Berdasarkan data internal KKP, kegiatan ilegal tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga lebih dari Rp50 triliun per tahun. Kerugian ini bukan hanya dari segi hasil tangkapan yang hilang, tetapi juga mencakup rusaknya ekosistem laut, hilangnya potensi pendapatan negara bukan pajak (PNBP), serta ancaman terhadap kedaulatan maritim.

Di satu sisi, perkembangan teknologi dan modus operandi pelaku IUUF semakin canggih. Mereka kerap menggunakan identitas palsu, mematikan sistem pelacak, hingga melakukan bongkar muat di tengah laut untuk menghindari deteksi. Di sisi lain, armada pengawas yang ada saat ini dinilai belum sepenuhnya memadai untuk mengawasi luasnya wilayah perairan Indonesia yang mencapai 6,4 juta kilometer persegi.

Oleh karena itu, peningkatan kapasitas armada dan infrastruktur pengawasan menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Wilayah perairan sekitar Kepulauan Riau, termasuk Batam, sering menjadi titik masuk kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Natuna, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan. Dengan memusatkan kekuatan di Batam, KKP ingin menciptakan efek gentar sekaligus respons yang lebih cepat terhadap setiap indikasi pelanggaran.

Batam sebagai Pangkalan Strategis Pengawasan

Pemilihan Batam bukan tanpa perhitungan matang. Letak geografisnya yang berada di jalur pelayaran internasional sekaligus dekat dengan lokasi rawan IUUF menjadikannya pangkalan depan yang ideal. Saat ini, di Batam telah terdapat Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) yang bertugas mengoordinasikan patroli di perairan barat.

Namun, fasilitas dermaga yang ada di pangkalan tersebut dinilai masih terbatas. Dermaga hanya mampu menampung sejumlah kecil kapal pengawas dengan draft terbatas, sehingga kapal berukuran besar sering terpaksa bersandar di pelabuhan komersial. Kondisi ini menghambat kecepatan mobilisasi saat dibutuhkan pengejaran mendadak. Dengan perluasan dermaga yang direncanakan—mencakup penambahan panjang hingga 200 meter dan peningkatan kedalaman alur—kapal patroli berbagai ukuran dapat bersandar dan siap operasi kapan pun.

Detail Penambahan Kapal dan Pengembangan Dermaga

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, KKP akan segera merealisasikan penambahan lima unit kapal pengawas baru untuk memperkuat armada eksisting di Batam. Kapal-kapal itu memiliki spesifikasi beragam, mulai dari kapal jenis fast patrol boat berukuran 30 meter yang lincah mengejar kapal kecil, hingga kapal pengawas lepas pantai berukuran 60 meter yang mampu beroperasi dalam cuaca buruk dan memiliki daya jelajah lebih jauh.

Setiap kapal akan dilengkapi dengan teknologi navigasi mutakhir, sistem radar, dan peralatan komunikasi satelit yang terintegrasi dengan pusat kendali di Jakarta. Hal ini memungkinkan pemantauan real-time terhadap pergerakan kapal-kapal mencurigakan melalui sistem Vessel Monitoring System (VMS).

Sementara itu, pengembangan dermaga tidak hanya menambah panjang sandar, tetapi juga mencakup pembangunan area logistik, bengkel perawatan ringan, dan gudang penyimpanan alat tangkap sitaan. Dengan kelengkapan tersebut, proses perawatan kapal tidak lagi harus bergantung pada fasilitas di luar pangkalan, sehingga efisiensi dan kesiapan operasional meningkat signifikan. Total investasi untuk proyek ini ditaksir mencapai Rp150 miliar yang bersumber dari dana APBN dan dana hibah internasional untuk pemberantasan IUUF.

Harapan dan Dampak Ekonomi bagi Masyarakat

Penguatan pengawasan di Batam diharapkan tidak hanya efektif menekan angka pencurian ikan, tetapi juga membawa dampak ekonomi langsung bagi nelayan lokal. Selama ini, nelayan tradisional di sekitar Kepri kerap mengeluhkan sulitnya bersaing dengan kapal asing berbobot besar yang mengambil ikan di wilayah tangkap mereka. Dengan kehadiran armada patroli yang lebih responsif, nelayan lokal merasa lebih terlindungi dan optimistis hasil tangkapan akan meningkat.

“Kami sering melihat kapal besar asing masuk ke sini tanpa izin. Kalau pemerintah benar-benar menambah kapal patroli, kami sebagai nelayan kecil tentu sangat mendukung. Semoga pintu masuk pencuri ikan bisa ditutup rapat,” ujar Rahman, seorang nelayan asal Batam yang telah 20 tahun melaut.

Dari sisi makro, pemberantasan IUUF juga diyakini akan meningkatkan produksi perikanan nasional dan memperbaiki neraca perdagangan komoditas laut. KKP memproyeksikan potensi peningkatan PNBP dari sektor perikanan hingga 15 persen dalam dua tahun ke depan bila praktik ilegal dapat ditekan secara signifikan. Proyek ini juga akan membuka lapangan kerja baru saat tahap konstruksi dan operasional, memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal Batam.

Wakil Menteri Didit Herdiawan menegaskan bahwa langkah ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Kita tidak bisa lagi membiarkan laut kita dijarah tanpa perlawanan. Penguatan di Batam ini baru permulaan. Ke depan, pangkalan-pangkalan strategis lain juga akan kita modernisasi secara bertahap,” katanya menutup sesi peninjauan.

Dengan fondasi yang tengah dibangun di Batam, optimisme menyelimuti upaya perang melawan maling ikan. Kini, tantangan terbesarnya adalah memastikan seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, tanpa terhambat birokrasi. Sebab di tengah lautan, para pencuri tak pernah menunggu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User