Oct 13, 2026
Bisnis

Ketangguhan dan Kerja Keras Jadi Kunci Generasi Muda Hadapi Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional berada di kisaran 4,76 persen, dengan kontribusi signifikan dari kelompok usia muda 15–24 ...

Ketangguhan dan Kerja Keras Jadi Kunci Generasi Muda Hadapi Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional berada di kisaran 4,76 persen, dengan kontribusi signifikan dari kelompok usia muda 15–24 tahun yang mencapai sekitar 16 persen. Angka ini menjadi latar penting ketika Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyampaikan pesan kepada generasi muda di Lampung mengenai pentingnya ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan etos kerja dalam menghadapi dinamika ekonomi yang penuh ketidakpastian. Dalam sebuah forum literasi keuangan daerah, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari proses panjang yang dibangun di atas fondasi disiplin dan adaptasi.

Ancaman Ketidakpastian Ekonomi Global dan Urgensi Literasi Finansial

Di satu sisi, perekonomian Indonesia masih menunjukkan fundamental yang relatif stabil. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2024 sebesar 5,02 persen year-on-year, sementara indeks kepercayaan konsumen bertahan di zona optimistis di atas 120. Tingkat inflasi inti juga terkendali di kisaran 2,3 persen, memberi ruang bagi stabilitas daya beli masyarakat. Kondisi ini menciptakan peluang bagi anak muda untuk masuk ke pasar kerja dan sektor keuangan dengan bekal literasi yang memadai.

Di sisi lain, sentimen pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Risiko capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi perhatian serius. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan likuiditas domestik dapat memengaruhi stabilitas sektor keuangan. Dalam konteks inilah pesan Anggito mengenai ketangguhan menjadi relevan, karena generasi muda dituntut tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga luwes menghadapi perubahan tren ekonomi yang cepat.

Pentingnya Pembelajaran Berkelanjutan dan Pengelolaan Portofolio Diri

Anggito menekankan bahwa proses belajar tidak boleh berhenti setelah lulus pendidikan formal. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan pemahaman terhadap instrumen keuangan menjadi pembeda antara individu yang mampu bertahan dan yang tertinggal. Ia mengibaratkan pengelolaan diri seperti mengatur portofolio: perlu diversifikasi keterampilan, pengelolaan risiko, serta evaluasi berkala terhadap valuasi kemampuan yang dimiliki.

"Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi kemampuan bangkit dan terus belajar dari setiap kegagalan," pesannya kepada ratusan peserta forum.

Pernyataan ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 65,43 persen pada 2024, sementara indeks inklusi keuangan telah menyentuh 75,02 persen. Kesenjangan antara keduanya mengindikasikan bahwa akses terhadap produk keuangan belum sepenuhnya dibarengi pemahaman yang memadai. Bagi generasi muda, celah ini menjadi peluang sekaligus tantangan: mampu memanfaatkan akses finansial tanpa terjebak perilaku konsumtif atau investasi spekulatif.

Kerja Keras, Etika, dan Daya Saing di Pasar Tenaga Kerja

Pro: pesan kerja keras dan integritas yang disampaikan Anggito selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja yang semakin menuntut kompetensi spesifik. Survei World Economic Forum memproyeksikan bahwa 44 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2025–2030 akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan. Anak muda yang memiliki disiplin tinggi dan kemauan belajar akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Kontra: sebagian kalangan menilai bahwa kerja keras semata tidak cukup tanpa adanya struktur ekonomi yang inklusif. Ketimpangan akses pendidikan, kesenjangan infrastruktur digital antara perkotaan dan daerah, serta terbatasnya lapangan kerja formal di daerah menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diatasi hanya dengan motivasi individual. Rasio pekerja informal terhadap total pekerja nasional masih sekitar 57 persen, menandakan bahwa banyak anak muda masuk ke sektor informal dengan perlindungan sosial minimal.

Meski demikian, pesan yang dibawa Anggito menegaskan bahwa kombinasi antara ketangguhan pribadi dan dukungan kebijakan yang tepat dapat menjadi jalan tengah. LPS sendiri, sebagai lembaga penjamin simpanan, memiliki peran menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perbankan, dengan tingkat simpanan yang dijamin hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Stabilitas ini menjadi fondasi bagi generasi muda untuk berani menabung, berinvestasi secara terukur, dan membangun ketahanan finansial jangka panjang.

Ke depan, tantangan bagi anak muda bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi membangun relevansi diri di tengah perubahan lanskap ekonomi. Ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan kerja keras yang disertai integritas adalah modal dasar yang tidak lekang oleh fluktuasi indeks maupun sentimen pasar. Dengan fundamental yang terjaga dan literasi yang meningkat, generasi muda Lampung khususnya, dan Indonesia umumnya, memiliki peluang untuk menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User