FLEI Business Show dan CBE Digelar, Sektor F&B Jadi Motor Baru

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal III 2025, sektor makanan dan minuman (mamin) tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional denga...

Oct 10, 2026 - 17:07
0 0
FLEI Business Show dan CBE Digelar, Sektor F&B Jadi Motor Baru

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik per kuartal III 2025, sektor makanan dan minuman (mamin) tetap menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas yang konsisten berada di atas 30 persen. Momentum tersebut tampaknya menjadi latar belakang penyelenggaraan pameran dagang berskala besar yang resmi dibuka di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Jumat (9/10), yang mempertemukan pelaku usaha ritel, kafe, dan rantai pasok dalam satu arena bisnis terpadu.

Dua Sisi Membaca Antusiasme Pameran Usaha

Penyelenggaraan edisi ke-27 untuk segmen business show dan edisi ke-9 untuk pameran kafe dan brasserie ini menandai salah satu pertemuan dagang terbesar di kawasan Jabodetabek pada semester kedua tahun ini. Di satu sisi, tingginya partisipasi peserta mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap pemulihan konsumsi rumah tangga yang tumbuh sekitar 4,9 persen year-on-year pada periode yang sama. Sentimen pasar dinilai membaik seiring stabilnya inflasi pangan di kisaran 2,5 persen dan menguatnya indeks kepercayaan konsumen yang bertahan di zona optimistis.

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa antusiasme pameran tidak selalu berbanding lurus dengan ekspansi riil. Rasio pemanfaatan kapasitas produksi industri mamin masih berkisar 72 hingga 75 persen, jauh dari level ideal di atas 80 persen. Artinya, fundamental sektor ini masih menghadapi persoalan struktur biaya, terutama harga bahan baku impor yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan tekanan capital outflow akibat ketidakpastian kebijakan moneter global.

"Pameran seperti ini penting untuk mempercepat pertemuan antara permintaan dan penawaran, tetapi tanpa perbaikan likuiditas dan akses pembiayaan bagi UMKM, dampaknya bisa terbatas pada transaksi jangka pendek," kata seorang ekonom senior yang memantau sektor ritel dan jasa boga, tanpa menyebut identitasnya.

Peluang Rantai Pasok dan Tantangan Valuasi Usaha

Dari sisi rantai pasok, ajang ini menawarkan peluang bagi produsen peralatan, distributor bahan baku, hingga penyedia teknologi sistem kasir dan pembayaran digital. Tren kafe dan brasserie yang tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir menciptakan permintaan turunan pada mesin espresso, pendingin komersial, hingga kemasan ramah lingkungan. Proyeksi pertumbuhan segmen jasa boga diperkirakan berada di kisaran 6 sampai 7 persen per tahun hingga 2027, dengan kontribusi terbesar dari kota-kota tier satu dan kawasan penyangga ibu kota.

Namun, kontra terhadap narasi pertumbuhan tersebut, banyak pelaku usaha kafe menghadapi tekanan valuasi usaha yang tidak seimbang dengan biaya operasional. Margin kotor industri jasa boga berkisar 55 hingga 60 persen, tetapi setelah memperhitungkan sewa lokasi, tenaga kerja, dan biaya energi, margin bersih sering menyusut di bawah 10 persen. Ini menjadikan portofolio usaha kafe rentan terhadap guncangan permintaan musiman dan pergeseran preferensi konsumen yang cepat berubah.

Proyeksi dan Sikap Pelaku Pasar ke Depan

Ke depan, keberlanjutan momentum bergantung pada tiga faktor utama: konsistensi daya beli masyarakat, stabilitas pasokan bahan baku, dan kemudahan akses kredit usaha. Pemerintah telah mengalokasikan insentif bagi UMKM sektor mamin melalui program pembiayaan berbunga rendah, namun penyerapannya masih terkendala persyaratan administrasi. Dengan likuiditas perbankan yang relatif longgar dan suku bunga acuan yang diperkirakan bertahan stabil, ruang ekspansi masih terbuka lebar.

Kesimpulannya, pameran ini bukan sekadar ajang pamer produk, melainkan cermin dari dinamika sektor yang berada di persimpangan antara optimisme permintaan dan disiplin efisiensi biaya. Bagi pelaku usaha, kemampuan membaca tren dan menjaga fundamental usaha akan jauh lebih menentukan dibanding sekadar memanfaatkan sentimen pasar sesaat. Pembaca perlu mencermati perkembangan data konsumsi dan indeks harga pangan dalam beberapa bulan mendatang untuk menilai arah sektor ini secara lebih objektif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User