Era Prabowo: Danantara Bertransformasi Jadi Incaran Investor Global
Jakarta, Beritadua - Geliat investasi asing ke Indonesia menunjukkan dinamika baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mencatat lonjakan minat ya...
Jakarta, Beritadua - Geliat investasi asing ke Indonesia menunjukkan dinamika baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mencatat lonjakan minat yang signifikan dari para pemilik modal global terhadap proyek-proyek strategis nasional. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO BPI Danantara, Rosan P. Roeslani, yang menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya kini menjelma sebagai mitra strategis yang sangat diburu investor internasional.
"Kami melihat antusiasme yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam beberapa bulan terakhir, komunikasi dan due diligence yang berjalan intensif dengan puluhan institusi keuangan global. Mereka melihat Indonesia bukan lagi sekadar pasar potensial, tetapi sebagai episentrum pertumbuhan investasi di kawasan," ujar Rosan di sela-sela forum bisnis di Jakarta, Selasa (12/6).
Dari Lembaga Baru Menjadi Magnet Modal Asing
Danantara, yang dibentuk pada awal 2025 sebagai penyempurnaan dari Indonesia Investment Authority (INA), mengusung mandat yang lebih luas. Tidak hanya mengelola dana abadi (sovereign wealth fund), lembaga ini juga diberi kewenangan untuk menjadi matchmaker antara proyek-proyek kementerian/lembaga dan investor global. Berdasarkan data Kementerian Investasi per April 2026, total capital commitment yang masuk melalui pipeline Danantara mencapai USD 18,4 miliar, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year growth 187%).
Di satu sisi, angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Stabilitas politik pasca Pemilu 2024, konsistensi kebijakan hilirisasi, serta ambisi pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Prabowo menjadi katalis utama. Di sisi lain, skeptisisme tetap ada. Sejumlah analis menggarisbawahi perlunya transparansi dalam mekanisme pemilihan proyek dan pengelolaan risiko, mengingat Danantara masih berusia relatif muda.
Sektor Hijau dan Digital Jadi Primadona
Proyek-proyek yang paling diminati investor asing terkonsentrasi pada tiga sektor utama: energi terbarukan, ekonomi digital, dan hilirisasi mineral kritis. Untuk sektor hijau, Danantara tengah mengkoordinasikan pendanaan bagi pembangkit listrik tenaga surya terapung di Jawa Barat berkapasitas 2,5 gigawatt dan jaringan transmisi hijau antar-pulau. Sementara di ranah digital, pembangunan pusat data nasional senilai USD 3,2 miliar menarik perhatian sovereign wealth fund dari Timur Tengah dan dana pensiun Eropa.
"Investor kini mencari aset riil dengan imbal hasil jangka panjang yang stabil. Proyek infrastruktur digital dan transisi energi Indonesia menawarkan profil risiko-imbalan yang sulit ditandingi di pasar berkembang lain," jelas Rosan. Meski demikian, ia mengakui tantangan dari sisi regulatory bottleneck dan kebutuhan akan insentif fiskal yang lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam atau India.
"Pemerintah harus memastikan bahwa setiap proyek yang dijajakan melalui Danantara memiliki struktur hukum yang solid. Investor besar tidak segan mundur jika ada ketidakjelasan dalam aspek kepemilikan lahan atau mekanisme off-take," kata Senior Economist Bank Sentral Asia, Prof. Hendra Wijaya, dalam wawancara terpisah.
Dua Sisi Koin: Optimisme vs Kekhawatiran Struktural
Pro: Masuknya modal asing melalui Danantara berpotensi menciptakan efek berganda yang masif. Setiap USD 1 miliar investasi di sektor infrastruktur diperkirakan dapat menghasilkan 120.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung, sekaligus mendongkrak produk domestik bruto (PDB) sektor konstruksi dan manufaktur pendukung. Di samping itu, kehadiran investor global mendorong transfer teknologi dan peningkatan standar tata kelola korporasi (GCG) di tingkat proyek.
Kontra: Namun demikian, konsentrasi arus modal asing yang terlalu besar ke instrumen ekuitas proyek strategis menyimpan risiko capital outflow mendadak jika terjadi perubahan sentimen pasar global. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) beberapa BUMN yang terlibat dalam proyek konsorsium juga perlu dicermati agar tidak menimbulkan risiko fiskal tersembunyi. Valuasi proyek yang terlalu optimistis di awal dapat berujung pada stranded assets jika proyeksi permintaan meleset.
Dari sisi makro, Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masuk (capital inflow) ke portofolio dan investasi langsung pada kuartal I-2026 mencapai Rp 98,7 triliun, didominasi oleh sektor riil melalui skema Danantara. Angka ini membantu memperkuat cadangan devisa yang kini bertengger di USD 152 miliar. Meski begitu, sentimen pasar masih rentan terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan eskalasi geopolitik di Laut Cina Selatan.
Ke depan, proyeksi Danantara dipatok mampu mengelola dana kelolaan hingga USD 100 miliar pada 2030, sejalan dengan target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi. "Kami tidak hanya mengejar angka, tetapi memastikan setiap investasi yang masuk memberikan dampak nyata bagi transformasi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat," tutup Rosan. Dengan dukungan penuh Presiden Prabowo, Danantara optimistis mampu menjadi garda terdepan Indonesia dalam menarik investasi global yang berkualitas dan berkelanjutan.
Baca juga:
Comments (0)