Ekonomi Lokal Lombok Menggeliat Jelang Grand Prix 2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal II 2026, sektor akomodasi dan makanan-minuman di kawasan Lombok mencatat pertumbuhan 8,7 persen year-on-year, jauh...

Oct 09, 2026 - 19:20
0 0
Ekonomi Lokal Lombok Menggeliat Jelang Grand Prix 2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal II 2026, sektor akomodasi dan makanan-minuman di kawasan Lombok mencatat pertumbuhan 8,7 persen year-on-year, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 4,9 persen. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, yang akan digelar di Sirkuit Mandalika, mulai memberikan dorongan nyata terhadap perekonomian daerah jauh sebelum bendera start dikibarkan.

Sport tourism atau pariwisata olahraga bukanlah konsep baru dalam peta ekonomi Indonesia. Namun, dampaknya terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar venue menjadi indikator paling relevan untuk mengukur seberapa merata manfaat yang tercipta. Dalam konteks Lombok, geliat ini terlihat dari meningkatnya okupansi hotel, permintaan jasa transportasi, hingga lonjakan pesanan kerajinan lokal khas Sasak.

Pro: Multiplier Effect dan Serapan Tenaga Kerja

Di satu sisi, kehadiran event berskala internasional seperti MotoGP memberikan multiplier effect atau efek berganda yang signifikan. Setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan, menurut kajian sektor pariwisata, berpotensi berputar hingga 2,5 hingga 3 kali di dalam ekonomi lokal sebelum akhirnya keluar dari wilayah tersebut. Efek ini terasa paling kuat pada sektor jasa, perdagangan ritel, dan kuliner.

"Event internasional menciptakan lonjakan permintaan yang bersifat sementara, tetapi jika dikelola dengan baik, infrastruktur dan kapasitas pelaku usaha yang terbangun akan bertahan jauh setelah event berakhir," ujar seorang ekonom pariwisata dari sebuah lembaga riset independen di Jakarta.

Dari sisi ketenagakerjaan, BPS NTB mencatat penyerapan tenaga kerja di sektor jasa akomodasi naik 6,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka pengangguran terbuka di kawasan Lombok Tengah, lokasi Sirkuit Mandalika, turun dari 5,1 persen pada 2024 menjadi 4,3 persen pada 2026. Ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi tidak sekadar narasi, melainkan terukur melalui data makro ketenagakerjaan.

Selain itu, proyeksi penerimaan devisa dari kunjungan wisatawan mancanegara selama periode event diperkirakan menembus Rp1,8 triliun, dengan kontribusi terbesar dari sektor akomodasi dan belanja ritel. Portofolio investasi di sektor perhotelan pun mengalami kenaikan, tercermin dari bertambahnya 1.200 kamar baru di kawasan Mandalika dan sekitarnya sepanjang 2025 hingga 2026.

Kontra: Risiko Overcapacity dan Ketimpangan Manfaat

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa lonjakan ekonomi yang bersifat musiman berpotensi menciptakan overcapacity atau kelebihan kapasitas setelah event usai. Fenomena ini pernah terjadi di beberapa destinasi sport tourism dunia, di mana okupansi hotel anjlok drastis pasca-event dan berujung pada tekanan likuiditas bagi pelaku usaha yang berutang untuk ekspansi.

Rasio okupansi hotel di Lombok, yang saat ini berada di level 72 persen menjelang event, diproyeksikan turun kembali ke kisaran 48 hingga 52 persen pada kuartal setelahnya. Jika pelaku usaha tidak mengantisipasi siklus ini, risiko kredit macet dan penurunan valuasi aset properti menjadi ancaman nyata.

"Sentimen pasar memang positif, tetapi fundamental ekonomi lokal harus tetap dijaga. Jangan sampai euforia event membuat pelaku usaha mengambil utang berlebihan tanpa perhitungan arus kas jangka panjang," ujar seorang pengamat ekonomi regional.

Kekhawatiran lain adalah ketimpangan manfaat. Pelaku usaha besar dengan akses modal dan jaringan luas cenderung menyerap porsi terbesar dari belanja wisatawan, sementara UMKM di pelosok Lombok masih terkendala akses pembiayaan dan pemasaran digital. Data OJK menunjukkan bahwa penyaluran kredit UMKM di NTB baru mencapai 19,4 persen dari total kredit perbankan daerah, masih di bawah target nasional sebesar 30 persen.

Proyeksi dan Sikap Pelaku Pasar

Melihat dua sisi tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Lombok untuk 2026 berada di kisaran 5,8 hingga 6,3 persen, lebih tinggi dari proyeksi nasional. Namun, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dan pelaku usaha dalam menjaga momentum, memperkuat infrastruktur pendukung, serta memastikan inklusi ekonomi bagi UMKM.

Dari sisi pasar keuangan, capital outflow dari sektor properti komersial di kawasan wisata menjadi perhatian, meski dampaknya masih terbatas. Likuiditas perbankan daerah terpantau cukup longgar dengan rasio loan-to-deposit sebesar 84 persen, memberikan ruang bagi ekspansi kredit produktif.

Pada akhirnya, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 bukan sekadar ajang balap. Ia adalah katalis ekonomi yang menuntut pengelolaan cermat agar lonjakan sesaat berubah menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan. Baik optimisme maupun kehati-hatian sama-sama memiliki dasar data yang kuat, dan keseimbangan di antara keduanya akan menentukan warisan ekonomi bagi Lombok pasca-event.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User