Dosen Filsafat UIN Malang Kritik Minimnya Kajian Etika Digital

MALANG — Dosen Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Zainal Habib, mengecam rendahnya porsi kajian etika digital dalam kuri

Dosen Filsafat UIN Malang Kritik Minimnya Kajian Etika Digital
MALANG — Dosen Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Zainal Habib, mengecam rendahnya porsi kajian etika digital dalam kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial tidak dibarengi dengan literasi moral yang memadai, sehingga melahirkan krisis nilai di kalangan generasi muda.

Pernyataan itu disampaikan Zainal dalam seminar nasional bertajuk “Filsafat Teknologi dan Masa Depan Manusia” di Aula Rektorat UIN Malang, Rabu (12/3). Di hadapan 200 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan praktisi teknologi, ia memaparkan data bahwa hanya 17% dari total mata kuliah di program studi filsafat dan ilmu humaniora di Indonesia yang secara spesifik membahas etika digital. Angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan universitas di Eropa yang mencapai 62%.

“Kita sibuk mengadopsi teknologi digital, tapi lupa bertanya: untuk apa dan dengan cara apa? Filsafat adalah alat kritis yang justru paling dibutuhkan di era disruptif ini,” tegas Zainal, seperti dikutip dalam rilis yang diterima Beritadua.com.

Analisis: Kesenjangan Kurikulum dan Realitas Teknologi

Kritik Zainal menyoroti ketimpangan antara kecepatan inovasi teknologi dengan kesiapan institusi pendidikan dalam menyediakan kerangka etis. Ia menyebut bahwa banyak universitas lebih fokus pada keterampilan teknis—seperti coding, data science, dan machine learning—sementara aspek filosofis, termasuk dampak sosial dan moral dari AI, hanya menjadi pelengkap.

Zainal mencontohkan kasus penyebaran disinformasi yang masif selama Pilkada 2024. “Tanpa pemahaman etika digital, algoritma justru menjadi alat polarisasi. Filsafat mengajarkan bagaimana manusia tetap menjadi subjek, bukan objek dari teknologi,” ujarnya. Ia juga mengkritik kecenderungan kampus yang menjadikan filsafat sebagai “ilmu yang usang” padahal nilai-nilai kritisisme, fenomenologi, dan eksistensialisme justru sangat relevan dalam membaca fenomena deepfake, data mining ilegal, dan monopoli platform digital.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa semester akhir, Rizky, melontarkan pertanyaan apakah filsafat bisa bersaing dengan ilmu terapan dalam menjawab kebutuhan industri. Zainal menjawab dengan tegas: “Justru filsafat adalah ‘industri pemikiran’—ia tidak menghasilkan barang konsumtif, tapi menghasilkan cara berpikir yang membuat ilmu lain tidak kehilangan arah. Tanpa etika digital, AI bisa menjadi monster Frankenstein.”

Untuk memperkuat argumennya, Zainal menyajikan perbandingan sederhana antara pendekatan beberapa negara dalam mengintegrasikan filsafat ke dalam kurikulum teknologi:

Negara / Wilayah Bobot Mata Kuliah Etika Digital (%) Keterangan
Indonesia 17% Mayoritas sebagai mata kuliah pilihan di Fakultas Filsafat/Sosial
Jerman 58% Wajib di semua prodi teknik dan informatika
Jepang 45% Terintegrasi dalam mata kuliah Humaniora Digital
Amerika Serikat 62% Banyak universitas memiliki pusat studi etika AI khusus

Data di atas, menurut Zainal, menunjukkan bahwa Indonesia masih terbelakang dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya cakap teknis tetapi juga matang secara moral. Ia mendorong Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk mewajibkan mata kuliah etika digital di semua program studi, minimal 3 SKS.

“Filsafat bukan hanya untuk filsuf. Setiap mahasiswa teknik, kedokteran, atau hukum perlu diajak berpikir: apa makna kebenaran di era AI? Bagaimana keadilan dalam algoritma? Tanpa itu, kita hanya menciptakan robot tanpa jiwa dan manusia tanpa hati,” kata Zainal, yang juga menulis buku “Filsafat Teknologi untuk Pemula” terbitan Gramedia.

Seminar tersebut dihadiri pula oleh Rektor UIN Malang, Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA, yang dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif Zainal. “Perguruan tinggi harus menjadi mercusuar etika di tengah banjir informasi. UIN Malang akan mendorong pengembangan mata kuliah etika digital sebagai mata kuliah wajib lintas fakultas,” janjinya.

Ke depan, Zainal berencana membentuk “Forum Etika Digital Indonesia” yang akan terdiri dari filsuf, aktivis, dan pengembang teknologi untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan. Forum ini diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri digital.

FAQ

## Tags: Etika Digital, Filsafat Teknologi, UIN Malang, Pendidikan Tinggi, Kecerdasan Buatan [SOCIAL_FB]: Apakah kurikulum kampus kita sudah siap menghadapi revolusi AI? Dosen Filsafat UIN Malang, Zainal Habib, mengungkap fakta mengejutkan: hanya 17% program studi di Indonesia yang secara spesifik mengajarkan etika digital. Padahal di Jerman dan AS angkanya di atas 50%. Baca analisis lengkapnya di Beritadua.com – bagaimana filsafat bisa menyelamatkan kita dari “monster Frankenstein” teknologi. Share pendapat kamu![SOCIAL_THREADS]: Baru baca riset: kurikulum kampus Indonesia paling minim dalam hal etika digital dibanding Jerman, Jepang, AS. Dosen filsafat UIN Malang bilang kita sedang menciptakan "robot tanpa jiwa". Setuju nggak kalau etika digital harus diwajibkan di semua prodi? 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User