Friday, 03 July 2026
CariTentang

Sharing Alumni Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta: Menulis Sebagai Sarana Berdampak untuk Bersuara

Pada hari Senin, 21 Juli 2025 kemarin menjadi momen istimewa bagi saya. Sebagai alumni dari Rumah Kepemimpinan Angkatan 5, saya diberi kesempatan untuk berbagi dalam acara pengembangan kapasitas peserta Rumah Kepemimpinan angkatan 12. Rumah Kepemimpinan merupakan program beasiswa untuk mahasiswa/i terbaik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), di mana salah satunya adalah Universitas Indonesia. Ketika saya datang untuk berbagi, jadi teringat banyak sekali memori pada saat saya dulu menjadi peserta. Jujur, menjadi alumni Rumah Kepemimpinan merupakan satu anugerah besar yang saya dapatkan dari Allah SWT, karena saya dapat dipertemukan dengan teman – teman yang sangat positif dan berorientasi pada karya. Banyak pembelajaran dari Rumah Kepemimpinan dulu yang masih saya terapkan, bahkan hingga saat ini.

Suasana sharing alumni di Auditorium Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

Tema sharing alumni pada sesi kali merupakan tema yang cukup sederhana, namun fundamental: Bagaimana agar seorang intelektual atau SDM strategis berani “bersuara” di berbagai media. Maksud “bersuara” di sini adalah keberanian dalam menyampaikan gagasan untuk membuat bangsa Indonesia ini menjadi lebih baik. Bersuara ini bisa melalui berbagai macam platform, baik itu melalui media massa, sosial media, buku, blog, dan masih banyak lagi. Pertanyaan besarnya adalah: suara apa yang harus mulai saya kemukakan? Dan… bagaimana caranya agar suara saya ini menarik? Lebih jauh lagi, bagaimana agar saya tetap konsisten dalam “bersuara”, walaupun suatu saat lulus dari Rumah Kepemimpinan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya memulai dengan menceritakan kisah saya saat masih menjadi peserta Rumah Kepemimpinan dulu di tahun 2010. Masa itu merupakan fase awal saya dalam mengenal diri dan mencoba mencari sebenarnya saya siapa, dan ingin berkontribusi di bidang apa? Parahnya lagi, waktu itu saya sempat merasa insecure karena teman – teman seangkatan saya sudah menemukan potensi dirinya, dan sudah panen prestasi selama masa pembinaan. Padahal, waktu itu saya sudah mencoba mengeksplorasi apa saja kompetensi saya, passion saya, dan sudah berusaha sekeras mungkin untuk mengejar berbagai macam prestasi dan “suara” yang ingin saya gaungkan. Apa daya, di wall of achievement peserta pada waktu itu, saya merupakan salah satu peserta yang paling sepi prestasinya. Lomba kalah terus, menulis di media massa ditolak terus, dan membuat saya semakin insecure rasanya.

Selama setahun saya mengalami hal tersebut, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan berpikir sejenak. Pada momen tersebut, saya mencoba untuk membuka kembali Al Quran dengan lebih dalam, serta buku – buku pengembangan diri islami. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa pada waktu itu saya berfokus kepada prestasi yang ingin saya kejar, saya terlalu berfokus ingin berprestasi, saya terlalu berfokus meninggikan ego, dan saya terlalu fokus untuk membuat suara saya didengar, padahal saya bukan siapa – siapa. Ah, ya… sepertinya saya terlalu ingin mendapatkan pujian dan tepuk tangan dari manusia…. Kesibukan saya membentuk personal branding, membuat saya lupa bahwa sesungguhnya saya adalah: Hamba Allah SWT.

Sejak saat itu, saya pun menyadari bahwa paradigma saya dalam berprestasi tergelincir niatnya. Saya pun kemudian mulai berangsur mengubah pandangan saya: Manusia hidup adalah untuk mempersiapkan amal ibadah yang bisa menjadi bekal setelah kematiannya, maka dari itu yang harus kita berikan impresi adalah Allah SWT, bukan hanya semata – mata manusia (Baca lebih lengkap di QS. Al-A’raf: 172). Dengan menggunakan prinsip ini, hati saya kemudian menjadi tenang. Saya menjadi lebih ‘masa bodoh’ terhadap pujian atau apresiasi orang terhadap saya. Saya jauh lebih menghargai proses dengan niat yang tulus. Sebuah proses ikhtiar yang diucapkan dengan bismillah, dilakukan dengan usaha terbaik dan terhindar dari hingar bingar dunia, terlepas dari hasilnya. Karena, hasil dari ikhtiar merupakan hal terbaik yang diberikan Allah SWT untuk kita. Hasil terbaik ini, terkadang beda standarnya dengan hasil terbaik yang diberikan manusia. Sejak saat itulah, saya akhirnya tidak lagi memusingkan prestasi apa yang ingin saya raih, pujian orang apa yang ingin saya dapatkan, namun saya mulai berfokus pada: memberikan amalan ibadah terbaik sebagai bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Hal itu kemudian membuat saya mengubah bagaiamana saya “bersuara”. Jika tadinya saya bersuara karena ingin dikatakan hebat, maka sekarang saya “bersuara” karena ingin mempersembahkannya untuk Allah SWT. Salah satu caranya adalah saya membuat suara – suara tandingan (sesuai dengan kemampuan saya) terhadap suara – suara yang dianggap benar, namun jika ditelusuri lebih jauh ternyata jauh dari kebenaran. Seperti misalnya, pada waktu itu di tahun 2012 – 2014 banyak sekali kelas – kelas kewirausahaan untuk mahasiswa yang mengatakan bahwa: apabila mahasiswa ingin sukses berbisnis dan menjadi kaya, maka fokus aja karena banyak pengusaha sukses itu DO. Dan apakah ada yang mengikutinya? Banyak. Hasilnya? Banyak mahasiswa yang kuliahnya kemudian berantakan, dan bisnisnya juga stuck atau tidak berkembang. Akhirnya banyak mahasiswa yang kuliah tidak lulus, bisnisnya pun bangkrut.

Maka pada tahun 2012, saya membuat blog (cikal bakal dari blog ini) untuk memberikan suara tandingan terhadap hal tesebut. Suara yang ingin saya sampaikan adalah, ‘Dalam berwirausaha, sukses dengan menjadi kaya bukanlah segalanya, tetapi juga kita perlu menjaga keberkahan dalam menjalankannya’. Apa implikasinya? Maka apabila kita masih mahasiswa, maka kita selesaikan dulu amanah yang kita emban. Kita berikan yang terbaik dalam menuntut ilmu, sambil tetap memberikan yang terbaik dalam mengelola bisnis. Jangan lupakan waktu shalat dan terus berdoa agar kuliah dan bisnis tetap berkah, sehingga kita biarkan Allah SWT yang menuntun ikhtiar kita agar sukses dan berkah untuk keduanya. Konsep ini kemudian saya kemas dengan tulisan – tulisan dengan topik Studentpreneur yang ada di kategori blog ini. Qadarullah, selang 6 bulan saya rutin menulis terkait dengan topik Studentpreneur tersebut, pihak penerbit GagasMedia menghubungi saya karena katanya tertarik dengan gagasan yang saya tuliskan di blog ini. Jadilah kemudian buku Studentpreneur Guidebook yang terbit tahun 2013 dan menjadi buku best-seller. Inilah keajaibannya: dulu saya benar – benar kebingungan untuk bagaimana menerbitkan buku secara nasional. Sekarang, malah saya dikejar – kejar penerbit! Itulah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Kadang kita terlalu fokus pada ikhtiar kita, sehingga kita lupa bahwa ada kekuatan yang Maha Besar yang membuat dunia itu mengejar – ngejar diri kita dari arah yang tidak disangka – sangka.

Prinsip – prinsip di atas masih saya gunakan bahkan ketika saya lulus dari Rumah Kepemimpinan dan Universitas Indonesia sebagai alumni. Setelah buku Studentpreneur Guidebook, saya kemudian berkolaborasi bersama istri saya untuk menulis Happy Life Guidebook. Di buku ini, saya dan istri mengkritik (dengan nada sehalus puding) standar – standar kebahagiaan semu yang ada di social media dan menegaskan bahwa hidup yang tenang dan bahagia sejatinya hanya bisa dicapai jika kita kembali kepada identitas fitrah kita sebagai Hamba Allah SWT yang senantiasa mengerjakan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Saya kemudian mengakhiri sesi ini dengan mengajak para peserta untuk merefleksikan apakah ada standar – standar kebenaran semu yang berkembang hari ini namun sebenarnya sedang mengajak orang untuk menjadi dari Quran dan Hadits. Sesi sharing ini kemudian saya tutup dengan menantang peserta dengan membuat rencana suara apa yang ingin mereka sampaikan sebagai seorang pejuang muslim, di mana suaranya lantang, berpengaruh, namun lurus, benar, dan bernilai akhirat.

Semoga sesi singkat dan sederhana ini bisa menjadi pengingat bahwa begitu banyak dibutuhkan orang – orang yang berani menyuarakan kebenaran, apalagi dalam kondisi saat ini. Ada begitu banyak contoh yang ditunjukkan secara umum, betapa lucunya bagaimana Indonesia banyak menggunakan standar – standar ganda dalam melihat apa itu suatu kebenaran. Semoga, dengan kesadaran penuh bahwa diri kita merupakan hamba Allah SWT, dari setiap kata yang kita tulis, setiap suara yang kita gaungkan dengan menggunakan platform apapun akan selalu menjadi bagian dari amal sholeh dan amal jariyah yang dapat mengantarkan kita ke Surga Allah SWT.

Foto bersama peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan 12

Oh ya, saya juga melampirkan slide pemaparan di bagian akhir dari tulisan ini. Siapa tahu bermanfaat dan ada yang membutuhkan.

250721-Ksatria-dan-Tiara-Bersuara

Salam,
Arry Rahmawan Destyanto

The post Sharing Alumni Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta: Menulis Sebagai Sarana Berdampak untuk Bersuara first appeared on Arry Rahmawan Destyanto.

Sumber: Arry Rahmawan

a
admin⏱ 7 menit baca

admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar