Friday, 03 July 2026
CariTentang

Biaya Admin Marketplace Dikeluhkan, UMKM Kembali Jualan Offline

Owner Maira Singaraja, Made Liyadi, mengaku mulai merasakan besarnya potongan yang diterima dari setiap transaksi di marketplace. Ia bahkan baru menyadarinya setelah membandingkan uang yang masuk ke rekening dengan harga jual produknya. "Baru waktu ini saya kaget, kok uang yang masuk sedikit sekali. Ternyata potongannya sekarang jauh lebih besar," ujarnya kepada NusaBali.com, dihubungi Jumat (3/7/2026). Ia mencontohkan, produk yang dijual seharga Rp35.000, hanya menghasilkan penerimaan sekitar Rp25.000 setelah dipotong berbagai biaya. Padahal sebelumnya, nominal yang diterima sesuai dengan harga yang tercantum di katalog. Meski demikian, Liyadi mengaku penjualan melalui marketplace masih sangat kecil. Dalam sebulan, transaksi hanya sekitar tiga hingga empat pesanan karena belum memiliki tim khusus yang mengelola konten maupun siaran langsung (live). Dengan kondisi tersebut, ia memilih tetap memprioritaskan penjualan melalui toko-toko offline. Menurutnya, penjualan offline lebih menguntungkan karena pembayaran diterima lebih cepat. Sebaliknya, di marketplace dana baru masuk setelah barang diterima konsumen dan tidak ada komplain. "Kalau di toko, rata-rata beli putus. Paling lama seminggu sudah dibayar. Jadi saya masih lebih fokus ke offline," katanya. Pandangan serupa disampaikan Owner keripik talas Krilazz, Luh Putu Heryana Pusparini. Ia mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kenaikan biaya admin marketplace karena biaya tersebut langsung diperhitungkan ke dalam harga jual. "Kalau admin naik, saya naikkan harga saja. Saya anggap sama seperti biaya menjual ke toko retail," ujarnya. Menurutnya, harga produk di marketplace memang disusun berbeda dengan penjualan langsung. Selain memperhitungkan biaya admin, harga juga sudah memasukkan ongkos kemasan. Saat ini produknya dijual Rp20.000 per bungkus di marketplace. Namun dari harga tersebut, dana yang diterima hanya sekitar Rp15.000 setelah dipotong berbagai biaya. Meski demikian, Pusparini menilai persoalan utama bukan besarnya biaya admin, melainkan bagaimana pelaku usaha membangun pasar sendiri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada marketplace. Ia mengibaratkan marketplace sebagai "rumah orang" yang memiliki aturan sendiri sehingga pelaku usaha harus mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku. Karena itu, ia berupaya mengarahkan pelanggan yang sudah mengenal produknya untuk bertransaksi langsung melalui WhatsApp atau media sosial agar biaya yang ditanggung konsumen lebih efisien. Penjualan melalui marketplace masih memiliki potensi memperluas pasar. Namun besarnya potongan biaya layanan membuat mereka harus menghitung ulang strategi penjualan agar keuntungan usaha tetap terjaga. *may

Sumber: Nusa Bali Musik

a
admin⏱ 2 menit baca

admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar